Breaking News
Memuat breaking news...

FSRD IKJ: Seni dan Estetika Kota Tumbuh dari Kreativitas Warga

Redaksi
Redaksi
Rabu, 22 Juli 2026 - 4.22 PM WIB
FSRD IKJ: Seni dan Estetika Kota Tumbuh dari Kreativitas Warga
Kaprodi DKV FSRD IKJ Beng Rahadian dan Wakil Dekan FSRD IKJ Nita Trismaya, di sela kegiatan Seminar Nasional Seni Pusaran Urban 6 di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Seni dan estetika kota tidak hanya dibentuk oleh seniman, tetapi juga oleh warga melalui berbagai aktivitas kreatif dan kebudayaan sehari-hari. Warga perlu memiliki ruang untuk berkarya dan mengekspresikan diri, yang tidak selalu harus berupa galeri atau ruang seni formal.

“Jakarta tumbuh bukan hanya oleh seniman saja, tetapi juga oleh warga-warga,” ujar Ketua Program Studi (Kaprodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (FSRD IKJ) Dr. Bambang Tri Rahadian, M.Sn atau akrab disapa Beng Rahadian dalam Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 yang digelar FSRD IKJ, Rabu (22/7/2026).

Menurut Beng, masyarakat dapat mengorganisasi diri dan menciptakan kegiatan kreatif berdasarkan kebutuhan serta minat mereka. Ruang berkarya bagi warga juga tidak harus berada di galeri atau tempat seni formal.

“Setiap warga, setiap tempat itu sebenarnya bisa mengorganisasi diri. Bisa berkumpul, ibu-ibu, warga biasa, kemudian membuat sesuatu. Tidak harus seniman yang ada di situ,” ujarnya.

Seminar tersebut merupakan agenda rutin tahunan FSRD IKJ yang pelaksanaannya digilir antarprogram studi. Pada tahun ini, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Program Studi DKV dengan mengangkat tema yang berfokus pada dinamika urban dan perkembangan seni di Jakarta.

Beng mengatakan, sebagai perguruan tinggi seni yang berada di Jakarta, IKJ memiliki perhatian khusus terhadap dinamika perkotaan.

Jakarta, kata dia, tidak hanya dibentuk oleh karya seniman, tetapi juga oleh warga yang menciptakan berbagai ekspresi, aktivitas, dan kebudayaan di ruang kota.

Beng juga menegaskan, keberadaan kampus seni tidak seharusnya terpisah dari lingkungan sosial di sekitarnya. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang untuk mendidik mahasiswa, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kita kampus seni yang ada di Jakarta tidak boleh menjadi menara gading, tidak asyik sendiri, tidak merasa paling nyeni, paling indah, atau paling hebat sendiri,” katanya.

Menurut dia, setiap warga memiliki hak untuk menikmati dan menciptakan pengalaman estetik. Karena itu, perguruan tinggi seni perlu membangun kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah, dan berbagai lembaga.

Salah satu contoh kolaborasi tersebut adalah keterlibatan IKJ dalam Festival Kali Pasir yang melibatkan warga. Menurut Bambang, kegiatan semacam itu dapat menjadi model bagaimana kampus memberikan dampak langsung bagi lingkungan sekitar.

“Fungsi sekolah itu harusnya bukan cuma mendidik mahasiswa, tetapi juga harus punya dampak ke lingkungan,” katanya.

Ia menambahkan, upaya tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat dan dilakukan secara bertahap. “Karena Jakarta ini terlalu besar, yang kecil dulu saja,” ujarnya.

Kreativitas Warga Membentuk Kultur Kota

Beng juga melihat warga Jakarta memiliki kreativitas yang tinggi dalam membangun kebudayaan kota. Salah satu contohnya adalah komunitas “Dari Halte ke Halte” yang memanfaatkan media sosial untuk memetakan tempat makan kecil di sekitar halte transportasi umum.

Komunitas tersebut, kata dia, tidak hanya merekomendasikan restoran besar, tetapi juga warung-warung kecil yang dekat dengan halte. Informasi yang dibagikan kemudian mendorong masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Menurutnya aktivitas semacam itu menunjukkan bahwa kreativitas warga dapat berkembang menjadi bagian dari kultur kota. Bahkan, rekomendasi makanan yang awalnya dibagikan melalui media sosial dapat berkembang menjadi ilustrasi, kegiatan seni, dan aktivitas kebudayaan.

“Jadi bukan cuma kegiatan senang-senang buat orang yang suka makan lalu merekomendasikan, tetapi menjadi kegiatan art, menjadi kegiatan kultur kota,” katanya.

Estetika Tidak Sekadar Keindahan

Wakil Dekan III FSRD IKJ bidang Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Nita Trismaya, S.Sn., M.Ds., menambahkan, kompleksitas Jakarta membuat estetika kota tidak dapat dipahami hanya dari aspek keindahan visual.

Jakarta, menurut Nita, merupakan ruang pertemuan berbagai budaya dan latar belakang masyarakat. Berbagai komunitas membawa pengalaman, kebiasaan, dan ekspresi budaya masing-masing ke dalam kehidupan kota.

Ia mencontohkan komunitas warga dari berbagai daerah yang dahulu berkumpul di sekitar Bundaran Hotel Indonesia untuk melepas rindu terhadap kampung halaman. Aktivitas tersebut kemudian dianggap mengganggu keteraturan ruang kota dan akhirnya dipinggirkan.

Menurutnya, pengalaman warga seperti itu kerap luput dalam cara pandang pembangunan kota yang terlalu menekankan keteraturan visual.

“Rakyat kecil itu terabaikan. Tidak punya ruang untuk melepaskan kangen,” ujarnya.

Nita menilai pengalaman warga dalam menjalani kehidupan kota juga merupakan bagian dari estetika. Jakarta yang serba cepat, interaksi antarwarga, aktivitas komunitas, hingga penggunaan barang-barang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, merupakan pengalaman estetik yang tidak selalu identik dengan sesuatu yang indah.

“Estetika itu tidak sekadar indah saja. Estetika juga bisa pengalaman, bahkan sesuatu yang mungkin tidak indah,” katanya.

Karena itu, ia menilai diperlukan upaya untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai estetika. Akademisi dan seniman, menurutnya, perlu membangun kerja sama dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pameran, seminar, dan aktivitas edukasi.

IKJ juga berupaya membumikan seni melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Nita mengatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk berinteraksi langsung dengan warga. Dalam proses tersebut, terjadi pertukaran pengetahuan antara akademisi, seniman, dan masyarakat.

Menurut dia, masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi seniman. Sebaliknya, akademisi dan seniman juga dapat berbagi pengetahuan serta keterampilan yang mereka miliki kepada masyarakat.

“Akademisi dan seniman juga membutuhkan pengetahuan dari masyarakat sebagai ide untuk membuat karya. Masyarakat juga membutuhkan hal-hal yang mungkin tidak mereka dapatkan dalam keseharian,” ujarnya.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan, antara lain festival, workshop, open house, serta pelatihan kreatif bagi masyarakat dan pelajar. IKJ, misalnya, mengundang siswa SMK untuk mengikuti berbagai lokakarya seperti pembuatan komik strip dan kegiatan kreatif lainnya.

Menurut Nita, keterlibatan perguruan tinggi dengan masyarakat merupakan bagian penting dari gagasan kampus berdampak.

“Dengan kampus berdampak, kita memang didorong untuk semakin membaur dengan masyarakat,” katanya.

Melalui pendekatan tersebut, IKJ ingin menegaskan bahwa seni bukanlah sesuatu yang eksklusif. Seni dan estetika dapat tumbuh dari pengalaman sehari-hari, kreativitas warga, interaksi komunitas, serta berbagai aktivitas yang kehidupan kota.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement