EMAK (3) CERPEN AGUSNI AH

PENGANTAR REDAKSI
Agusni AH menyelesaikan cerpen EMAK (3) dengan mengisahkan pergulatan batin seorang anak yang berusaha menuntaskan jejak-jejak kenangan, tuduhan, dan kesalahpahaman yang tertinggal setelah kepergian sang ibu. Tentang pergulatan mendapatkan bacaan-bacaan, namun segala keterbatasan menjadikannya mencuri koran orang yang bermistik dan beli kupon lontre. Jika pada bagian-bagian sebelumnya pembaca diajak menyusuri kerasnya didikan Emak dan kerinduan yang tak pernah benar-benar usai, maka pada bagian penutup ini tokoh "aku" berhadapan dengan ujian yang lebih rumit sejak sang ibu menghadap Rabb.
Melalui alur yang mengalir lirih namun menggugah, Agusni AH memperlihatkan bahwa hubungan anak dan ibu tidak berhenti oleh kematian. Ada doa-doa, amanah, ingatan, dan tanggung jawab moral yang terus hidup dalam diri seorang anak. Kepulangan ke Koetaraja bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk menemukan kebenaran, memaknai pengorbanan Emak, sekaligus berdamai dengan masa lalu.
EMAK (3) menjadi penutup yang mengikat keseluruhan kisah dengan nuansa haru, reflektif, dan sarat nilai kemanusiaan. Sebuah cerita tentang cinta seorang ibu yang tetap menyala bahkan setelah raganya tiada, serta tentang seorang anak yang berjuang sejak usia belia berusaha menjaga nyala itu agar tidak padam oleh waktu dan tuduhan. Silahkan simak cerpen EMAK (3):
E M A K (3)
PAGI ini aku datang lebih cepat menjenguk Emak. Setelah itu aku harus segera melanjutkan perjalanan ke kota tua, tempat aku mengais rezeki selama delapan tahun terakhir.
Sebenarnya aku ingin berlama-lama di tempat Emak. Sekadar menyampaikan segala keluh-kesah yang selama ini kupendam. Selain mengirim doa-doa, kedatanganku juga menjadi pengingat bagi diri sendiri bahwa setiap yang melata di muka bumi pada akhirnya akan mati.
"Mak... maafkan anakmu baru bisa datang hari ini dan hanya sebentar. Sore nanti nanti harus kembali ke Koetaraja," sapaku lirih setelah memberi salam.
Dengan pelan aku mengucapkan:
"Assalaamu'alaikum ahlad-diyaar minal mu'miniina wal muslimiin, wa innaa Insyaa Allaahu bikum la-laahiquun, wa as-alullaaha lanaa walakumul 'aafiyah."
(Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari golongan orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Insya Allah kami akan menyusul kalian. Aku memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan kalian).
Meski terkesan tergesa-gesa karena harus mengejar waktu, aku memang harus segera kembali ke tempat kerja. Berkas perkara yang akan disidangkan esok hari di peradilan etik telah menunggu untuk diselesaikan.
Aku dan rekan-rekan sepekerjaan dituduh melakukan kecurangan menyusul hasil sebuah pemilihan yang dianggap berlangsung secara culas. Kami tidak merasa terbebani oleh tuduhan itu, tetapi juga tidak mungkin mengabaikannya.
Justeru kami memandangnya sebagai kesempatan untuk menjelaskan seluruh dalil dan tudingan yang diajukan. Persidangan adalah tempat paling beradab bagi orang-orang yang menghambakan diri kepada hukum. Karena itulah aku dan rekan-rekan menyambut positif langkah para pihak yang menjadikan kami sebagai teradu.
Meski tak nyaman duduk di kursi pesakitan, kami tidak memiliki pilihan selain menjalaninya. Bagaimanapun, ini adalah konsekuensi yang harus diterima dan dihadapi dengan kepala tegak.
Aku menatap gundukan tanah merah yang mulai ditumbuhi rumput-rumput liar. Embun pagi masih bergelayut di ujung dedaunan. Angin berembus pelan, menggerakkan ranting-ranting kecil di sekitar pusara Emak. Entah mengapa, setiap kali datang ke sini, dadaku selalu terasa lapang, seolah segala keruwetan hidup yang membelit perlahan luruh satu per satu.
"Mak, anakmu sedang diuji," bisikku.
Tak ada jawaban selain desir angin yang menyapu dedaunan. Namun aku tahu, sesungguhnya aku sedang berbicara dengan diriku sendiri. Berbicara kepada kenangan yang selama ini menjadi penuntun setiap kali langkahku limbung.
Tiba-tiba ingatanku melayang jauh ke masa kecil. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Aku dipukuli Emak. Aku dicecar habis-habisan menyusul ada yang mengadu bahwa aku mencuri.
Benar adanya. Nyaris setiap usai shalat Subuh aku diam-diam menyelinap ke rangkang-rangkang tambak setelah orang-orang yang tidur di dangau-dangau itu turun melaut. Aku memanfaatkan saat-saat lengang. Walau kampung tak benar-benar sunyi karena para nelayan dan petani tambak mulai beraktivitas, aku tetap lihai mencari celah.
Dengan keberanian yang lebih pantas disebut kenekatan, aku naik ke rangkang-rangkang tertentu. Tidak semua. Hanya beberapa yang sudah kuhafal pemilik dan kebiasaannya. Sebagian rangkang selain dijadikan tempat beristirahat juga menjadi ruang paling rahasia bagi pemiliknya untuk menyimpan berbagai benda pribadi.
Di sanalah aku menemukan lembaran-lembaran kecil berisi angka-angka. Angka yang ditulis dengan sangat hati-hati. Kadang terselip di bawah tikar, kadang di balik papan dinding, bahkan ada yang disimpan dalam sarung bantal.
Aku belum sepenuhnya memahami dunia orang dewasa saat itu. Yang kutahu, angka-angka itu berkaitan dengan permainan buntut dan SDSB (sumbangan dermawan sosial berhadiah). Masa era 80-an hingga medio 90-an judi lotre itu marak diperjualbelikan dalam bentuk kupon yang digagas langsung oleh Pemerintah Orba, berdalih kepentingan sosial dan olah raga.
Dengan modal seribu rupiah orang-orang berharap keberuntungan turun dari langit melalui deretan angka yang mereka yakini membawa rezeki sebanyak satu milliar ketika bisa menebak 12 angka.
Yang menarik bagiku bukan angka-angka itu. Bukan pula mimpi menjadi kaya mendadak dengan hadiah yang konon bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Sama sekali aku tak tergiur meski hidupku serba melarat.
Yang kucari justru koran Simponi terbitan ibukota. Koran itulah yang menjadi sumber inspirasi orang-orang setengah gila di kampungku untuk mengejar keberuntungan lewat buntut dan SDSB. Program yang kala itu dibungkus dengan berbagai dalih sosial dan pembangunan, namun diam-diam menyedot uang rakyat kecil yang berharap nasib mereka berubah hanya dengan selembar kupon.
Separuh dari enam belas halaman koran Simponi dipenuhi angka-angka, ramalan, tafsir mimpi, dan gambar-gambar mistik. Halaman-halaman itulah yang paling sering diburu para pembeli.
Tetapi aku justeru mengabai dan melompatinya. Mataku selalu mencari halaman lain. Halaman hiburan dan ruang sastra. Di sana ada cerpen, cerbung, puisi, esai ringan, kisah para artis, dan berbagai tulisan populer yang membuat imajinasiku berkelana jauh meninggalkan kampung tambak yang dikelilingi lumpur dan bau asin laut.
Aku membaca semuanya. Tak ada satu paragraf pun yang kulewatkan. Bahkan iklan-iklan kecil di sudut halaman ikut kubaca sampai tuntas. Dari koran Simponi itulah aku pertama kali mengenal dunia sastra. Nama-nama pengarang yang asing bagiku perlahan menjadi sahabat. Mereka bagai mengajakku masuk ke dunia kata-kata, dunia imajinasi, dunia yang membuatku percaya bahwa hidup tidak hanya sebatas sawah, tambak dan laut.
Ironisnya, kecintaanku pada bacaan bermula dari sebuah tindakan yang keliru. Aku mencuri koran-koran itu. Bukan untuk dijual agar memeroleh uang karena terdesak biaya SPP atau buat jajan di sekolah yang tak jarang berperut kosong dan haus mendera.
Aku mencurinya untuk dibaca. Setiap menemukan edisi baru, aku menyelipkannya di balik baju atau memasukkannya ke dalam kantong kresek yang kubawa. Setelah itu aku pulang dan membacanya diam-diam hingga larut malam dengan penerangan lampu teplok yang cahayanya seadanya.
Buku sangat langka di kampungku.
Apalagi buku sastra. Kalaupun ada, aku harus pergi ke kota untuk mendapatkannya. Jaraknya cukup jauh bagi seorang anak SMP yang tak memiliki sepeda motor. Naik labi-labi atau bus memerlukan ongkos yang tak sanggup kupenuhi.
Karena itulah setiap lembar koran Simponi terasa seperti harta karun. Aku tidak sedang mencari angka keberuntungan. Aku sedang mencari kalimat-kalimat yang membuatku bermimpi. Aku tidak sedang berburu hadiah miliaran rupiah. Aku sedang berburu cerita. Aku ingin menjadi pengarang dan penulis atau seorang wartawan yang kaya kosakata.
Namun alasan seindah apa pun tidak pernah bisa membenarkan caraku yang salah. Dan itulah yang tidak bisa diterima Emak.
Baginya, ilmu yang diperoleh dari jalan yang keliru akan selalu meninggalkan noda dalam hati. Sebagus apa pun tujuannya, mengambil milik orang lain tetaplah upaya menumpuk dosa.
Mungkin karena itulah Emak menjadi murka ketika mengetahui perbuatanku. Ia tidak sedang menghukum anak yang gemar membaca. Emak sedang menyelamatkan anaknya agar kelak tidak terbiasa menghalalkan cara demi mencapai sesuatu yang dianggap berguna. Bertahun-tahun kemudian aku memahami satu hal: jika koran Simponi memperkenalkanku pada dunia sastra, maka Emaklah yang mengajarkanku bagaimana berjalan di dunia itu tanpa kehilangan kejujuran atas sebuah kemiskinan.
"Miskin bukan alasan untuk mencuri !" Emak setengah membentak. Aku hanya bisa menunduk dengan linangan airmata bercampur ingus.
Kalimat itu masih terngiang hingga hari ini. Dan kembali tertunduk pilu dengan linangan bercampur ingus di gundukan tanah merah yang basah oleh airmata. Kemudian aku bangkit, berdiri di hadapan pusara Emak. Kenangan itu datang kembali seperti ombak yang berkejaran dengan waktuku kini yang harus kembali ke Koetaraja.
"Mak... izinkanku kembali ke Koetaraja untuk menyelesaikan segala tuduhan yang kini menghadang. Sejak Emak pergi menghadap Rabb, entah mengapa aku merasa hidup semakin sering diuji. Mungkin beginilah cara Allah Ta'ala mengukur seberapa kuat seorang hamba memegang apa yang diyakininya benar.
Aku masih ingat, dulu Emak tak pernah mengajarkan cara menjadi orang besar. Emak juga tak pernah mengajariku bagaimana menjadi orang kaya. Yang Emak ajarkan jangan berdusta dan jangan mengambil yang bukan hakmu.
Pelajaran itu terasa sederhana ketika kumasih kecil. Namun semakin jauh perjalanan hidup yang kutempuh, semakin mengerti betapa sulitnya menjaga dua hal itu.
Hari ini aku dan kawan-kawan dituduh berlaku curang. Mungkin ada yang percaya, mungkin ada yang tidak. Mungkin ada yang sudah lebih dulu menjatuhkan vonis sebelum mendengar penjelasan kami. Tapi aku akan menghadapinya, Mak. Sebagaimana dulu Emak menyuruhku mengakui kesalahan ketika mencuri koran-koran itu.
Bedanya, kali ini aku tidak sedang mengakui kesalahan. Kali ini aku sedang mempertahankan kebenaran yang kuyakini. Semoga kutetap kuat dan tidak tergelincir oleh amarah. Kiranya tidak tergoda membalas fitnah dengan fitnah. Tetap mampu berdiri tegak, apa pun keputusan yang akan datang nanti.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana yang selalu Emak katakan, manusia hanya wajib berikhtiar dan menjaga kejujuran. Adapun penilaian manusia bisa keliru, tetapi penilaian Allah tidak pernah salah."
Aku menundukkan kepala. Jemariku menyentuh tanah yang menaungi jasad perempuan yang telah melahirkanku. Matahari pagi mulai meninggi. Waktu memaksaku segera berangkat.
Aku berdiri perlahan.
Kupandangi sekali lagi pusara Emak.***



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda