Green-STEM: Membawa Persoalan Lingkungan ke Ruang Kelas IPAGreen-STEM: Membawa Persoalan Lingkungan ke Ruang Kelas IPA

Oleh Mentari Darma Putri, S.Pd., M.Pd.
Banjir, sampah, air, dan energi bukan persoalan yang jauh dari kehidupan peserta didik. Mereka melihat genangan setelah hujan, menemukan sampah di lingkungan sekolah, menggunakan air, dan memakai listrik setiap hari.
Pertanyaannya, sudahkah persoalan yang begitu dekat tersebut benar-benar menjadi bagian dari pembelajaran IPA di kelas?
Pembelajaran IPA semestinya tidak berhenti pada hafalan konsep dan penyelesaian soal. Sains akan lebih bermakna ketika peserta didik mampu menggunakan pengetahuannya untuk memahami persoalan nyata, mencari penyebab, mengumpulkan data, merancang solusi, serta mempertimbangkan dampak dari keputusan yang diambil. Di sinilah pendekatan Green-STEM menjadi relevan.
Ketika Lingkungan Tidak Lagi Sekadar Contoh di Buku
Green-STEM mengintegrasikan science, technology, engineering, dan mathematics dengan kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Melalui pendekatan ini, lingkungan tidak lagi hanya menjadi contoh yang disebutkan dalam buku, tetapi dapat menjadi laboratorium belajar yang nyata.
Persoalan sampah organik, misalnya, dapat dikembangkan menjadi proyek pembuatan kompos. Peserta didik tidak hanya mempelajari proses dekomposisi, tetapi juga melakukan pengamatan, mengukur suhu, mencatat perubahan, dan mengevaluasi hasil.
Persoalan air dapat dikembangkan menjadi kegiatan konservasi dan resapan melalui pengukuran laju infiltrasi serta perancangan biopori atau sumur resapan sederhana.
Dari Mengetahui Masalah menuju Mengambil Keputusan
Green-STEM juga sejalan dengan Education for Sustainable Development (ESD). Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui bahwa sampah harus dikurangi, air perlu dijaga, atau energi harus dihemat.
Peserta didik juga perlu memahami mengapa tindakan tersebut penting, dampak apa yang ditimbulkan, serta pilihan apa yang paling bertanggung jawab bagi lingkungan dan kehidupan di masa depan. Karena itu, proyek Green-STEM bukan sekadar kegiatan membuat produk.
Peserta didik belajar mengumpulkan bukti, mengolah data, menguji solusi, melakukan perbaikan, dan mempertimbangkan apakah solusi yang dibuat benar-benar aman, efisien, serta berkelanjutan.

Guru Menjadi Kunci
Membawa persoalan lingkungan ke ruang kelas tentu membutuhkan kesiapan guru. Guru perlu mampu menghubungkan masalah yang terjadi di sekitar peserta didik dengan konsep IPA, tujuan pembelajaran, aktivitas proyek, dan asesmen yang sesuai.
Kebutuhan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Smart Teaching Workshop Pengembangan Modul Ajar Berbasis Green-STEM bersama MGMP IPA Kota Langsa.
Dalam kegiatan ini, guru tidak hanya menerima materi, tetapi ditempatkan sebagai perancang pembelajaran. Sebanyak 30 guru terlibat dalam kerja kelompok untuk memetakan persoalan lingkungan lokal, menyusun rancangan modul ajar, LKPD, serta proyek Green-STEM yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran IPA.
Dari Workshop Menjadi Produk Nyata
Hasil kegiatan mulai terlihat melalui berbagai rancangan pembelajaran kontekstual yang dikembangkan guru. Tema yang muncul antara lain pemanfaatan sampah organik menjadi kompos, konservasi air dan resapan, budidaya tanaman ramah lingkungan, energi terbarukan, serta mitigasi banjir dan kesiapsiagaan sekolah.
Tema-tema tersebut tidak dipilih sekadar karena menarik, tetapi karena dekat dengan kehidupan peserta didik dan dapat mengintegrasikan konsep IPA, teknologi sederhana, proses rekayasa, pengukuran, serta nilai keberlanjutan.
Produk yang dikembangkan juga diarahkan tidak berhenti pada ide proyek, tetapi menjadi perangkat pembelajaran berupa modul ajar, LKPD, aktivitas proyek, dan asesmen yang dapat diterapkan di sekolah.
Pengabdian yang Tidak Berhenti pada Pelatihan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh tim pengabdian Universitas Samudra dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Tahun 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program tidak dirancang berhenti setelah workshop selesai. Pendampingan, penyempurnaan perangkat, peer review, dan pengembangan produk menjadi bagian penting agar modul yang dihasilkan tidak hanya tersimpan sebagai dokumen, tetapi benar-benar digunakan dalam pembelajaran.
Sebab, keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan dan produk yang dihasilkan dapat memberi perubahan pada praktik pembelajaran.
Membawa Masa Depan ke Ruang Kelas
Pada akhirnya, Green-STEM bukan sekadar tentang membuat kompos, menanam sayuran, membangun biopori, atau menghasilkan sebuah prototipe. Nilai terpentingnya terletak pada cara berpikir yang tumbuh selama proses tersebut.
Ketika sampah menjadi proyek sains, air menjadi pembelajaran konservasi, dan banjir menjadi bahan investigasi, ruang kelas IPA menjadi semakin dekat dengan kehidupan nyata. WASPADA.id
Penulis adalah Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Smart Teaching Workshop Pengembangan Modul Ajar Berbasis Green-STEM bagi MGMP IPA Kota Langsa


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda