Breaking News
Memuat breaking news...

Golkar Aceh Utara, As’adi: Saya Dilengserkan Setelah Berhasil Meraih Wakil Pimpinan di DPRK

Redaksi
Redaksi
Minggu, 23 Agustus 2026 - 11.02 AM WIB
Golkar Aceh Utara, As’adi: Saya Dilengserkan Setelah Berhasil Meraih Wakil Pimpinan di DPRK
Mantan Ketua DPD Partai Golkar Aceh Utara, As’adi, yang juga Wakil Ketua II DPRK Aceh Utara. Waspada.id/ Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

“Saya dinilai tidak punya prestasi, bahkan disebut tanpa prestasi. Padahal kursi wakil pimpinan itu hadir berkat usaha kita bersama. Golkar tidak menghargai jasa kami selama ini.”- Mantan Ketua Golkar Aceh Utara, As’adi.

As’adi merupakan Ketua Golkar Aceh Utara yang merasa jasanya tak dihargai. Betapa tidak, dua puluh tahun lamanya Golkar Aceh Utara berjalan tanpa kursi wakil pimpinan di DPRK. Sejak 2004, posisi itu hilang, seakan menjadi simbol keterpinggiran partai yang pernah berjaya. Baru pada Pemilu 2024, kursi itu kembali pulang—sebuah capaian yang lahir dari kerja keras, konsistensi, dan perjuangan panjang di bawah kepemimpinan As’adi.

Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan luka. As’adi, sosok yang mengembalikan kursi wakil pimpinan setelah dua dekade, justru harus menerima kenyataan pahit: dilengserkan secara simbolik dari kursi Ketua Golkar Aceh Utara.

Pelengseran ini ditandai dengan terjadinya pemilihan ketua baru secara aklamasi yang memenangkan TM Isa Aziz sebagai Ketua DPD Partai Golkar Aceh Utara, pada Musda XI Partai Golkar Aceh Utara di MK Hotel Lhoksukon, Sabtu (22/8/2026) kemarin.

Pemilihan secara aklasi menandakan tidak adanya perlawanan, tetapi juga tidak memberi ruang bagi suara penghargaan terhadap ketua lama. Buah keberhasilan pihaknya selama ini, sebut As’adi, semestinya menjadi modal legitimasi namun justru berbalik menjadi alasan dilengserkan.

Ironi Kemenangan

Hari itu, seluruh PK memilih Isa sebagai Ketua Golkar Aceh Utara secara aklamasi. Proses yang sah, dibolehkan oleh DPD I, namun bagi As’adi terasa seperti pengkhianatan atas jerih payah.

Penghargaan yang diberikan hanyalah kursi wakil pimpinan DPRK. “Jangan sampai itu pun diambil kembali,” katanya. Kursi yang baru kembali setelah dua dekade, bagi As’adi bukan sekadar jabatan. Ia adalah simbol perjuangan, bukti bahwa Golkar masih bisa bangkit.

Suara yang Tersisa

As’adi mengingatkan sejarah: terakhir kali Golkar memiliki wakil pimpinan DPRK Aceh Utara adalah tahun 2004. Dua puluh tahun kemudian, di Pemilu 2024, kursi itu kembali.

“Itu terjadi berkat usaha kita, berkat kepemimpinan saya. Pertanyaannya, apakah di bawah kepemimpinan orang lain Golkar akan bisa meraih hal yang sama?”

Pertanyaan itu menggantung, menjadi refleksi sekaligus peringatan. Bahwa kemenangan bukan hanya soal kursi, melainkan soal menghargai jasa dan pengorbanan.

Kisah As’adi adalah kisah tentang ironi politik: seorang ketua yang berhasil mengembalikan kursi wakil pimpinan setelah dua dekade, namun justru dilengserkan. Kemenangan Golkar Aceh Utara pada Pemilu 2024 bukan sekadar angka kursi di DPRK, melainkan perjalanan panjang penuh luka dan harapan.

“Jangan sampai kursi wakil pimpinan yang sedang saya duduki di DPRK Aceh Utara pun diambil kembali. Kursi itu bukan hanya simbol kekuasaan, melainkan simbol perjuangan yang seharusnya dihargai.” (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement