Estafet Jas Putih

Dalam lelah tetap mengabdi, demi sehatnya bumi Pidie. “Seperti jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh, solidaritas dokter menjadi tenaga yang menghidupkan organisasi".
Kalimat itu terasa relevan menggambarkan suasana pelantikan dan Rapat Kerja Ikatan Dokter Indonesia Cabang Pidie, yang berlangsung di Oproom Setdakab Pidie, Sabtu (9/5/2026), ketika semangat kebersamaan kembali diteguhkan dalam satu tujuan, melanjutkan pengabdian demi kesehatan masyarakat.
Pelantikan pengurus baru bukan sekadar pergantian struktur organisasi. Ia ibarat pergantian denyut dalam satu tubuh yang sama, berganti ritme, tetapi tetap menjaga kehidupan agar tidak berhenti.
Di balik prosesi yang berlangsung khidmat, tersimpan amanah besar untuk menjaga marwah profesi kedokteran sekaligus memperkuat peran organisasi di tengah tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.
Prosesi pelantikan pengurus baru dilakukan langsung oleh Ketua IDI Wilayah Aceh, Dr. dr. Muntadar, Sp.B, Subsp.Ped(K). Dalam suasana penuh kekeluargaan, pelantikan tersebut menjadi simbol lahirnya semangat baru bagi perjalanan organisasi profesi dokter di Kabupaten Pidie.
Dalam kepengurusan baru itu, dr. T. Jauhardin STB, Sp.BS, M.H.Kes dipercaya sebagai Ketua IDI Cabang Pidie periode 2025–2028. Ia didampingi dr. Rudi Agustika, Sp.P sebagai Wakil Ketua, dr. Agustina Ismail, M.Sc., Sp.DVE sebagai Sekretaris, dr. Chera Maulina sebagai Wakil Sekretaris, dr. Meta Maulinda, Sp.PD sebagai Bendahara, serta dr. Nora Asrida sebagai Wakil Bendahara.
Ketua panitia kegiatan, dr. M. Iqbal Amin, Sp.JP(K), FIHA mengatakan, kegiatan pelantikan dan rapat kerja tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antaranggota sekaligus meneguhkan peran IDI Pidie sebagai garda terdepan dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sekitar 200 dokter hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut yang diawali dengan sidang pleno untuk menentukan arah organisasi ke depan.

“Kegiatan ini bukan hanya pelantikan semata, tetapi momentum memperkuat kebersamaan dan merumuskan langkah organisasi agar IDI Pidie semakin berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain rapat kerja dan pelantikan pengurus, rangkaian kegiatan juga diisi dengan promosi kesehatan di MAN dan SMA Sigli sebagai bentuk edukasi kesehatan kepada generasi muda.
“IDI harus terus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat masyarakat sakit, tetapi juga dalam upaya promotif dan preventif demi melahirkan masyarakat yang sehat,” katanya.
IDI Cabang Pidie telah melalui perjalanan panjang yang dibangun oleh dedikasi banyak generasi dokter. Organisasi ini ibarat pohon tua yang akarnya tertanam kuat dalam tanah pengabdian.
Dari akar itulah tumbuh cabang-cabang harapan yang menaungi masyarakat melalui pelayanan kesehatan, bakti sosial, hingga perjuangan menjaga etika profesi.
Pemutaran video napak tilas dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian selalu meninggalkan jejak.
Ada pengorbanan, ada perjuangan, dan ada nama-nama sejawat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Bahkan mereka yang telah berpulang tetap dikenang, laksana pelita yang mungkin telah redup cahayanya, tetapi sinarnya masih terasa menerangi perjalanan generasi berikutnya.
Momentum ini juga memperlihatkan bahwa IDI bukan sekadar tempat berhimpun para dokter. Ia ibarat rumah besar yang dibangun dengan tiang persaudaraan dan atap kebersamaan.
Dalam rumah itulah para dokter saling menguatkan di tengah tantangan profesi yang kian berat.
Rapat kerja yang dilaksanakan sejak pagi menjadi langkah penting dalam menata arah organisasi ke depan.
Sebab organisasi tanpa arah ibarat kapal tanpa kompas, bergerak, tetapi mudah kehilangan tujuan. Tantangan dunia kesehatan hari ini menuntut organisasi profesi untuk lebih adaptif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dokter tidak hanya dituntut cakap secara keilmuan, tetapi juga mampu menghadirkan pelayanan yang humanis dan penuh empati.
Karena pada hakikatnya, dokter bukan sekadar penyembuh penyakit, melainkan penjaga harapan bagi mereka yang sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.Dalam konteks itulah solidaritas menjadi kekuatan utama.
Seperti aliran darah yang tidak pernah berhenti menghidupkan tubuh, kebersamaan antaranggota menjadi energi yang menjaga organisasi tetap hidup dan bergerak. Ketika solidaritas melemah, organisasi akan kehilangan denyutnya.
Selama ini, IDI Pidie juga dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Organisasi profesi tersebut aktif melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, mulai dari bakti sosial kesehatan, pengobatan gratis, membantu pembangunan rumah dhuafa, memperhatikan anak yatim dan fakir miskin, hingga mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu dan berprestasi.
Bahkan, banyak anggota IDI Pidie yang secara diam-diam menjadi orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu di Kabupaten Pidie.
Mereka membantu biaya sekolah, membeli buku, hingga mendukung pendidikan tinggi anak-anak yang hampir kehilangan harapan akibat keterbatasan ekonomi.
Seorang dokter anggota IDI Pidie yang berbincang dengan Waspada.id yang enggan disebutkan namanya mengaku telah lama menjadi orang tua asuh bagi beberapa anak di Pidie.
“Kami hanya ingin mereka jangan berhenti sekolah. Kadang anak-anak itu hanya butuh satu tangan yang menggenggam agar mereka tidak jatuh,” ujarnya lirih.
Kalimat itu sederhana, namun mengandung makna yang mendalam. Seperti infus yang menetes perlahan namun menyelamatkan kehidupan, bantuan pendidikan itu mungkin tidak tampak besar, tetapi mampu menjaga mimpi anak-anak tetap hidup.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Pidie terhadap IDI Cabang Pidie juga menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan membutuhkan kolaborasi yang erat.
Wakil Bupati Pidie Alzaizi Umar menegaskan bahwa IDI merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sebab kesehatan masyarakat ibarat bangunan besar yang tidak bisa ditegakkan hanya dengan satu tiang.
Ia membutuhkan kerja bersama, kepedulian, dan rasa tanggung jawab yang dipikul secara kolektif.
Pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar angka dalam laporan, bukan pula deretan program yang selesai di atas meja rapat.
Ia adalah wajah-wajah masyarakat yang berharap sembuh, tangis keluarga yang ingin melihat orang tercinta pulang dengan selamat, serta tangan-tangan pengabdi yang tetap bekerja meski lelah sering datang diam-diam.
Dokter dan masyarakat sejatinya ibarat akar dan pohon; saling terhubung untuk menjaga kehidupan tetap tumbuh. Ketika solidaritas dirawat, maka harapan akan terus menemukan jalannya.
Jika pelita padam diterpa malam, masih ada fajar membawa terang. Jika langkah pengabdian terus ditanam, maka sehat dan harapan akan terus pulang.
Dan seperti denyut nadi yang tidak pernah meminta tepuk tangan untuk tetap bekerja, demikian pula pengabdian para dokter, sunyi, namun menjadi alasan banyak kehidupan tetap bertahan.
Muhammad Riza



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda