Breaking News
Memuat breaking news...

GUGAT CINTA CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 5.10 PM WIB
GUGAT CINTA CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH, sastrawan Aceh yang aktif menulis opini, esai, puisi dan cerpen ini kembali mengisahkan sebuah cerita pendek lewat judul "GUGAT CINTA" menghadirkan pergulatan batin yang sunyi, ketika cinta harus berhadapan dengan tanggung jawab, nilai, dan tuntunan agama. Cerpen ini tidak menawarkan kisah cinta yang romantis dalam pengertian lazim, melainkan menghadirkan sosok seorang ayah yang menggugat makna cinta itu sendiri: apakah cinta sekadar memenuhi keinginan, atau justru keberanian menjaga orang yang dicintai agar tetap berada dalam kemuliaan.

Dengan narasi yang puitis dan kontemplatif, Agusni AH mengajak pembaca merenungkan bahwa kasih sayang terkadang hadir dalam bentuk ketegasan. Air mata, restu, dan pengorbanan menjadi bahasa yang lebih jujur daripada kata-kata. Di balik dialog yang sederhana dalam melepaskan seorang putri kelak menjadi seorang isteri, tersimpan pesan moral bahwa cinta yang sejati tidak hanya memikirkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga keselamatan dan kehormatan hingga kehidupan dunia dan akhirat. Cerpen ini menjadi ruang refleksi tentang hubungan antara cinta, keluarga, dan nilai-nilai yang diyakini sebagai penuntun kehidupan. Para penikmat sastra dapat menyimak cerpen karya Agusni AH berikut ini:

GUGAT CINTA

"BUKANKAH aku cinta pertamamu?" tanya lelaki itu. Suaranya lirih, tetapi menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.

Perempuan muda itu hanya duduk diam, tak bergeming. Aliran bening di kedua bola matanya menganak sungai, jatuh perlahan membasahi pipi. Lama keduanya terdiam. Hening. Kesunyian seakan mengambil alih percakapan yang tak sanggup lagi diucapkan oleh kata-kata.

Malam itu adalah malam terakhir sebelum keesokan harinya digelar resepsi pertunangan. Beberapa bulan lagi, perempuan itu akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki pilihannya. Waktu yang tersisa di hadapan mereka tinggal seujung napas.

Banyak hal ingin disampaikan lelaki itu—barangkali sebagai titah terakhir, atau lebih tepat sebagai bekal kehidupan bagi perempuan muda itu ketika kelak menyandang amanah sebagai seorang istri. Ia ingin meninggalkan pesan-pesan yang dapat menjadi penuntun, bukan belenggu.

Kekecewaan yang tampak di wajahnya bukanlah karena perempuan yang sangat disayanginya akan menjadi milik lelaki lain. Tidak. Ia justeru ikut berbahagia jika pilihan perempuan itu benar-benar menghadirkan kebahagiaan. Yang paling ia harapkan hanyalah satu: semoga lelaki yang akan menjadi suaminya kelak adalah sosok yang bertanggung jawab, mampu membimbingnya dalam kehidupan dunia sekaligus akhirat.

"Aku bahagia jika itu memang pilihanmu," ucapnya pelan. "Yang terpenting, pastikan dia lelaki yang bertanggung jawab, mampu menjagamu, membimbingmu, dan membawamu kepada kebahagiaan dunia maupun akhirat."

Perempuan muda itu mengangguk. Air matanya kembali luruh.

"Besok pagi keluarga lelaki itu akan datang meminangmu," lanjut lelaki itu, seolah mengingatkan kenyataan yang tak mungkin lagi diubah. "Sayangnya, mengapa konsep pertunangan itu tidak pernah kamu konsultasikan lebih dulu denganku?"

Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. "Bukankah Manyang sudah menyampaikannya waktu itu?" jawabnya lirih.

Lelaki itu menggeleng pelan.

"Maaf. Yang kamu sampai itu hanya tentang pertunangan dengan resepsi seadanya sesuai syariat kita...tidak ada penjelasan tentang konsepnya, susunan acaranya dengan segala seremonial itu." Tegas lelaki itu dalam nada kecewa.

Perempuan itu kembali terdiam. Kepalanya tertunduk semakin dalam. Sesaat kemudian, dengan suara yang nyaris tenggelam oleh isak yang ditahannya, ia memohon pengertian.

"Manyang mohon... biarkan resepsi besok berjalan sesuai agenda yang sudah disusun. Semua rangkaian acaranya sudah dipersiapkan."

Lelaki itu menarik napas panjang. Tatapannya menerobos kehampaan, seolah sedang berdamai dengan sesuatu yang tak mungkin lagi diubah.

"Tanpa harus memohon pun, aku sudah merestui pertunangan ini," sela lelaki itu lembut. "Aku tidak pernah berniat menghalangi kebahagiaanmu."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.

"Hanya satu yang membuatku tidak berkenan. Jangan ada sesi foto berdua yang dijadikan alasan untuk persiapan pranikah. Pertunangan adalah ikatan menuju pernikahan, bukan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang belum semestinya. Jagalah kehormatanmu, karena kemuliaan seorang perempuan tidak diukur dari indahnya foto yang dipajang, melainkan dari kemampuannya menjaga batas-batas yang telah ditetapkan agama."

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Memandangi air mata kembali mengalir di pipi perempuan yang di depannya bagai tak berdaya. Sebenanrnya lelaki itu tak tega. Namun sebenarnya ketegasan itu hanya sebentuk kasih sayang untuk menjaga martabat perempuan yang dicintainya hingga langkah terakhir sebelum benar-benar menjadi isteri orang lain.

"Ini bukan sekadar soal adat istiadat. Ajaran agama telah mengaturnya dengan sangat jelas. Bagaimana mungkin foto berduan dipajang di depan pelaminan sebelum sah sebagai suami istri, sedangkan ijab kabul baru akan dilaksanakan setelah itu?"

Lelaki itu melanjutkan, "Tak perlu terlalu banyak air mata. Ada saatnya hati harus mengalah demi menjaga apa yang telah ditetapkan. Sebab hidup bukan sekadar mengikuti keinginan, melainkan memilih jalan yang selaras dengan tatanan dan tuntunan agama."

Malam kian larut. Di dalam kamar, hanya ada dua insan yang larut dalam percakapan—diapit antara hasrat sebagai manusia dan tekad menjaga tuntunan agama. Sunyi seakan ikut mendengarkan pergulatan batin yang tak seluruhnya sanggup diucapkan oleh kata-kata.

Lelaki itu menyadari dirinya hanyalah sebutir debu di hadapan Sang Pencipta, seorang hamba yang tak luput dari khilaf dan kelalaian. Namun, sebagai seorang ayah, ia memikul amanah yang tak ringan. Bukan sekadar membesarkan anak dengan kecukupan dan limpahan kasih sayang, melainkan menjaga kehormatan serta menuntunnya agar tetap berada di jalan yang diridai Allah. Ada kalanya ia murka ketika anaknya tak berjalan sebagaimana harapannya, tetapi di balik kemarahan itu tersimpan kegelisahan seorang ayah yang takut gagal menunaikan amanah.

Karena itulah, terhadap putri bungsunya, ia memilih bersikap teguh. Ia berharap kelak anaknya bukan hanya menjadi perempuan yang taat kepada agama, berbakti kepada kedua orang tua, tetapi juga menjadi seorang isteri yang salehah, mampu menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Baginya, cinta sejati bukan semata-mata menyatukan dua hati, melainkan menjaga keduanya agar memasuki gerbang pernikahan dengan kemuliaan yang tetap utuh.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement