Enam Profesor Baru UT Tawarkan Gagasan AI, Pendidikan Anak, hingga Pemerataan Akses KuliahEnam Profesor Baru UT Tawarkan Gagasan AI, Pendidikan Anak, hingga Pemerataan Akses Kuliah

TANGERANG SELATAN (Waspada.id) : Pengukuhan enam profesor Universitas Terbuka (UT) Tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum akademik, tetapi juga menghadirkan berbagai gagasan baru untuk menjawab tantangan pendidikan di era perubahan.
Dalam rangkaian orasi ilmiah, keenam profesor mengangkat isu strategis mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), penguatan kemampuan bahasa dan matematika, pendidikan anak usia dini, demokrasi digital, hingga perluasan akses pendidikan tinggi.
Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D. melalui orasi berjudul Rethinking Writing Instruction: Scientific Foundations and Future Directions at Distance Teaching Universities menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris.
Menurutnya, kemampuan menulis tidak cukup dibangun melalui penguasaan tata bahasa, tetapi membutuhkan proses berpikir, latihan, kolaborasi, revisi, dan umpan balik berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan jarak jauh, ia mendorong desain pembelajaran yang lebih adaptif dengan memanfaatkan AI sebagai pendukung proses belajar tanpa menggantikan peran tutor.
Gagasan serupa mengenai keseimbangan teknologi dan nilai kemanusiaan disampaikan Prof. Dr. Juhana, M.Pd. melalui orasi Humanizing English Language Instruction in The Age of Intelligent Technology: From Adaptive Pedagogy to Transformative Learning. Ia menekankan bahwa teknologi harus menjadi alat untuk memperkaya pembelajaran bahasa Inggris, sementara aspek kemanusiaan seperti empati, refleksi, dan kemampuan komunikasi tetap menjadi bagian utama.
Pada bidang matematika, Prof. Dr. Yumiati, M.Si. memperkenalkan Model Integrasi Pembelajaran Aljabar (MIPAl). Model tersebut menghubungkan konsep matematika dengan budaya lokal, seperti permainan tradisional, motif batik, dan kehidupan sehari-hari agar pembelajaran lebih bermakna.
Sementara Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd. melalui model BERLIAN menyoroti pentingnya pendidikan anak usia dini yang berpusat pada anak. Ia menekankan bahwa kesiapan sekolah tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dari perkembangan karakter, kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemampuan sosial anak.
Di ranah sosial politik, Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D. menawarkan pendidikan politik berbasis pedagogi feminis dalam sistem pendidikan jarak jauh. Pendekatan tersebut bertujuan membangun mahasiswa yang kritis, menghargai keberagaman, dan mampu berpartisipasi secara etis di ruang digital.
Sementara itu, Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si. mengangkat isu pemerataan pendidikan tinggi melalui penguatan layanan pendidikan terbuka dan jarak jauh berbasis kewilayahan. Menurutnya, keberadaan UT Daerah dan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) menjadi bagian penting dalam mendekatkan layanan pendidikan tinggi kepada masyarakat melalui pendampingan akademik, dukungan teknis, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas.
Rektor UT Prof Dr Ali Muktiyanto mengatakan, keenam profesor tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi harus mampu menjawab persoalan masyarakat dan menghadirkan perubahan nyata.
"Pengukuhan profesor UT tahun ini menjadi bagian dari komitmen universitas untuk terus melahirkan inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi kemajuan bangsa," ujar Ali.
UT menargetkan ada sedikitnya 5 profesor baru setiap tahun. Hal itu menjadi kebutuhan menuju UT sebagai universitas kelas dunia dengan sedikitnya 700 mata kuliah yang perlu diampu. (id11)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda