Breaking News
Memuat breaking news...

FFW Gelar Nobar Anak-Anak Bambu, Film Sederhana namun Sarat Makna

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 1.01 PM WIB
FFW Gelar Nobar Anak-Anak Bambu, Film Sederhana namun Sarat Makna
Suasana tanya jawab bersama Direktur Film Musik dan Seni Kemenbud Irini Dewi Wanti dan Ketua FFW Benny Bengke usai nobar film Anak-anak Bambu di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Studio 1 CGV Slipi Jaya Plaza, Jakarta, siang itu dipenuhi riuh suara anak-anak yang antusias menunggu film diputar. Suasana terasa hangat dengan penonton yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga yang membawa balita hingga puluhan pelajar SMK.

Kegiatan nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film Anak Anak Bambu di CGV Slipi Jaya, Kamis (6/8/2026) itu diselenggarakan Festival Film Wartawan (FFW) 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 100 penonton itu menjadi ruang edukasi untuk membahas nilai kemanusiaan, pendidikan keluarga, hingga potensi ekonomi kreatif yang diangkat dalam film tersebut.

Di jajaran bangku paling belakang ada Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti beserta jajaran panitia Festival Film Wartawan (FFW) yang dikomandoi Benny Bengke. Sejumlah anggota Komite Seleksi FFW juga hadir. Para pelajar SMK yang ikut nobar berasal dari SMK Prima Unggul 98 Ciledug, Jakarta, jurusan Broadcasting.

Saat lampu studio diredupkan, film Anak Anak Bambu membuka cerita dengan pemandangan kampung bambu yang asri. Sejumlah anak bermain riang di tengah rimbunnya pohon bambu dan rumah-rumah sederhana yang menjadi latar utama cerita. Suasana pedesaan yang tenang menjadi pintu masuk bagi penonton untuk mengikuti kisah sebuah keluarga yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi.

Alur cerita berkembang sederhana dengan mengangkat konflik kehidupan keluarga yang harus berhadapan dengan tekanan ekonomi dan kepentingan bisnis properti yang mengincar kawasan tempat tinggal mereka. Tanpa banyak adegan spektakuler, film ini lebih mengandalkan kekuatan pesan yang ingin disampaikan.

Tema kepedulian terhadap lingkungan, solidaritas sosial, perlindungan anak, pentingnya pendidikan, hingga ketahanan keluarga menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan cerita. Pesan-pesan tersebut disampaikan secara lugas sehingga mudah dipahami oleh penonton dari berbagai usia.

Dari sisi penyajian, Anak Anak Bambu besutan sutradara Dyan Sunu Prastowo memang tidak menawarkan banyak kejutan dalam alur maupun pengembangan konfliknya. Namun, kesederhanaan itulah yang membuat pesan moral yang diusung terasa lebih mudah diterima, terutama bagi penonton keluarga dan kalangan pelajar yang menjadi sasaran utama pemutaran film dalam rangkaian Festival Film Wartawan 2026.

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, mengapresiasi film Anak Anak Bambu karena dinilai tidak hanya menghadirkan kisah yang menyentuh emosi, tetapi juga memperkaya literasi masyarakat tentang budaya dan lingkungan.

Film Anak Anak Bambu menjadi salah satu film pilihan dalam program nobar FFW 2026 karena dinilai mampu memperkenalkan budaya lokal sekaligus menyampaikan pesan moral tentang keluarga, pendidikan, dan kepedulian terhadap lingkungan kepada masyarakat luas.

"Kampung bambu dalam film ini dimiliki seorang abah. Nah, abah ini adalah seorang yang sangat paham tentang ekologi bambu beserta filosofinya," ujar Irini usai pemutaran film.

Menurutnya, film tersebut mengingatkan masyarakat akan pentingnya bambu dalam kehidupan sekaligus menyampaikan pesan kuat mengenai ketahanan keluarga dan pendidikan anak.

Ia menilai kisah perjuangan sepasang suami istri yang berupaya menyekolahkan anaknya menggambarkan realitas yang dihadapi banyak keluarga Indonesia.

"Bagaimana mengajarkan tentang kehidupan dalam sebuah keluarga. Ada sepasang suami istri yang bela-belain menyekolahkan anaknya. Tujuannya baik. Tapi dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak memungkinkan, sebenarnya tidak ada salahnya tidak mesti memaksakan," katanya.

Irini menegaskan bahwa pendidikan tidak selalu harus diperoleh melalui jalur formal. Lingkungan keluarga yang hangat juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.

"Pendidikan juga bisa didapatkan dari keluarga yang hangat, pendidikan yang inklusif di dalam rumah bambu. Sehingga nilai-nilai moral juga menjadi penting bagi kehidupan di dalam sebuah keluarga," ujarnya.

Selain mengangkat kisah keluarga, film ini juga menampilkan latar kampung bambu yang dinilai memiliki kekuatan visual sekaligus potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

"Ini kan memang sesuatu yang baru yang ke depannya bisa dipromosikan sebagai sebuah destinasi kalau misalnya kita bicara wisata. Potensi ekonomi kreatif lainnya," tutur Irini.

Secara keseluruhan, ia menilai film Anak Anak Bambu berhasil membangun kedekatan emosional dengan penonton meski mengusung tema yang cukup akrab dalam perfilman Indonesia.

"Secara emosional bisa menguras emosi walau alurnya sudah banyak di film-film lain yang hampir seperti ini," ungkapnya.

Film bergenre drama keluarga 'Anak-anak Bambu 'dirilis pada 23 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Film ini dibintangi oleh Ayushita sebagai Netta, Irgi Achmad Fahrezi sebagai Nino, serta Muhammad Adhiyat sebagai Gebang. (id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement