Breaking News
Memuat breaking news...

GENANG CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 8 Juli 2026 - 1.30 PM WIB
GENANG CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH menghadirkan cerpen berjudul: Genang, sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh ranah percintaan dan kehilangan, tetapi juga menjadi cermin kegelisahan manusia di era digital.

Melalui alur yang tenang, reflektif, dan puitis, Agusni AH mengajak pembaca merenungkan betapa rapuhnya kepercayaan ketika teknologi mampu menghadirkan kebohongan yang tampak lebih meyakinkan daripada kenyataan.

Cerpen ini tidak menempatkan kecerdasan buatan sebagai musuh, melainkan mengingatkan bahwa manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Di tengah derasnya arus informasi, nilai tabayun, empati, dan kehati-hatian menjadi semakin penting agar kebenaran tidak kalah oleh kesan pertama. Pada saat yang sama, Genang juga berbicara tentang memaafkan, menerima, dan berdamai dengan masa lalu—bahwa tidak semua luka harus dihapus, tetapi semua luka dapat diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Dengan bahasa yang kontemplatif, metaforis, dan sarat renungan, cerpen ini mengajak pembaca menyadari bahwa kemajuan teknologi harus selalu diiringi kematangan nurani. Sebab, yang paling mudah hancur di zaman ini bukanlah sistem digital, melainkan kepercayaan antarmanusia. Itulah yang membuat Genang relevan sebagai karya sastra sekaligus pengingat moral bagi kehidupan kita hari ini. Berikut Agusni AH mengisahkannya:

GENANG

ADA kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berhenti mengalir, lalu menggenang di sudut-sudut ingatan seperti air hujan yang tertahan di lekuk tanah. Waktu boleh saja berjalan, musim boleh berganti, bahkan manusia dapat berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Namun ada luka yang diam-diam tetap tinggal, memantulkan bayangan masa lalu setiap kali hati mencoba menatap ke dalam dirinya sendiri.

Sebab tidak semua yang menggenang lahir dari air mata. Ada yang berasal dari kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan, dari kepercayaan yang pecah sebelum sempat menjelaskan dirinya, dari cinta yang dikalahkan oleh sesuatu yang tampak lebih meyakinkan daripada kebenaran. Genangan-genangan itu tidak berisik. Ia hanya diam, tetapi kesunyiannya mampu menggema lebih lama daripada segala tangis yang pernah pecah.

Mungkin karena itulah manusia kerap merasa pulang bukan ketika kembali menginjak tempat yang pernah ditinggalkannya, melainkan ketika akhirnya berani menatap luka yang selama ini disembunyikan dari dirinya sendiri. Sebab jalan yang paling jauh bukanlah perjalanan menuju kampung halaman, melainkan perjalanan kembali menuju hati yang pernah kehilangan kepercayaan.

Dan lelaki itu datang membawa perjalanan semacam itu. Bukan untuk mencari seseorang, bukan pula untuk menghidupkan kembali apa yang telah selesai. Ia hanya ingin memastikan apakah kenangan yang selama ini menggenang di dalam dirinya akhirnya telah menemukan jalan untuk mengalir menuju keikhlasan.

Lelaki itu tiba saat matahari tengah merangkak naik, tepat pukul sepuluh pagi. Angin bergerak pelan, seakan ikut mengusik kenangan yang bertahun-tahun mengendap di kampung itu. Langkahnya berhenti sesaat di batas jalan yang dahulu begitu akrab. Ia memandang sekeliling dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Antara rindu, asing, dan kehilangan mengaduk di relung terdalam jiwanya.

Kedatangannya kali ini bukan sebagai seorang warga yang pulang setelah lama meninggalkan tempat yang pernah ia diami. Bukan pula sebagai petugas sensus penduduk yang selama bertahun-tahun menyusuri lorong-lorong kampung kedua itu. Dahulu ia mengetuk pintu demi pintu, menghafal nama, usia, kelahiran, kematian, hingga perpindahan orang-orang yang perlahan menjadi bagian dari ingatannya sendiri.

Delapan tahun pekerjaan itu dijalaninya dengan kesabaran yang nyaris tanpa pujian. Ia berjalan di bawah terik matahari, menembus hujan, menyusuri jalan-jalan berlumpur, hanya untuk memastikan setiap jiwa tercatat sebagai bagian dari negeri ini. Honorarium yang diterimanya memang tak seberapa, namun baginya pengabdian tak pernah dapat diukur dengan angka. Sedikit demi sedikit pendapatannya disimpan seperti menabung harapan. Dari lembar-lembar uang yang lusuh itulah akhirnya ia mampu mempersunting seorang perempuan yang sejak lama diam-diam memenuhi ruang paling sunyi di hatinya, rekan kerja yang sama-sama memahami arti pengabdian dan percaya bahwa mimpi sering kali hanya dapat dibangun dari kesabaran.

Kini, musim itu telah berlalu sedianya menggulung harapan dan masa depannya. Ia kembali berdiri di kampung yang pernah memberinya begitu banyak alasan untuk bertahan. Namun kampung itu tak lagi sama. Atau mungkin, yang berubah justeru dirinya sendiri. Waktu tak hanya sekadar bergerak maju, namun ikut menggeser keadaan, merubah makna. Rumah berubah menjadi sebutan bangunan yang di dalamnya pasti ada ruang-ruang, dan ruang itu berubah hampa lantaran tanpa penghuni di dalamnya. Begitupun ruas-ruas jalan yang hari-hari ditapakinya kini menjelma menjadi lorong kenangan di batinnya. Nama-nama yang dahulu begitu akrab kini tinggal gema yang hanya terdengar di dalam ingatan.

Ia menarik napas panjang.

Di hadapannya terbentang kampung yang masih bernama sama. Namun di dalam dadanya, ia sedang memasuki tempat yang sama sekali berbeda—ruang tempat masa lalu dan masa kini saling memandang, namun bagai tak saling mengenali.

Sejak meninggalkan kampung itu tiga tahun silam, tak ada lagi kabar yang benar-benar sampai kepadanya. Kampung itu seolah tenggelam di balik lipatan waktu. Ia tak lagi mengetahui siapa yang telah berpulang, siapa yang masih setia menunggu senja di beranda rumah, atau pohon mana yang telah tumbang diterpa angin.

Tentang Cut Ceudah pun, ia hanya mengenalnya melalui kenangan yang perlahan kehilangan wajah.

Pernikahan mereka tak sempat bertumbuh menjadi pohon yang rindang. Ia gugur ketika akar-akarnya baru belajar mencari tanah. Atas dasar bukti-bukti yang dianggap meyakinkan, Cut Ceudah memilih mengakhiri ikatan itu. Perkara itu kemudian diproses melalui jalur hukum hingga perceraian mereka memperoleh putusan yang sah.

Bagi lelaki itu, putusan tersebut bukan sekadar berakhirnya rumah tangga. Ia merasa keyakinannya terhadap cinta ikut runtuh bersama palu hakim yang mengetuk meja persidangan.

Tuduhan perselingkuhan menjadi luka yang paling sulit disembuhkan.

Foto-foto dan rekaman video yang beredar tampak begitu nyata. Wajahnya, suaranya, gerak tubuhnya—semuanya seolah membuktikan bahwa ia memang bersalah. Di hadapan gambar yang terlihat meyakinkan, penjelasan sering kali kehilangan daya.

Belakangan muncul dugaan bahwa materi digital itu merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan.

Namun semuanya telah terlambat.

Nama baiknya lebih dahulu dihukum oleh ruang publik.

Ia kemudian memahami sesuatu yang tak pernah diajarkan sekolah mana pun.

Teknologi tidak selalu menciptakan kemajuan. Kadang ia juga menciptakan kemiripan yang nyaris sempurna antara kebohongan dan kenyataan. Wajah dapat dipalsukan. Suara dapat ditiru. Peristiwa dapat direkayasa. Dan ketika semuanya tampak nyata, manusia lebih mudah mempercayai mata daripada hati.

Yang paling rapuh di zaman ini ternyata bukan perangkat lunak ataupun jaringan internet.

Melainkan kepercayaan.

Dan ketika kepercayaan runtuh, tak ada teknologi yang benar-benar mampu membangunnya kembali.

Ia menjadi salah seorang yang terluka oleh keganasan zaman.

Zaman yang sering menjatuhkan putusan lebih cepat daripada memberi kesempatan untuk mendengar penjelasan.

Orang-orang lebih suka membagikan kabar daripada memeriksanya. Lebih senang menghakimi daripada bertanya. Tabayun perlahan kehilangan tempatnya, digeser derasnya arus informasi yang datang tanpa jeda.

Reputasi dapat runtuh hanya dalam hitungan menit.

Namun memulihkannya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Bahkan terkadang seumur hidup pun belum tentu cukup.

Sejak itu lelaki itu memahami bahwa luka terdalam bukan selalu berasal dari kenyataan, melainkan dari sesuatu yang dipercaya sebagai kebenaran sebelum kebenaran itu sendiri sempat menampakkan wajahnya.

Kini ia kembali.

Bukan sebagai anak kampung yang pulang menjemput kenangan.

Melainkan sebagai seseorang yang diutus lembaganya untuk memberikan sosialisasi tentang digitalisasi dan literasi.

Sebuah ironi yang nyaris terasa kejam.

Teknologi yang pernah merenggut ketenteraman hidupnya kini justru menjadi materi yang harus ia jelaskan kepada orang lain.

Ketika menerima surat tugas itu, ia sempat mengajukan keberatan. Nama kampung tersebut membuat dadanya sesak. Ia berharap ada rekan lain yang dapat menggantikannya.

Namun tak seorang pun memiliki pengalaman yang dianggap memadai.

Akhirnya ia menerima.

Bukan karena keberanian telah mengalahkan ketakutannya.

Melainkan karena tanggung jawab sering kali memaksa seseorang berjalan melewati tempat-tempat yang paling ingin dihindarinya.

Yang paling ia takutkan bukan cibiran warga.

Bukan pula bisik-bisik yang mungkin masih mengikutinya.

Ia justru takut pada dirinya sendiri.

Takut bila rasa yang selama ini dikiranya telah selesai ternyata hanya tertidur.

Takut bila rindu dan luka bertemu dalam dada yang sama.

Dan yang paling menggelisahkannya adalah kemungkinan bertemu Cut Ceudah.

Sebab ia tahu, ada pertemuan yang tak lagi mampu mempertemukan dua hati.

Ruang pertemuan desa telah dipenuhi peserta.

Suara percakapan memenuhi ruangan.

Namun ketika lelaki itu melangkah melewati ambang pintu, seluruh suara seolah lenyap.

Takdir mempertemukan mereka dalam jarak yang nyaris bersentuhan.

Cut Ceudah berdiri di sana sebagai salah seorang panitia.

Mereka hampir berpapasan.

Tanpa senyum.

Tanpa sapa.

Tanpa sepatah kata.

Lelaki itu membalas dengan sikap yang sama.

Tenang di wajah.

Berguncang di dada.

Ia mencuri pandang.

Hanya sesaat.

Namun sesaat itu terasa lebih panjang daripada tiga tahun perpisahan.

Sorot mata perempuan itu masih menyimpan keteduhan yang sama. Kerudung yang menjuntai rapi menutupi dadanya membuat waktu seolah kehilangan kuasa. Usia memang bertambah, tetapi ada kenangan yang tetap bertahan sebagaimana pertama kali diciptakan.

Ia segera mengalihkan pandangan.

Bukan karena tak ingin melihat lebih lama.

Melainkan karena takut matanya menjadi pengkhianat yang membocorkan seluruh rahasia hati.

Bukankah ada rindu yang seharusnya dikuburkan bersama kenangan?

Bukankah ada luka yang lebih baik tetap menjadi sunyi?

Cut Ceudah tetap memandang datar.

Tak ada isyarat.

Tak ada celah.

Tak ada bahasa yang dapat dibaca.

Acara dimulai. Setelah pengantar moderator, lelaki itu dipersilakan mempresentasi.

Ia memegang mikrofon beberapa detik tanpa bicara.

Tatapannya menyapu seluruh peserta.

Lalu ia berkata pelan,

"Teknologi adalah alat. Ia tidak memiliki niat baik ataupun niat jahat. Yang menentukan adalah manusia yang menggunakannya."

Ruangan menjadi hening.

Ia melanjutkan.

"Hari ini kita hidup pada masa ketika sebuah gambar tidak selalu menceritakan kenyataan. Sebuah video tidak selalu merekam peristiwa yang benar-benar terjadi. Bahkan suara seseorang pun dapat dibuat tanpa pernah diucapkan."

Beberapa peserta mulai saling berpandangan.

"Karena itu," katanya lagi: "Jangan pernah menjadikan satu unggahan sebagai hakim. Jangan menjadikan satu potongan video sebagai vonis. Sebelum memercayai sesuatu, bertabayunlah. Periksalah. Sebab sekali kita salah menghakimi seseorang, mungkin seumur hidup kita tak akan mampu mengembalikan kehormatannya."

Kalimat terakhir itu keluar begitu pelan.

Namun justeru karena pelan, ia terdengar sangat berat.

Cut Ceudah tidak dalam ruangan. Ia berdiri di balik daun pintu menyiapkan konsumsi. Namun mendengar sangat jelas, ia menundukkan kepala.

Entah karena sedang mencatat, entah tengah menyembunyikan sesuatu.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat.

Seorang pemuda bertanya, "Pak, bagaimana kalau ternyata kita sudah telanjur menyebarkan informasi yang salah?"

Lelaki itu tersenyum tipis.

"Meminta maaf mungkin bisa menghapus unggahan."

Ia berhenti sejenak.

"Tetapi belum tentu mampu menghapus luka."

Ruangan kembali hening.

Kalimat itu terasa seperti bukan jawaban untuk pemuda tersebut.

Melainkan jawaban yang selama tiga tahun ia simpan untuk dirinya sendiri.

Acara selesai menjelang jumaatan. Lelaki itu bergegas keluar dari ruangan di antara pserta lainnya meninggalkan forum pertemuan sosialisasi.

Kursi-kursi mulai kosong.

Tiba-tiba seseorang berhenti di hadapannya. Seorang perempuan yang sudah bertahun-tahun menggenangi pikirannya.

Cut Ceudah.

Untuk pertama kalinya mereka berdiri tanpa ada orang lain di antara keduanya.

Perempuan itu membuka suara lebih dulu.

"Aku sudah membaca hasil pemeriksaan digital forensik itu. Aku tahu... video itu palsu." Lelaki itu terdiam.

Tak ada jawaban.

Hanya napas yang terdengar berat.

"Aku terlambat memercayaimu. Aku minta maaf," lanjut Cut Ceudah.

Lelaki itu memandang keluar jendela.

Airmata mulai menggenang di pelupuk mata perempuan itu.

"Aku menyesal."

Lelaki itu mengangguk pelan.

"Penyesalan adalah rumah bagi orang-orang yang datang setelah waktu menutup pintunya," cetus lelaki itu.

"Apakah kau sudah memaafkanku?"

Lelaki itu menatapnya lama. Lalu berkata lirih:

"Aku sudah lama memaafkanmu."

Perempuan itu terisak.

"Lalu... mengapa rasanya tetap sesakit ini?"

Lelaki itu tersenyum tipis.

Memang, memaafkan bukan selalu berarti mengembalikan. Seperti halnya gelas yang pecah karena terjatuh, ia dapat direkatkan kembali. Namun retak-retaknya akan tetap tinggal sebagai bagian dari sejarahnya.

Ketika lelaki itu meninggalkan Bale Gampong itu, matahari tepat di atas kepala. Peluh yang mulai bercucuran pelan-pelan mengering tersapu angin.

Ia menoleh sekali lagi ke arah bangunan itu.

Di beranda, Cut Ceudah masih berdiri memandang ke arahnya.

Tak ada lambaian.

Tak ada panggilan.

Hanya dua pasang mata yang akhirnya sama-sama mengerti bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk kembali memiliki.

Sebagian hanya ditakdirkan menjadi pelajaran agar manusia belajar membedakan antara bukti dan kebenaran, antara teknologi dan nurani, antara apa yang tampak di layar dengan apa yang sesungguhnya hidup di dalam jiwa.

Lelaki itu pun melangkah meninggalkan kampung tersebut.

Kali ini langkahnya terasa lebih ringan.

Bukan karena lukanya telah hilang.

Melainkan karena ia akhirnya memahami, ada kepulangan yang tidak bertujuan untuk mengulang masa lalu. Melainkan untuk berdamai dengannya.

Dan sejak hari itu, kampung itu tak lagi menjadi tempat yang asing baginya.

Yang asing hanyalah dua jiwa yang pernah saling mencintai, tetapi dipisahkan oleh sebuah kebohongan yang berhasil menyamar sebagai kebenaran. Dan semua itu telah menjadi kenangan yang menggenang di sepanjang hidupnya.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement