Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Gotong Royong yang Tergerus: Saat Semangat Kebersamaan Akan Menjadi Sejarah di Tanah Aceh

Redaksi
Redaksi
Minggu, 8 November 2026 - 5.44 AM WIB
Gotong Royong yang Tergerus: Saat Semangat Kebersamaan Akan Menjadi Sejarah di Tanah Aceh
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh Fauzan

Dulu, di setiap gampong di Aceh, ada satu hal yang selalu dinanti sekaligus menjadi kebanggaan warga. Sekali sebulan, biasanya pada hari Minggu saat sebagian besar warga tidak bekerja, suara pengumuman dari meunasah akan terdengar.

Isinya sederhana: hari itu adalah hari gotong royong. Tanpa disuruh, tanpa dibayar, warga akan keluar rumah membawa cangkul, sabit, dan sapu lidi. Parit dibersihkan, jalan disapu, dan selokan dibersihkan dari sampah yang menyumbat aliran air. Itulah tradisi yang diwarisi dari para pendahulu — sebuah budaya yang membuat gampong tidak hanya bersih, tetapi juga hangat oleh kebersamaan.

Namun hari-hari itu kini tinggal kenangan. Semangat gotong royong yang dulu menjadi jati diri masyarakat Aceh perlahan semakin tumpul, dan kini nyaris punah. Jika dulu kebersamaan adalah kebiasaan yang tumbuh dari hati, sekarang semakin sulit ditemukan. Parit yang tersumbat, selokan yang dangkal, dan lingkungan yang kotor lebih sering dibiarkan begitu saja — menunggu siapa yang akan memulainya, hingga akhirnya tidak ada yang memulainya sama sekali.

Banyak yang bertanya-tanya: kapan dan mengapa semangat luhur ini perlahan menghilang? Salah satu titik balik yang sering disoroti masyarakat adalah pasca bencana besar tsunami tahun 2004. Saat itu, Aceh didatangi berbagai organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar negeri yang turun langsung membantu pemulihan.

Program-program pembersihan dan pembangunan memang sangat dibutuhkan pada masa sulit tersebut. Namun, banyak pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan bersama oleh warga justru dikerjakan dengan sistem upah. Kebiasaan baru ini perlahan mengubah pola pikir masyarakat: pekerjaan bersama menjadi sesuatu yang "seharusnya dibayar", bukan dilakukan atas dasar kebersamaan dan kepedulian.

Survei Lembaga Survei Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya 34 persen warga pedesaan di Aceh yang masih rutin berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong bulanan. Angka ini turun drastis dibandingkan tahun 2004 yang mencapai 82 persen. Sementara itu, studi yang dilakukan Jaringan Komunitas Adat Aceh (JKAA) pada 2025 mencatat bahwa sebanyak 68 persen gampong di Aceh tidak lagi memiliki jadwal tetap kegiatan gotong royong warga. Selebihnya, kegiatan kerjabakti hanya dilakukan sesekali, menjelang hari besar keagamaan atau saat ada instruksi dari luar.

Sejak saat itu, benih ketergantungan mulai tumbuh. Warga perlahan terbiasa bahwa jika ada yang perlu dikerjakan, harus ada yang membiayainya. Padahal, gotong royong bukan sekadar soal membersihkan selokan. Lebih dari itu, gotong royong adalah ikatan kebersamaan dalam menjaga gampong.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh tahun 2025 mencatat bahwa saluran air yang tidak terawat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya frekuensi banjir genangan di kawasan permukiman warga. Sekitar 42 persen titik rawan banjir di Aceh disebabkan oleh parit dan selokan yang tersumbat — masalah yang dulu rutin diatasi bersama melalui gotong royong. Parit yang bersih dan aliran air yang lancar dapat mencegah terjadinya banjir saat hujan turun deras. Lingkungan yang terjaga juga menjauhkan warga dari berbagai penyakit, mulai dari malaria yang dibawa nyamuk berkembang biak di air genangan, hingga penyakit kulit akibat lingkungan yang kotor. Semua manfaat itu dulu dirasakan secara nyata tanpa biaya, hanya dengan keikutsertaan dan semangat kebersamaan.

Kini, semangat itu nyaris hilang ditelan zaman. Pemangku kepentingan di tingkat gampong pun seakan kehilangan pegangan untuk meneruskannya. Generasi muda tumbuh dalam suasana di mana gotong royong hanyalah cerita yang didengar dari orang tua, bukan pengalaman yang dijalani bersama. Sebuah survei Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh tahun 2024 bahkan menemukan bahwa generasi muda di perkotaan Aceh lebih dari 70 persen menyatakan tidak pernah diajak berpartisipasi dalam kegiatan kerjabakti di lingkungan tempat tinggalnya.

Terlalu sering kita mendengar kalimat: "Biarkan pemerintah yang mengurusnya." Padahal, untuk urusan membersihkan lingkungan sendiri, tidak seharusnya kita terlalu manja dan menunggu bantuan. Dulu, orang tua kita tidak menunggu siapa pun datang untuk membersihkan halaman dan parit mereka. Mereka tahu bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak saja.

Perbedaan antara generasi masa lalu dan masa kini terasa sangat nyata. Dulu, tetangga adalah saudara yang saling membutuhkan dan saling membantu. Sekarang, meski rumah berdiri berdekatan, rasa kebersamaan semakin renggang. Gotong royong bukan berarti tidak dibutuhkan lagi di masa kini. Saat ini gotong royong memang masih ada, namun pelaksanaannya tidak lagi berjalan rutin seperti pada masa lalu. Kini, kegiatan tersebut umumnya hanya dilaksanakan menjelang hari-hari besar keagamaan, terutama saat menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatannya pun terbatas — biasanya hanya berupa kerja bakti membersihkan tempat pemakaman umum dan menasah di lingkungan gampong.

Justru di tengah berbagai tantangan dan perubahan zaman, semangat itu semakin dibutuhkan. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk membangun masa depan yang lebih baik, bersih, dan aman bagi kita semua. Sudah saatnya menghidupkan kembali semangat itu — bukan menunggu orang lain memulainya, tetapi dari diri kita sendiri, mulai dari lingkungan tempat kita tinggal. Karena kebersihan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan cerminan dari kebersamaan kita. WASPADA.id

Penulis adalah Jurnalis Waspada.id di Bireuen

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement