Gelorakan Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari: Santri, Bangsa Ini Menunggumu!


Oleh: Cak Udin
Tebuireng adalah dusun yang termasuk wilayah administrasi Desa Cukir Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur yang kemudian dijadikan nama pesantren oleh KH. Hasyim Asy'ari, dipesantren inilah gagasan Resolusi Jihad 1945 dilahirkan. Hari Santri 22 Oktober bukan sekadar kalender merah di dinding pesantren. Ia adalah rekaman sejarah ketika KH. Hasyim Asy’ari, melalui Resolusi Jihad 1945, membakar keberanian santri untuk mempertahankan kemerdekaan dari cengkeraman penjajah. Kini, 81 tahun kemudian, bangsa ini tidak ada agresi militer, melainkan adanya krisis kepercayaan, polarisasi sosial, dan wabah informasi yang menggerogoti nalar publik. Di titik inilah pertanyaan mendasar itu harus diajukan: masih adakah sisa “gelora” Resolusi Jihad pada tubuh santri hari ini?
Resolusi Jihad yang diputuskan dalam rapat besar para Ulama dan Santri di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945 itu lahir dari sebuah kesadaran kolektif yang jernih. Teksnya tidak berbicara tentang kebencian buta, melainkan tentang kewajiban mempertahankan agama dan kedaulatan negara yang sedang terancam . KH. Hasyim Asy’ari tidak meniupkan api permusuhan ia menyalakan obor tanggung jawab. Fatwa itu menjadi pemicu perlawanan 10 November 1945, yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan . Artinya, Resolusi Jihad adalah bukti bahwa Islam dan kebangsaan tidak pernah berseberangan, melainkan saling menguatkan.
Dulu, musuh datang dengan senjata dan seragam tentara. Sekarang, musuh itu sering hadir lewat layar HP, hoaks yang menyamar sebagai kebenaran, ujaran kebencian yang dibalut ayat, dan provokasi yang membelah masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling curiga. Dalam kondisi seperti ini, jihad tidak lagi bisa dimaknai sempit sebagai angkat senjata. Jihad hari ini adalah melawan kebohongan, merawat persatuan, dan menolak segala bentuk kezaliman, termasuk yang dilakukan oleh tangan-tangan kita sendiri saat menekan tombol “share” tanpa berpikir.
Ironisnya, di tengah derasnya arus informasi, sebagian Santri justru ikut terseret menjadi korban sekaligus pelaku. Ada yang sibuk membela kelompoknya sendiri dengan cara mencaci pihak lain. Ada pula yang lebih fasih mengutip hadis untuk menghina daripada mengutipnya untuk menenangkan. Jika begini caranya, Resolusi Jihad hanya akan menjadi teks kuning yang dibaca sekali setahun, lalu dilupakan. Padahal, semangat KH. Hasyim Asy’ari menuntut lebih dari itu, keberanian untuk berdiri di atas kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak populer di lingkungan sendiri.
Ada satu hal yang sering luput dari peringatan Hari Santri, Resolusi Jihad bukan produk emosi, melainkan hasil ijtihad kolektif yang melalui pertimbangan matang. Para kiai berkumpul, mendengar, menimbang, mengingat, lalu memutuskan. Itulah tradisi keilmuan pesantren yang sesungguhnya. Maka, gelora yang perlu digelorakan kembali bukanlah gelora untuk berteriak paling keras, melainkan gelora untuk berpikir paling jernih. Santri harus menjadi kelompok yang paling awal curiga terhadap informasi yang belum terverifikasi, dan paling akhir dalam menyebarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
Bangsa ini membutuhkan Santri yang tidak hanya pandai membaca kitab kuning, tetapi juga cakap membaca situasi. Santri yang bisa menjelaskan bahwa menjaga keutuhan NKRI adalah bagian dari menjaga agama. Santri yang tidak mudah diadu domba oleh kepentingan politik sesaat. Jika KH. Hasyim Asy’ari pada 1945 memanggil umat untuk melawan penjajah yang nyata di depan mata, maka santri hari ini dipanggil untuk melawan penjajahan yang lebih halus penjajahan atas pikiran, penjajahan atas rasa kebersamaan, dan penjajahan atas masa depan generasi mendatang.
Hari Santri bukan waktunya berhenti pada apel, expo dan lomba. Ia harus menjadi momentum untuk kembali menyalakan api yang sama, api keberanian, api kejernihan, dan api tanggung jawab. Bangsa ini sedang menunggu mu Wahai Santri seluruh Indonesia. Wallohu'alam bishowab
Penulis adalah Santri Abadi, Birokrat Santri dan Pegiat Pesantren
Berita Terkait













































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda