Breaking News
Memuat breaking news...

ENOSH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 10.51 AM WIB
ENOSH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Cerpen Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerpen “ENOSH” karya Agusni AH menghadirkan kisah seorang lelaki yang berhadapan dengan stigma kegilaan, kesepian, dan luka cinta yang berulang. Enosh bukan sekadar tokoh yang ditempatkan dalam ruang rumah sakit jiwa, melainkan representasi manusia yang sedang mencari kembali martabat, pengakuan, dan hak untuk dicintai. Kalimat, “Aku bukan orang gila. Aku hanya terlalu lama mengingat,” menjadi pintu masuk untuk membaca kegelisahan Enosh secara lebih dalam: apakah seseorang benar-benar gila, atau justru menjadi “gila” karena terlalu lama menanggung sesuatu yang tak mampu dipahami orang lain?

Menariknya, rumah sakit jiwa dalam cerpen ini tidak semata-mata tampil sebagai tempat pengasingan. Melalui Pak Nas dan para perawat, bangunan putih itu justru menjadi ruang kemanusiaan—tempat Enosh kembali dipanggil dengan namanya, disapa, dihargai, bahkan diperlakukan sebagai sahabat. Di sinilah Agusni AH membangun ironi: orang-orang yang dianggap “waras” di luar sana justru mudah memberikan vonis, sementara mereka yang bekerja di tempat orang-orang “gila” justru mampu menghadirkan kemanusiaan.

Lapisan lain yang kuat adalah elegi cinta. Kegagalan Enosh dalam cinta tidak hanya disebabkan oleh penolakan, tetapi juga oleh kenyataan sosial: pekerjaan yang tidak tetap, ketiadaan gelar akademik, dan posisi sosial yang dianggap kurang menjanjikan. Cinta pertama yang akhirnya memilih lelaki lain menjadi luka yang terus berulang dalam ingatannya. Dari sini, cerpen bergerak dari persoalan pribadi menuju kritik sosial tentang bagaimana manusia kerap menilai kelayakan seseorang berdasarkan status, pekerjaan, dan pencapaian.

Pada akhirnya, “ENOSH” adalah cerita tentang manusia yang ingin dipahami sebelum dihakimi. Pertanyaan penutup—“Benarkah dirinya memang gila cinta, atau hanya terlalu lama hidup tanpa menemukan seseorang yang bersedia tinggal?”—meninggalkan ruang kontemplasi bagi pembaca. Sebab mungkin, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan cinta, melainkan ketika seseorang kehilangan hak untuk menjelaskan luka yang membuatnya berubah.(red).

ENOSH

LELAKI sawo matang berperawakan sedang dengan rambut kelimis itu menyebut dirinya Enosh, sebuah nama yang, menurut pengakuannya, diambil dari salah seorang keturunan ketiga Nabi Adam. Mula-mula ia meronta-ronta, menolak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Kedua tangannya berusaha melepaskan pegangan orang-orang yang mengapitnya, sementara mulutnya tak henti mengulang sebuah kalimat yang tak seluruhnya dapat dipahami.

“Aku bukan orang gila. Aku hanya terlalu lama mengingat.”

Kalimat itu membuat orang-orang di sekelilingnya saling berpandangan. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang diingat lelaki itu—masa lalu, kehidupan yang tak pernah dialaminya, atau sesuatu yang jauh lebih tua daripada usia manusia. Namun, di sela tatapannya yang liar, ada kesedihan purba yang sulit dijelaskan, seolah-olah kedua matanya pernah menyaksikan dunia ketika bumi masih belum mengenal nama.

Atas bujukan Pak Nas, Kepala RSJ, akhirnya Enosh berhenti meronta. Ia menatap pintu bangunan putih di hadapannya cukup lama, kemudian mengembuskan napas perlahan. Ketika langkahnya mulai memasuki lorong menuju ruang terapi, ia tiba-tiba tersenyum.

“Di sini juga ada keturunan Adam,” katanya lirih.

Tak seorang pun menjawab.

Dan sejak hari pertama Enosh dirawat di rumah sakit itu, tak memperlihatkan keanehan yang mencolok seperti orang tak waras umumnya. Ia lebih banyak diam.

Keesokan harinya, beberapa perawat yang mendampingi Pak Nas datang ke ruang Enosh. Pak Nas lebih dahulu mengulurkan tangan dan menyalaminya, disusul empat perawat lainnya: seorang laki-laki dan tiga perempuan yang masih muda. Enosh menyambut mereka dengan hangat. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dadanya—semacam kebanggaan yang lama tak pernah ia rasakan, juga kebahagiaan sederhana karena untuk pertama kalinya sejak dibawa ke tempat itu, ia merasa bukan sedang diasingkan.

Pak Nas bahkan menyebut keberadaannya di RSJ bukan sebagai hukuman, melainkan tempat untuk menuntut ilmu. Kalimat itu membuat wajah Enosh berbinar.

Karena bagi Enosh, label “gila” adalah hukuman maha berat yang harus ditanggungnya—bukan hanya karena ia kehilangan kebebasan, melainkan karena sejak saat itu setiap kata, pikiran, bahkan kebenaran yang keluar dari mulutnya dapat dianggap sebagai ocehan orang yang tak waras. Dan kini ia merasakan perlakuan sebagai manusia sesungguhnya.

Ia memandang satu per satu orang di hadapannya, seolah baru saja menemukan sebuah dunia yang selama ini tersembunyi di balik pintu-pintu yang terkunci.

Terlebih lagi, ketiga perawat perempuan yang masih belia itu menghadiahkan senyum paling manis kepada Enosh. Senyum-senyum yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tetapi bagi Enosh terasa seperti cahaya yang jatuh dari langit yang lama mendung. Ia membalasnya dengan senyum lebar.

Perawat laki-laki itu tak ketinggalan. Ia menepuk-nepuk bahu Enosh dengan akrab, seperti seorang sahabat yang baru saja menyaksikan karibnya mendulang sebuah prestasi besar.

“Bagaimana, Enosh? Siap belajar hari ini?”

Enosh mengangguk mantap.

“Siap, Pak.”

Lalu ia menatap keempat perawat itu sekali lagi. Matanya berhenti beberapa saat pada tiga wajah perempuan yang tersenyum kepadanya.

“Kalau begini,” katanya pelan, “mungkin aku memang harus tinggal di sini.”

Pak Nas tersenyum.

Ia belum tahu bahwa kalimat sederhana itu kelak akan menjadi awal dari sesuatu yang tidak sederhana sama sekali.

***

Sesuatu membentang panjang di pikiran Enosh, seperti lorong yang tak berujung, hingga pada akhirnya menghantarkannya ke bangunan putih itu. Namun justru di tempat yang oleh banyak orang dianggap sebagai ruang bagi mereka yang kehilangan kewarasan, ia menemukan manusia-manusia yang begitu bersahaja, yang memperlakukannya sebagai seorang manusia terhormat.

Tidak seperti di luar sana.

Di luar sana, orang-orang telah terlanjur—atau barangkali memang sengaja—menjatuhkan hukuman kepadanya dengan sebuah label: gila. Sebuah kata pendek, tetapi cukup berat untuk merampas nama, harga diri, bahkan hak seseorang untuk dipercaya.

Enosh menyadari mengapa orang-orang menghukumnya demikian. Ia tahu tindakannya kerap tak menentu, ucapannya kadang melompat-lompat, dan amarahnya datang seperti angin yang kehilangan arah. Namun, mereka tak pernah benar-benar ingin memahami apa yang menyebabkan semua itu.

Cinta.

“Jika bukan karena cinta, mungkin aku tidak seperti ini,” Enosh mendengus, di antara geram dan dendam yang mengendap lama di dadanya.

“Ya, karena cinta.”

Ia terdiam. Menatap entah ke mana, seolah di hadapannya terbentang wajah-wajah dari masa lalu.

“Dan aku adalah cucu Adam,” bisiknya kemudian. “Aku juga manusia. Aku harus mendapatkan cinta.”

Dari namanya, Enosh adalah salah seorang cucu Nabi Adam, sebuah nama yang mengingatkan manusia pada asal-usulnya. Namun, ironisnya, orang-orang justru semakin menyudutkan nama yang melekat pada dirinya. Nama yang semestinya mengingatkan mereka bahwa Enosh pun lahir dari garis kemanusiaan yang sama, justru perlahan ditenggelamkan oleh sebuah sebutan yang lebih mudah mereka ucapkan:

orang gila.

Mereka tak lagi memanggilnya sebagai Enosh. Seakan-akan nama itu telah dicabut dari dirinya, digantikan oleh label yang mereka tabalkan tanpa pernah benar-benar memahami luka yang bersemayam di balik tingkahnya.

Padahal, jauh di dalam dirinya, Enosh tetaplah seorang cucu Adam—seorang manusia yang ingin dimengerti, dicintai, dan diperlakukan sebagaimana manusia lainnya. Tetapi dunia rupanya lebih mudah memberi vonis daripada berusaha memahami.

Begitu pula halnya dengan perempuan-perempuan yang pernah merajai hati dan jiwanya. Dengan berbagai alasan, satu per satu dari mereka—yang sama-sama dilahirkan dari rahim keturunan Siti Hawa—justru menolak cintanya, menjauh, lalu ikut menjatuhkan hukuman kepadanya.

Bagi Enosh, penolakan itu bukan sekadar perpisahan. Setiap perempuan yang pergi seolah membawa serta sebagian dari kewarasannya. Mereka mungkin tak pernah menyadari bahwa di balik sikapnya yang semakin tak menentu, ada cinta yang tak menemukan tempat untuk pulang.

Dan ketika mereka kemudian ikut menyebutnya gila, Enosh merasa hukumannya telah lengkap.

“Aku menjadi seperti ini karena mencintai kalian,” gumamnya lirih. “Tetapi kalian pula yang kemudian menghukumku karena cinta itu.”

Terkadang Enosh menyadari, barangkali bukan cintanya yang terlalu kecil, melainkan dirinya yang dianggap tak cukup untuk dicintai. Pekerjaannya tidak tetap. Ia tak memiliki posisi atau jabatan apa pun. Ia juga bukan seorang sarjana. Di hadapan dunia yang gemar mengukur manusia dengan pekerjaan, gelar, dan kedudukan, Enosh merasa dirinya selalu datang dengan tangan kosong.

Barangkali itulah sebabnya, pikirnya, tak ada seorang perempuan pun yang mampu bertahan bersama cintanya.

Kesadaran itu sungguh menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi karena ia pernah memiliki cinta pertama sejak di bangku SMA. Mereka pernah mengikat janji dengan bahasa masa muda yang begitu sederhana: menjadi sepasang Adam dan Hawa, saling menemani hingga rambut memutih dan tubuh kembali menjadi tanah.

Namun waktu mengubah banyak hal.

Perempuan itu kemudian menjadi seorang sarjana, memeroleh pekerjaan sebagai guru, dan kehidupannya perlahan bergerak ke arah yang tak lagi dapat dijangkau Enosh. Sementara Enosh masih berdiri di tempatnya, dengan pekerjaan yang tak menentu dan masa depan yang, menurut orang-orang, tak pernah cukup meyakinkan.

Pada akhirnya, perempuan yang pernah berjanji menjadi Hawanya itu justru membangun mahligai rumah tangga bersama pemuda lain.

Dan sejak saat itu, Enosh mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apakah cinta benar-benar membutuhkan kesetiaan, atau hanya membutuhkan seseorang yang memiliki masa depan yang lebih pantas untuk dipilih?

Elegi cinta Enosh terus berulang, seperti lagu duka yang tak pernah menemukan akhir. Dari satu perempuan kepada perempuan berikutnya, dari satu harapan kepada harapan yang kembali patah, ia terus berjalan membawa hati yang semakin penuh luka. Hingga pada suatu ketika, orang-orang mulai menudingnya sebagai lelaki gila cinta.

Tuduhan-tuduhan itu mula-mula hanya terdengar seperti bisik-bisik. Namun, semakin lama, ia berubah menjadi vonis yang dilemparkan terang-terangan kepadanya. Tak seorang pun benar-benar bertanya apa yang terjadi di dalam dirinya. Tak seorang pun ingin tahu dari mana datangnya kegelisahan, amarah, dan tingkahnya yang kian tak menentu.

Dan dari tuduhan-tuduhan yang tak mendasar itulah, perlahan tumbuh keberingasan dalam diri Enosh.

Bukan karena ia sejak awal ingin menjadi liar, melainkan karena luka yang terus-menerus ditekan akhirnya mencari jalan untuk keluar. Cinta yang dahulu membuatnya lembut, sedikit demi sedikit menjelma bara. Di dalam dada Enosh, kasih dan amarah mulai sulit dibedakan; keduanya tumbuh dari akar yang sama—keinginan sederhana seorang manusia untuk dicintai dan diterima.

“Eh, Enosh melamun...?”

Suara Pak Nas membuat Enosh terkesiap. Lamunannya seketika pecah. Ia baru menyadari bahwa di hadapannya telah berdiri Pak Nas bersama empat orang perawat yang sudah seperti sahabat. Satu per satu mereka kembali menyalaminya. Tiga perawat perempuan belia dengan wajah ayu dan seorang perawat lelaki berdiri di samping Pak Nas, menyisakan senyum yang hangat.

Perawat lelaki itu tiba-tiba mencandainya.

“Untuk sekadar Enosh tahu,” katanya sambil terkekeh, “ketiga perempuan ini sebenarnya juga pernah menolak cintaku,” seraya melanjutkan: "Namun, kemudian ketiganya menjadi sahabat dekat."

Enosh terdiam sesaat. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lainnya. Ketiga perempuan itu tersenyum malu-malu, sebagian menundukkan kepala, seakan-akan kalimat itu membuka sebuah rahasia lama yang seharusnya tetap tersimpan.

Pak Nas ikut tertawa kecil.

Enosh pun tersenyum. Entah karena candaan itu menghiburnya, atau karena untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kisah cintanya yang begitu pahit ternyata masih bisa ditertawakan tanpa harus menyakitinya.

Namun jauh di dasar hatinya, sebuah pertanyaan kembali mengetuk:

Benarkah dirinya memang gila cinta, atau hanya terlalu lama hidup tanpa menemukan seseorang yang bersedia tinggal?(***).

Banda Aceh, 9 September 2026

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement