Breaking News
Memuat breaking news...

EMAK (1) CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Senin, 8 Juni 2026 - 3.05 PM WIB
EMAK (1) CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI

Dalam cerpen EMAK, Agusni AH mengapungkan kerinduan yang nyaris tak bertepi. Dari selembar mukena yang terdiam di sudut ruang, lahir gelombang kenangan yang membawa pembaca berlayar ke masa lalu, menelusuri jejak kasih seorang ibu yang tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika waktu telah menjauhkannya dari dunia. Cerpen ini bukan sekadar kisah tentang kehilangan, melainkan juga tentang cinta yang terus tinggal dan berdenyut di dalam hati anaknya. Pembaca bisa menyimak karya Agusni AH berikut ini:

E M A K (1)

SEJAK sepuluh bulan terakhir mukena itu tak ada yang menyentuh.

Debu halus melumuri lipatan-lipatannya yang masih tersusun rapi di sudut kamar. Warnanya yang dulu putih kini tampak kusam. Bintik-bintik hitam mulai terlihat di bagian permukaannya, seolah waktu ikut menumpang beristirahat di sana. Mataku tertumbuk mengamatinya lekat-lekat tanpa memegang, tanpa memindahkan, tanpa mengambilnya untuk dimasukkan ke mesin cuci. Aku hanya melihat saja.

Mukena itu memang benda, diam.

Namun di mataku, ia sangat berart. Ia adalah album kenangan. Satu-satunya yang bersisa, ia adalah visualisasi yang mengintegrasi masa dulu hingga kini di mataku selalu hidup mewarta di pikiranku tak pernah lekang. Tatkala aku rindu cukup mengamatinya saja.

Setelah puas memandangi dan membiarkan seluruh ingatan mengalir kembali kepada kenangan tentang Emak, barulah aku beranjak pergi. Terkadang aku pulang ke rumah hanya untuk memandangi mukena itu. Setelah selesai bertemu kenangan, aku pergi kembali.

Pekerjaanku berada di kota lain.

Paling cepat sepekan aku pulang. Kadang dua pekan baru sempat kembali. Rumah tua itu tetap berdiri sebagaimana adanya. Sunyi. Hening. Seolah sedang menjaga sesuatu yang tak ingin dilupakan.

Dan setiap kali aku membuka pintu kamar Emak, mukena itu selalu menjadi benda pertama yang kucari.

Aku masih ingat bagaimana Emak mengenakan mukena itu setiap

memasuki waktu shalat, terutama pada subuh. Aku yang masih kecil sering terbangun oleh suara langkahnya yang pelan. Bunyi sandal yang diseret perlahan menuju kamar mandi. Gemericik air wudhu kerap memecahkan lamunan, bahkan saat-saat terlelap aku acap bangun segera. Apalagi ketika lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang lirih dari ruang tengah. "Bangunlah, Nak. Jangan biasakan tidur sampai matahari tinggi," kata Emak suatu pagi sambil mengusap rambutku.

Saat itu aku belum memahami apa-apa.

Aku hanya tahu bahwa setiap kali terbangun di waktu gelap, selalu ada satu sosok yang sedang berdoa untukku.

"Tahukah, Nak...dua raka't sebelum shalat Subuh itu melebih isi sedunia ?" Emak menyadarkanku suatu kali. Walau awalnya aku sempat menggerutu di antara rasa kantukku yang teramat susah membuka mata.

Namun Emak tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum, lalu meletakkan secangkir teh hangat di meja.

"Akan datang masa ketika kau rindu dibangunkan. Dan masa itu jauh lebih tak enak dari tidurmu yang sia-sia."

Aku hanya cengengesan waktu itu.

Kupikir perkataan Emak hanya nasihat biasa.

Kini aku tahu, ada kalimat yang baru terasa maknanya setelah pemilik suara itu tiada.

Kenangan lain datang seperti hujan yang turun tanpa diundang, beku seperti sebuah rasa dingin yang menusuk tulang hingga sumsumku.

Demikian halnya tentang sore-sore ketika aku pulang sekolah.

Emak selalu menungguku di seuramo rumah tua.

Kadang dengan sepiring eungkhui atau liempeng bercampur kelapa kukur.

Kadang dengan segelas kopi.

Kadang hanya dengan senyum.

Aneh memang, dulu aku menganggap semuanya biasa.

Kini aku sadar, tidak ada yang biasa dari seseorang yang selalu menunggu kepulangan anaknya.

Ketika aku mulai merantau, Emak tetap sama.

Setiap kali menelepon, pertanyaan yang keluar selalu itu-itu saja.

"Sudah makan ?"

"Jangan lupa salat."

"Jaga kesehatan."

Aku sering menjawab singkat.

Bahkan terkadang tergesa-gesa ingin mengakhiri percakapan.

Pekerjaan terasa lebih penting.

Pertemuan terasa bisa ditunda.

Pulang terasa bisa nanti saja.

Bukankah rumah akan selalu ada ?

Bukankah Emak akan selalu menunggu ?

Suatu malam aku pulang tanpa memberi kabar.

Aku ingin membuat kejutan.

Ketika membuka pintu rumah, kulihat lampu ruang tengah masih menyala.

Di sudut ruangan, Emak sedang duduk membaca Al-Qur'an dengan mukena putih itu.

Mukena yang kini berdebu dan berubah warna di hadapanku.

Aku mendekatinya dari belakang.

"Assalamu'alaikum, Mak."

Emak terkejut lalu tertawa kecil.

"Kau ini. Bikin jantungan saja."

Kemudian Emak memelukku erat.

Erat sekali.

Seolah aku masih anak kecil yang baru pulang bermain.

Aku tidak tahu bahwa pelukan itu akan menjadi salah satu pelukan terakhir yang paling kuingat sepanjang hidup.

Hari-hari berlalu.

Usia Emak semakin menua.

Langkahnya mulai pelan.

Penglihatannya mulai berkurang.

Tetapi satu hal yang tidak berubah.

Doanya.

Setiap kali aku hendak kembali merantau, Emak selalu berdiri di depan pintu.

Mengangkat kedua tangannya.

Mendoakanku hingga kendaraan menghilang dari pandangan.

Saat itu aku menganggapnya sebuah kebiasaannya.

Sekarang aku tahu, mungkin itulah bentuk cinta paling tulus yang pernah kuterima.

Cinta yang tidak meminta balasan.

Cinta yang hanya ingin anaknya selamat.

Aku menatap kembali mukena itu.

Debu tipis masih menempel di permukaannya.

Kamar ini terasa penuh oleh kenangan.

Suara Emak seperti masih ada.

Senyuman kecil.

Nasihatnya.

Panggilannya.

Bahkan aroma minyak cemceman yang biasa beliau gunakan seakan masih tertinggal di udara.

Namun aku tahu, semua itu hanya jejak.

Hanya gema dari masa lalu yang yang hingga kini masih datang menyapa.

Namun kenyataannya, kamar ini telah lama kehilangan pemiliknya.

Mukena itu tak disentuh bukan karena dilupakan.

Mukena itu tetap di tempatnya karena aku belum sanggup memindahkannya.

Ia adalah saksi terakhir yang menyimpan kehadiran Emak di rumah ini.

Sepuluh bulan yang lalu, Emak meninggalkan rumah yang kami tempati bersama.

Sepuluh bulan yang lalu, tangan yang selalu mengusap kepalaku itu terkulai untuk terakhir kalinya.

Sepuluh bulan yang lalu, suara yang selalu memanggil namaku itu berhenti terdengar.

Dan sepuluh bulan yang lalu pula, Emak menghadap Sang Pencipta.

Kini Emak berada di dunia yang berbeda.

Dunia yang tidak dapat kutempuh dengan kendaraan, tidak dapat kuhubungi dengan telepon, bahkan dengan alat secanggih apa pun Dan tidak dapat kudatangi dengan langkah kaki agar bisa bertemu bertatap muka, berpelukan walau sebentar pun.

Satu-satunya cara menjangkaunya hanya dengan doa.

Aku memandang mukena itu sekali lagi.

Lalu perlahan kusentuh ujung kainnya.

Debu halus menempel di jemariku.

Mataku basah.

"Mak," bisikku pelan.

"Kini kuhanya bisa mendoakanmu. Dan kutahu doa anak pasti bisa sampai kepada ibunya, maka malam ini aku ingin kau tahu bahwa aku rindu." Tak ada jawaban. Hanya hatiku seperti berliang-liang yang dipenuhi sunyi bagai tak tertahankan.

Namun entah mengapa, tiba-tiba di dalam hati yang paling dalam, aku merasa Emak mendengarnya. Emak bahkan memelukku seperti waktu kecil di masa lalu. Di antara hangat jiwaku yang sekejap, aku pun sadar bahwa kini aku terpasung rindu. Rindu yang teramat dalam.

Aku menutup pintu kamar perlahan.

Meninggalkan mukena itu tetap di tempatnya.

Dan membawa pulang satu hal yang selalu kutemukan setiap kali kembali ke rumah tua ini, adalah

kerinduan yang tak pernah selesai kepada seorang Emak yang telah lebih dahulu pulang menghadap Ilahi Rabbi.***

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement