EMAK (2) CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI
Agusni AH kembali menghadirkan lanjutan cerpen EMAK (2) dengan tetap mempertahankan arus penceritaan yang lirih, reflektif, dan sarat kenangan sebagaimana pada bagian pertama. Melalui rangkaian ingatan yang mengalir dari masa lalu, ia menghadirkan sosok seorang ibu yang mendidik anaknya dengan ketegasan yang kerap terasa keras, bahkan nyaris beringas di mata seorang anak.
Namun, di balik ketegasan itu tersimpan cinta yang mendalam. Emak tidak sekadar mengajarkan cara membaca huruf demi huruf ayat-ayat suci, melainkan menanamkan keyakinan, kedisiplinan, ketekunan, dan pengenalan kepada Allah Swt. sejak dini. Didikan yang pada masa kanak-kanak terasa berat dan sering mengundang keluh kesah, pada akhirnya menjadi bekal berharga dalam menapaki kehidupan.
Melalui tokoh "aku", pembaca diajak menyaksikan bagaimana tempaan seorang ibu membentuk karakter, daya juang, dan keteguhan hati. Berbagai ujian kehidupan, termasuk beragam proses seleksi dan pengujian yang dihadapi sang tokoh, mampu dilalui bukan semata karena kecerdasan atau keberuntungan, melainkan karena fondasi mental dan spiritual yang telah ditanamkan Emak sejak kecil.
EMAK (2) bukan hanya kisah tentang kerinduan seorang anak kepada ibunya yang tak lagi bisa dijangkau fisik, tetapi juga sebuah penghormatan terhadap peran seorang ibu yang yang semasa hidupnya dengan segala cara berusaha menuntun anaknya mengenal Tuhannya. Sebab, sebagaimana tergambar dalam cerpen ini, kasih sayang seorang ibu tidak selalu hadir dalam kelembutan kata-kata; terkadang ia menjelma menjadi ketegasan yang membentuk, mendidik, dan menguatkan jiwa untuk menghadapi kehidupan.
Selamat membaca. Semoga kisah ini menjadi pengingat tentang betapa besar peran seorang ibu dalam menanamkan nilai-nilai keimanan yang kelak menjadi cahaya penuntun dalam perjalanan hidup anak-anaknya.
E M A K (2)
AKU terduduk lemas di anak tangga terakhir lantai dua gedung rakyat itu. Tubuhku terasa seperti kehilangan seluruh tenaga, bukan karena kurang minum, melainkan karena seharian menguras pikiran, perasaan, dan kesabaran. Hampir seluruh persendianku seakan luruh. Namun kal ini hatiku justru tenang. Tak ada lagi kegundahan yang menggelayut.
Semua sesi fit and proper test telah kulalui. Dari meja pertama hingga meja terakhir, semuanya kuseberangi dengan keyakinan yang tak pernah surut. Setiap pertanyaan kujawab sebaik yang kubisa. Setiap tatapan penguji kuhadapi tanpa menundukkan pandangan.
Meja terakhir menjadi penentu. Di sanalah aku diminta membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, sebuah persyaratan mutlak yang harus dilewati setiap calon. Dengan memohon pertolongan Allah, kubuka mushaf dan mulai melantunkan ayat demi ayat. Suaraku mula-mula bergetar, tetapi kemudian mengalir lancar tanpa ragu.
Setelah selesai membaca, beberapa anggota tim penguji yang didampingi langsung oleh wakil rakyat mengajukan pertanyaan. Mereka menyoal tajwid, harakat, makhraj huruf, hingga fashahah. Satu demi satu pertanyaan datang silih berganti. Aku menjawabnya dengan hati-hati, berusaha mengingat kembali pelajaran yang pernah kuterima sejak kecil di Balai Teungku Daud dan Teungku Dolah, terakhir di balai pengajian Umi Kasom. "Untuk semua guru ngaji kusenandungkan doa-doa agar diluaskan kuburnya dan mendapat syurga-Nya."
Waktu terasa berjalan lambat. Ruangan itu mendadak sunyi. Para penguji saling berpandangan sambil membuka catatan masing-masing. Aku hanya bisa menunggu, menahan debar yang tak ingin reda.
Tiba-tiba Ketua Tim Penguji berdiri dari kursinya.
"Alhamdulillah, Saudara kami nyatakan lulus."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku ia menjelma seperti hujan yang turun setelah musim kemarau panjang.
Ketua tim mengulurkan tangan. Anggota penguji lainnya ikut bangkit satu per satu. Mereka menyalamiku dengan senyum yang hangat. Aku berdiri dari kursi dengan langkah yang terasa ringan, seolah beban yang sejak tadi menindih pundakku telah runtuh seluruhnya.
"Terima kasih," hanya itu yang mampu kuucapkan.
Saat keluar dari ruangan, aku tidak langsung pulang. Aku memilih duduk di anak tangga terakhir lantai dua gedung rakyat itu. Kubiarkan orang-orang yang berlalu.
Aku menengadah ke langit-langit ruang di gedung itu.
Dalam hati, berulang kali aku mengucap syukur.
Namun tiba-tiba air bening di dua bolamataku menganaksuangai, tanpa terasa mengaliri dan membasahi wajah lelahku. Dalam ingatanku mengapung memori lampau, ketika Emak bagai kerasukan yang mencekik leherku. Sementara kain sarung yang melilit di pinggangku ditarik lepas kemudian dimasukkan silang di leherku. Aku yang masih berumur tujuh tahunan tak memiliki tenaga kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman Emak yang kian beringas. Matanya nanar. Aku dibuat tanpa ampun. "Biar kamu tahu siapa Emakmu ini. Sia-sia kamu hidup jika Kalam Allah tak kamu kenali nanti, apa mau menjadi orang yang tersesat di dunia." Emak terus mengumpat sembari kedua tangannya mencekik dan menarik-menarik gulungan kain sarung yang sudah melilit di leherku. Untungnya Kakak yang sebelumnya sudah duluan berangkat mengaji, baru beberapa jarak saja. Akhirnya Kakak buru-buru berbalik arah meleraikanku dari smackdown Emak. Cepat-cepat Kakak menarik dan mendoronh Emak yang sudah beberapa menit menindih tepat di atas dadaku. Badan Emak terdorong ke sisi tubuhku yang terlentang. Dan langsung saja aku memanfaatkan situasi dari posisi tubuhku yang mulai sedikit menguntungkan. Dengan sisa napas dan tenaga seadanya, aku lari terbirit-birit dengan kain sarung yang masih terlilit di leherku. Dalam pikiranku hanya satu: aku harus segera tiba di balai pengajian tempat belajar mengaji di rumah Umi Kasom. Senja itu aku tanpa makan. Padahal sedari awal Emak telah menyajikan makan malam kami. Tapi aku berpura-pura sakit agar tidak mengaji malamnya, agar aku bisa tidur enak setelah sepanjang petang main bola kaki di tengah guyuran hujan bersama teman-teman sepermainanku. Aku kira Emak percaya jikalau aku diserang demam dan mengaduh-ngaduh kecil untuk meyakinkan Emak bahwa aku benar-benar sakit. Tapi malah justeru Emak yang menyerangku habis-habisan hingga akhirnya aku benar-benar mengaduh panjang. Jika ingat-ingat itu aku tertawa geli dengan tingkah dan drama masa kecilku yang tak bermutu itu. Namun aku juga merasa sedih sekaligus terharu, sekiranya Emak tak bersikap kejam kepadaku entah jadi apa saat ini. Maklum negeriku dipenuhi persyaratan baca Qur'an setiap posisi pekerjaan di nanggroe indatu.
"Kenapa masih di sini. Bukankah lainnya sudah pulang."
Sebuah suara membuatku terkesiap dari lamunan panjang tentang masa lalu itu.
Cepat-cepat kuseka airmata yang masih membekas di pipi. Seorang lelaki paruh baya berdiri beberapa anak tangga di bawahku. Ia salah seorang staf sekretariat yang sejak pagi mondar-mandir mengurus jalannya seleksi.
"Oh, iya Pak. Saya cuma istirahat sebentar," jawabku seraya memaksakan senyum.
Ia mengangguk pelan, kemudian berlalu meninggalkanku.
Kembali suasana menjadi sunyi. Mataku menerawang jauh ke halaman gedung rakyat yang mulai lengang. Senja perlahan turun. Cahaya keemasan menyentuh dinding-dinding bangunan tua itu. Entah mengapa, di tengah rasa lega yang memenuhi dada, wajah Emak justru semakin jelas hadir dalam ingatanku. Aku masih dapat melihat sorot matanya yang tajam senja itu. Masih dapat mendengar bentakannya yang membuatku ketakutan.
Masih dapat merasakan sesak di leherku akibat lilitan kain sarung yang digunakannya untuk menyeretku ke halaman rumah dengan penuh keyakinannya.
Dulu aku menganggap Emak kejam. Aku sering menggerutu dalam hati. Namun waktu mengajarkan sesuatu yang tidak mampu kupahami ketika masih kanak-kanak. Kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk belaian. Kadang ia datang dalam rupa ketegasan. Kadang menjelma kemarahan.
Kadang bahkan menyerupai hukuman.
Kini, puluhan tahun kemudian, aku terduduk di gedung rakyat ini setelah dinyatakan lulus dari sebuah tahapan yang sangat menentukan. Salah satu meja yang paling membuat peserta gentar justru adalah meja uji baca Al-Qur'an.
Dan aku berhasil melewatinya. Bukan karena aku paling pintar. Bukan pula karena aku paling fasih.
Melainkan karena seorang perempuan kampung yang tak tamat sekolah telah memaksa anaknya mengenal huruf-huruf Allah sejak usia dini.
Air mataku kembali jatuh. Kali ini kubiarkan saja. Tak ada yang perlu kusembunyikan.
Di dalam hati aku berbisik lirih:
"Mak, hari ini anakmu lulus kesekian kali. Namun kali ini aku tak bisa bersimpuh di kakimu. Tak bisa lagi pulang memelukmu. Hanya doa-doa yang bisa kupanjatkan di setiap sujud-sujud panjangku. Kiranya Emak mendapat tempat terbaik di sisi-Nya."
Sebelum meninggalkan gedung rakyat, kutengadahkan wajah ke langit sekali lagi.
"Terima kasih, Mak. Dulu aku mengira Emak sedang menghukumku. Hari ini aku mengerti, ternyata Emak sedang menyiapkan masa depanku."
Aku bangkit dari anak tangga terakhir itu. Langkahku terasa berat oleh kerinduan yang mendalam. Rindu bersua Emak.
Angin senja berembus pelan. Seolah membawa bisikan itu melintasi langit menuju tempat yang tak dapat dijangkau pandangan.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda