Breaking News
Memuat breaking news...

ENDAP CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Minggu, 19 Juli 2026 - 4.36 PM WIB
ENDAP CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, dalam cerpen berjudul "ENDAP" menghadirkan kisah tentang penantian, kehilangan, dan pergulatan batin seorang lelaki yang memilih bertahan di sebuah kota tua yang menyimpan jejak sejarah sekaligus luka pribadinya. Di tengah bayang-bayang konflik bersenjata, bencana tsunami, dan kisah cinta yang tak pernah benar-benar selesai, tokoh utama berusaha mengendapkan harapan tanpa harus merampas kebahagiaan orang lain.

Dengan memadukan sejarah Aceh, memori kolektif, dan renungan tentang cinta, Agusni AH menyuguhkan sebuah cerpen yang tidak sekadar berkisah tentang patah hati, melainkan juga tentang kesetiaan pada keyakinan, makna penantian, serta cara manusia berdamai dengan takdir. Endap mengajak pembaca merenungkan bahwa tidak semua impian harus dimiliki. Sebagian cukup diendapkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk kedewasaan. Para pembaca setia dapat menyimak karya Agusni AH berikut ini:

ENDAP

BAYANG roman teduh keibuannya masih mengekang langkah lelaki itu untuk meninggalkan kota terakhir yang disinggahinya. Sejak perempuan jelita itu berulang kali meninggalkannya, ia menjalani hari-hari dengan langkah terseok dan hati yang kehilangan arah. Namun, pada akhirnya ia memilih pasrah kepada suara hatinya sendiri: tetap menetap di kota yang berdarah-darah oleh sejarah.

Kota tua itu pernah menjadi ladang perlawanan. Di sanalah banyak penjajah meregang nyawa pada masa silam. Tak sedikit panglima perang Portugis dan Belanda tumbang di tanah ini. Para pejuang setempat istiqamah bertahan dalam keadaan apa pun. Ketika makanan menipis, logistik perang nyaris habis, dan tenaga mulai luruh, mereka tetap menghunus keberanian. Mereka melawan musuh laknatullah yang hendak mengusik akidah warisan leluhur sekaligus mengeruk kekayaan tanoh indatu. Pada akhirnya, penjajahan pun terusir dari Tanah Rencong.

Secuil heroisme itulah yang membuat lelaki itu memilih bertahan. Masa tinggalnya memang telah berakhir, tetapi ia enggan pergi. Tak menjadi soal jika kemudian ia harus menahan lapar karena tak lagi memiliki pekerjaan tetap. Barangkali, pikirnya, ada kalanya seseorang harus mengendapkan seluruh luka di sebuah kota sebelum benar-benar mampu melangkah menuju kehidupan yang baru.

"Biarlah aku tetap di sini, seperti seorang prajurit yang memilih bertahan hingga perang usai, meski yang kuhadapi hanyalah ketidakadilan cinta," lelaki itu meyakinkan dirinya sendiri.

Ia ingin menamatkan riwayat hidupnya dengan bertahan—terus bertahan. Ia tak ingin dikenang sebagai pecundang yang menyerah hanya karena patah hati. Setiap kali mengingat kisah para pahlawan masa silam yang bertahan di tengah kelaparan, kekurangan logistik, dan desing peluru, ia merasa luka yang ditanggungnya belumlah seberapa. Sungguh terasa naif bila ia harus hengkang hanya karena ditinggalkan cinta. Bukankah para lelaki tanoh indatu dahulu tetap tegak mempertahankan tanah air, menjaga agama, dan melindungi kehormatan kaum perempuan dari kerakusan imperialisme penjajah ?

***

Lelaki itu berjalan gontai menyusuri sudut-sudut kota, seperti sedang memungut serpihan masa lalu yang tercecer di sepanjang jalan. Padahal, tak satu pun kenangan itu benar-benar hilang. Semuanya tetap utuh, mengendap di dasar ingatan dan berakar dalam palung hatinya, sedianya menjelma nyeri tanpa henti.

"Biarlah kota ini menjadi persinggahan terakhirku. Biarlah aku terkubur di tanah ini, sebagaimana Sultan Iskandar Muda bersemayam bersama cinta Putroe Phang yang dibawanya dari Negeri Pahang," lelaki itu mendengus sendiri.

Tanpa terlalu menyalahkan takdir yang merenggut cintanya ke tangan lelaki lain, ia berusaha menerima kenyataan. Terlebih, perempuan pujaannya telah menikah ketika ia tiba di kota tua itu. Sebuah kenyataan yang sama sekali tak pernah diketahuinya.

Pertemuan pertama mereka sesungguhnya terjadi tanpa sengaja. Namun, bagi lelaki itu, perjumpaan tersebut seolah menggenapi sebuah deja vu yang telah lama berulang dalam mimpi-mimpinya. Sejak saat itu ia percaya perempuan itu adalah belahan jiwanya, seseorang yang telah ditakdirkan menjadi miliknya. Keyakinan itulah yang membawanya datang ke kota tua, mencari wujud nyata dari mimpi-mimpi yang selama ini hanya hidup di alam bawah sadarnya.

Sayangnya, kenyataan lain datang lebih dahulu. Perempuan itu telah dipersunting lelaki lain. Di mata lelaki itu, kenyataan tersebut terasa seperti sebuah perampasan.

"Gilakah aku ?" Tanyanya berkali-kali kepada dirinya sendiri.

Namun, semakin ia menyangkal, semakin nyata pula perasaan itu. Akhirnya ia berhenti membantah dirinya sendiri. Ia memilih pasrah. Tak ada cara untuk merebut perempuan itu kembali. Yang dapat dilakukannya hanyalah menunggu, dan menunggu waktu yang entah bagaimana, kelak akan mengembalikan segala sesuatu kepada tempat yang diyakininya. Karena keyakinan itulah ia bertahan dan tetap menetap di kota tua itu.

Sejak menginjakkan kaki di kota tersebut, ia kerap bersua dengan perempuan yang sebelumnya hanya hadir dalam mimpi-mimpi masa lalunya.

"Kaukah ini ?" Tanya perempuan itu ketika mereka pertama kali bertemu tanpa sengaja di sebuah sudut kota.

"Ya... Aku datang untuk mempersuntingmu," jawab lelaki itu tanpa ragu.

Perempuan itu menundukkan pandangan.

"Tetapi... Aku sudah menikah dengan seorang lelaki di sini. Setelah tsunami, hidupku kehilangan tempat bersandar. Pada akhirnya aku menerima pinangannya...."

Kata-kata itu bagai menghunjam dada lelaki itu. Kesedihan menyergap tanpa ampun. Ia justeru merasa dirinya yang bersalah. Mengapa setelah gempa dahsyat dan gelombang tsunami meluluhlantakkan kota tua itu, ia tak segera datang mewujudkan mimpi kebersamaan yang selama ini hanya hidup dalam angan ? Seribu satu pertanyaan menggantung di benaknya, sementara rasa sesal terus menggerogoti hatinya.

***

Jauh sebelum bencana dahsyat itu datang, lelaki tersebut telah lebih dulu dihimpit konflik bersenjata yang mengoyak ruang hidupnya. Hari-harinya dihabiskan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghindari dentuman senjata api--desingan peluru dan ketidakpastian, hingga mimpi-mimpi yang selama ini dirajutnya tak pernah sempat menjelma kenyataan.

Tak seorang pun pernah menginginkan tsunami melanda. Namun, di balik musibah yang merenggut begitu banyak nyawa dan meninggalkan luka kemanusiaan yang dalam, lahirlah sebuah ikhtiar perdamaian yang diharapkan abadi. Bersamaan dengan meredanya konflik, lelaki itu akhirnya dapat menginjakkan kaki di kota tua yang selama ini hanya hidup dalam angan. Ia datang untuk menunaikan mimpi yang bertahun-tahun tertunda. Sayangnya, ketika mimpi itu akhirnya berada dalam jangkauan, kenyataan justeru memilih jalan yang berbeda.

Lelaki itu memilih menunggu. Ia tak ingin dikenang sebagai pecundang dalam perkara cinta. Namun, ia juga tak sudi menjadi penjajah yang merebut wilayah kepemilikan yang telah sah menjadi milik orang lain. Meski begitu, jauh di dasar hatinya, ia tetap meyakini bahwa justeru orang lain itulah yang telah merebut seseorang yang semestinya menjadi miliknya. Sebab, ia tahu perempuan itu pun mencintainya. Setiap kali mereka bersua, setiap itu pula mereka saling berbagi cerita, saling menguatkan rasa yang tak pernah benar-benar padam.

"Namun, aku tak bisa memberimu kepastian karena aku masih bersamanya," ujar perempuan itu lirih. Ia tak ingin lelaki itu terus menggantungkan hidup pada mimpi yang mungkin tak pernah menemukan muaranya.

Lelaki itu hanya terdiam. Ia tenggelam dalam lamunan yang panjang, membiarkan benak dan hatinya mengendapkan segala rasa yang tak mampu lagi diucapkan dengan kata-kata.

Malam kian larut. Kalbunya membilur oleh duka yang mengendap, sementara sunyi seolah menjadi satu-satunya teman yang setia menemaninya hingga fajar. Lelaki itu tenggelam dalam pencarian, menapaki lorong-lorong kehidupan dengan satu tujuan mewujudkan mimpi yang terus memanggilnya.***

Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement