Generasi Muda Berperan Besar Tolak Narasi Kontra Ideologi di Ranah DigitalGenerasi Muda Berperan Besar Tolak Narasi Kontra Ideologi di Ranah Digital

JAKARTA (Waspada): Peran generasi muda dalam merespon berbagai narasi yang menolak ideologi negara yang kini banyak beredar di ruang digital, sangat dibutuhkan. Apalagi generasi muda saat ini hampir seluruhnya melek digital.
Zainut mengungkapkan, di era digital saat ini sangat memungkinkan semua pihak dapat berinteraksi dan berselancar di dunia maya. Sehingga, menurutnya, perlu ada pelurusan terhadap paham yang mengarah kepada menolak ideologi negara.
Di sisi lain, kaum muda muslim urban saat ini sangat terampil memanfaatkan media sosial untuk berbagai tujuan. Termasuk tujuan-tujuan penguatan nilai-nilai ideologis dan keagamaan.
Harapan yang sama besar juga dilayangkan Zainut bagi dua organisasi besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dia berharap agar NU dan Muhammadiyah lebih aktif dan kreatif memanfaatkan media digital untuk memasarkan Islam yang ramah, inklusif, moderat, toleran dan Islam rahmatan lil 'alamin.
Zainut menyampaikan, perlu adanya inovasi dalam berdakwah dengan memanfaatkan dunia digital. Ia berpendapat, saat ini masyarakat lebih menghabiskan waktunya di sejumlah platform media sosial.
“Saya kira itu harus dibikin sedemikian rupa untuk menarik pembaca dan pengikut, termasuk konten-konten yang disampaikan dikemas dengan baik,” lanjutnya.
Zainut juga mengimbau agar NU dan Muhammadiyah mengimbangi konten dakwah di media digital dengan gerakan Islamis yang berbeda pandangan dalam memahami ideologi negara.
“Saya kira perlu ada inovasi dan kreasi di dalam membangun dakwah di bidang digital itu. Utamanya pada pengembangan literasi di media digital,” lanjutnya.
Selain itu, dia juga menyarankan perlu adanya inovasi dalam berdakwah dengan memanfaatkan dunia digital. Ia berpendapat, saat ini masyarakat lebih menghabiskan waktunya di sejumlah platform media sosial.
“Saya kira itu harus dibikin sedemikian rupa untuk menarik pembaca dan pengikut, termasuk konten-konten yang disampaikan dikemas dengan baik,” lanjutnya.
Selain itu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dinilai Zainut perlu merumuskan kebijakan revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sementara itu, program moderasi beragama juga harus terus digaungkan dalam rangka membendung dominasi gerakan-gerakan radikal yang mengancam eksistensi NKRI.
Bedah buku 'Kontestasi Ideologi Politik Gerakan Islam Indonesia di Ruang Publik Digital' dilakukan oleh sejumlah tokoh yakni Guru Besar Hukum Islam Bidang Fikih Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Prof. Dr. Masykuri Abdillah; Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat MPR RI Arsul Sani; Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu’ti.
Masing-masing pembicara secara garis besar memuji kehadiran buku karya Zainut Tauhid Sa'adi. Buku setebal lebih dari 600 halaman ini diharapkan mampu menjadi acuan masyarakat muslim di tengah hiruk pikuk resonansi sosial di ranah digital. (J02)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda