Breaking News
Memuat breaking news...

Genap Setahun, Sekolah Vokasi UT Siap Buka Lima Prodi Baru

Redaksi
Redaksi
Selasa, 15 September 2026 - 11.39 AM WIB
Genap Setahun, Sekolah Vokasi UT Siap Buka Lima Prodi Baru
Direktur Sekolah Vokasi UT Mohamad Yunus melakukan pemotongan tumpeng ulang tahun ke-1 Sekolah Vokasi UT disaksikan pimpinan UT dan Kementerian Ekraf, Selasa (15/9/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Sekolah Vokasi Universitas Terbuka (UT) menyiapkan ekspansi program studi untuk memperkuat kontribusinya dalam mencetak talenta yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Setelah saat ini memiliki dua program studi Diploma Tiga (D3), UT menargetkan pembukaan sejumlah program studi baru mulai 2027 hingga setelah 2030, termasuk bidang teknologi informasi, akuntansi bisnis digital, logistik, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga teknologi rekayasa otomotif.

Direktur Sekolah Vokasi UT Dr. Mohamad Yunus mengatakan, pengembangan tersebut merupakan respons terhadap perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat. Pendidikan vokasi, kata dia, harus mampu memberikan pembelajaran yang lebih aplikatif, fleksibel, sekaligus relevan dengan kebutuhan industri.

"Sekolah Vokasi UT akan hadir dengan warna yang berbeda," kata Yunus dalam Seminar Nasional Sekolah Vokasi UT 2026 bertema “Learn, Link, Lead: Empowering Vocational Talent through Academia–Industry Collaboration”, di UT Convention Center, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (15/9/2026).

Seminar dihadiri Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Ekonomi Kreatif di Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dijabat oleh R. Adi Mukhtar Rivai.


Menurut Yunus, pembelajaran vokasi akan diperkuat dengan porsi praktik dan praktikum yang mencapai 60 hingga 70 persen. Model pembelajaran juga akan mencakup project-based learning, pembelajaran kolaboratif, pemecahan masalah, bimbingan konsultatif, praktik kerja intensif, pemanfaatan teknologi informasi, hingga magang atau bekerja di industri.

Saat ini, Sekolah Vokasi UT baru memiliki dua program studi, yakni D3 Perpajakan dan D3 Kearsipan, dengan jumlah mahasiswa sekitar 7.000 orang.

Yunus mengungkapkan, UT menargetkan membuka tiga program studi baru pada Mei 2027, yakni D3 Teknologi Informasi, D4 Akuntansi Bisnis Digital, serta D4 Logistik Niaga dan Komersial.

Selanjutnya pada Mei 2028, UT menyiapkan dua program studi baru, yaitu D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta D4 Teknologi Rekayasa Otomotif.

Pengembangan program studi akan terus dilanjutkan pada 2029–2030 dan setelahnya. UT menyiapkan program studi di bidang pengelolaan perhotelan, komunikasi digital atau content creator, tata boga/kuliner, akuntansi perpajakan, keamanan sistem informasi, serta teknologi rekayasa perangkat lunak.

Yunus mengatakan pengembangan tersebut akan diarahkan untuk memperkuat keunggulan UT di bidang teknologi informasi sekaligus menjawab kebutuhan kompetensi baru di dunia kerja.

"UT unggul dalam IT. Karena itu, UT harus siap membuka D4 dan sekalian S2, bahkan jika dimungkinkan kita akan membuka jenjang S3 yang terkait dengan Teknologi Informasi," ujarnya.

Ekspansi Sekolah Vokasi UT juga diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat di berbagai daerah. Yunus menyoroti masih rendahnya proporsi lulusan sekolah menengah yang melanjutkan pendidikan tinggi. Dia menyebut lulusan SLTA pada 2024–2025 mencapai sekitar 3,3 juta orang, sementara Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi baru 32 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 32,89 persen pada 2025.

Khusus lulusan SMK, berdasarkan penelusuran tamatan Ditjen Vokasi, yang melanjutkan studi pada 2024 baru 13,37 persen dan meningkat menjadi 18,26 persen pada 2025.

"20 persen saja belum tercapai," ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya jumlah lulusan SLTA yang belum memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi.
Karena itu, pengalaman UT sebagai perguruan tinggi dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh dinilai menjadi modal penting untuk memperluas akses pendidikan vokasi, terutama bagi masyarakat yang tidak dapat meninggalkan daerahnya untuk kuliah.

Yunus juga mengajak mitra UT, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, pemerintah, serta masyarakat untuk bersama-sama membantu anak-anak yang memiliki potensi tetapi terkendala biaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui beasiswa.
Menurut dia, kolaborasi menjadi kunci agar pendidikan vokasi mampu menjangkau anak bangsa di berbagai pelosok sekaligus menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Penguatan tersebut menjadi bagian dari arah Sekolah Vokasi UT melalui konsep Learn, Link, Lead: mahasiswa belajar dan memperoleh pengalaman nyata, terhubung dengan industri dan berbagai mitra, kemudian berkembang menjadi profesional yang mampu berinovasi dan memimpin di bidangnya.

Pesan tersebut semakin relevan dengan berkembangnya ekonomi kreatif yang menjadikan kreativitas, teknologi, kewirausahaan, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat sebagai sumber pertumbuhan baru.

Lulusan Vokasi Tak Cukup Siap Kerja

Wakil Rektor UT Bidang Sistem Informasi dan Layanan Jarak Jauh, Prof. Dr. Paken Pandiangan dalam sambutannya mengatakan perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomasi, digitalisasi, ekonomi kreatif, kendaraan listrik, perdagangan elektronik, hingga transformasi logistik telah mengubah wajah dunia kerja.

"Sebagian profesi bergeser. Pekerjaan baru akan lahir dan kompetensi masa depan tidak selalu sama dengan apa yang kita ajarkan pada hari ini," ujar Paken.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadikan pendidikan vokasi memiliki posisi strategis karena berada di titik temu antara pengetahuan dan kompetensi, pendidikan dan pekerjaan, serta perguruan tinggi dan industri.
Karena itu, lulusan vokasi tidak cukup hanya memiliki keterampilan untuk langsung masuk dunia kerja. Mereka juga harus memiliki kemampuan beradaptasi, terus belajar, memecahkan masalah, berinovasi, hingga mampu memimpin di bidangnya.

Paken merangkum penguatan talenta vokasi melalui tiga prinsip, yakni Learn, Link, and Lead.
Learn menekankan pentingnya learning agility, yakni kemampuan lulusan untuk terus belajar dan beradaptasi melalui reskilling dan upskilling seiring perubahan teknologi.

"Pendidikan tidak berhenti pada saat seseorang memperoleh ijazah," katanya.

Sementara Link menekankan pentingnya memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan industri untuk memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan. Menurut Paken, industri harus dilibatkan sejak awal dalam proses pendidikan, bukan sekadar melalui penandatanganan kerja sama.

Kerja sama tersebut harus diwujudkan dalam kurikulum yang relevan, keterlibatan praktisi, proyek bersama, hingga pengalaman nyata bagi mahasiswa.

Adapun Lead menegaskan bahwa pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada tujuan menghasilkan tenaga kerja. Pendidikan vokasi juga harus melahirkan profesional unggul yang mampu memecahkan masalah, berinovasi, berwirausaha, dan memimpin di bidangnya.

" Pendidikan vokasi tidak berhenti pada mempersiapkan seseorang memperoleh pekerjaan, tetapi membentuk profesional unggul, pemecah masalah, inovator, wirausahawan, dan pemimpin di bidangnya," tegas Paken.

Sejalan dengan tuntutan tersebut, Sekolah Vokasi UT juga menyiapkan pembekalan kompetensi tambahan bagi mahasiswa.
Setiap mahasiswa ditargetkan memiliki kompetensi tambahan, antara lain menguasai salah satu dari lima pilihan bahasa asing, mengambil satu atau dua mata kuliah internasional, termasuk dari perguruan tinggi luar negeri seperti Oxford, serta mengikuti satu hingga dua pelatihan dan sertifikasi teknologi (id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement