Ejakulasi Dini Rupiah di “Ranjang” USDEjakulasi Dini Rupiah di “Ranjang” USD

Ekonomi nasional bagian dari mesin global. Harga minyak Teluk Persia menentukan harga beras di Medan. Keputusan bank sentral AS mengubah cicilan rumah di Surabaya.
ADA masa ketika nilai tukar rupiah melayang—kita tak boleh anggap enteng karena ia denyut nadi bangsa. Rupiah hari ini di titik yang membuat kita sesak napas. Mei 2026, kurs BI bergerak di Rp17.400 per dolar AS—level terlemah sepanjang sejarah modern republik ini. Pasar gelisah. Pemerintah mencoba tenang. Tapi layar perdagangan tak pernah bisa berpura-pura.
Bukan hiperinflasi seperti era Orde Lama. Bukan pula sistem perbankan runtuh seperti 1998. Kali ini penyebabnya lebih ganjil: perang ribuan kilometer dari Jakarta, efeknya menembus dapur rakyat. Konflik Iran-Israel, ancaman penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga minyak, dan suku bunga tinggi AS menciptakan prahara bagi negara berkembang. Investor global berlarian ke dolar AS seperti manusia mencari bunker saat sirene perang berbunyi.
Ironisnya, fundamental ekonomi Indonesia sesungguhnya tidak sedang sekarat. Cadangan devisa masih relatif tebal. Inflasi masih terkendali di kisaran target Bank Indonesia. Perbankan jauh lebih sehat dibanding menjelang kejatuhan Soeharto. Rasio kecukupan modal perbankan tetap tinggi. Kredit bermasalah masih terjaga. APBN memang tertekan, tetapi belum kehilangan disiplin fiskal sepenuhnya.
Namun pasar modern tak lagi bergerak hanya berdasarkan fundamental. Pasar bergerak berdasarkan ketakutan.
Sejarah rupiah memang tentang trauma masa lalu. Pada akhir 1960-an, setelah transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, rupiah sudah berada dalam kondisi compang-camping akibat inflasi akut dan kekacauan ekonomi. Orde Baru kemudian membangun stabilitas melalui booming minyak, ekspor komoditas, dan sentralisasi kekuasaan. Indonesia bahkan menikmati masa keemasan sebagai eksportir minyak utama Asia Tenggara.
Kredit murah mengalir tanpa kontrol, utang luar negeri membengkak, kroniisme menjadi fondasi ekonomi senyap. Ketika krisis Asia 1997 menghantam, semua borok itu pecah bersamaan. Rupiah dari Rp2.300 meledak ke Rp17.000 per dolar AS. Dalam hitungan bulan, tabungan lenyap, perusahaan ambruk, bank kolaps, dan rezim Soeharto tumbang bersama kehancuran mata uangnya.
Kini situasinya berbeda. Rupiah melemah ketika ekonomi domestik justru relatif lebih stabil. Ini yang membuat kondisi sekarang terasa absurd. Indonesia tidak sedang menghadapi kerusuhan massal. Tidak ada bank-bank antre dilikuidasi. Tidak ada inflasi ratusan persen. Tetapi rupiah tetap impoten menghadapi gelombang global.
Inilah paradoks ekonomi abad ke-21: sebuah negara bisa sehat, tetapi mata uangnya tetap tersungkur karena dunia sedang demam.
Di era Soeharto, kehancuran rupiah dipercepat oleh korupsi struktural dan sistem ekonomi yang rapuh. Di era Prabowo, tekanan terhadap rupiah lebih menyerupai collateral damage dari perang geopolitik dan dominasi dolar global. Amerika Serikat, lewat Federal Reserve, tetap mempertahankan suku bunga tinggi demi menjinakkan inflasi mereka sendiri. Akibatnya, modal asing meninggalkan negara berkembang dan kembali ke obligasi AS.
Ketika dolar menjadi terlalu kuat, seluruh dunia dipaksa ikut melemah.
Dan Indonesia tidak punya cukup kuasa untuk melawan arus itu.
Karena itu, pelemahan rupiah hari ini bukan cuma soal kurs. Ia simbol betapa ekonomi nasional telah menjadi bagian dari mesin global yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan pemerintah mana pun. Harga minyak di Teluk Persia bisa menentukan harga beras di Medan. Keputusan bank sentral Amerika bisa mengubah cicilan rumah tangga di Surabaya. Perang ribuan kilometer jauhnya dapat menggerus nilai tabungan kelas menengah Indonesia.
Kita hidup di zaman ketika kedaulatan ekonomi makin tipis.
Dan di tengah situasi itu, rupiah mengalami “ejakulasi dini”: melemah terlalu cepat sebelum ekonomi domestik benar-benar runtuh. Ia kehilangan stamina bahkan sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai. Bukan karena Indonesia bangkrut; ini karena sistem global terlalu mudah panik, terlalu cepat bereaksi, dan terlalu tunduk pada dolar AS.
Soeharto jatuh ketika rupiah runtuh akibat penyakit dari dalam negeri. Prabowo—menantunya—menghadapi rupiah melemah akibat badai dari luar negeri. Dua zaman, dua penyebab, tetapi satu korban tetap sama: rakyat yang harus membayar harga paling mahal.
Dan seperti biasa, ketika rupiah terguncang, yang pertama berteriak “ampun” bukan bursa saham, bukan pula dapur MBG, melainkan dapur rumah tangga kita yang tak bertenaga—seperti ejakulasi dini rupiah di “ranjang” dolar AS.































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda