Breaking News
Memuat breaking news...

Guru Kritik Pernyataan Nadiem Makarim

Redaksi
Redaksi
Senin, 6 Juni 2022 - 10.30 PM WIB
W
Waspada
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada): Para guru di Sumut, mengkritik pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Makarim atas pernyataannya yang beredar di media sosial.

Bertuliskan, kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi, lulusan tidak menjamin berkarya dan bekerja, akriditasi tidak menjamin mutu, masuk kelas tidak menjamin belajar.

Kritik disampaikan guru atas nama Ali Nurdin MA (foto) yang juga Ketua Asosiasi Guru Agama Islam Indonesia (AGPAI) Sumut.

Dalam keterangannya,Senin (6/6) menyebutkan bahwa pernyataan Mentri itu sepertinya tidak memahami seluk beluk dunia pendidikan.
Kata dia, jika gelar, kompetensi dan akreditasi tidak jaminan untuk kesiapan berkarya maka hapus saja lembaga perguruan tinggi, hentikan saja program Pendidikan Profesi Guru(PPG) dan PPKB yang menghabiskan anggaran triliyunan.

"Orientasi pak Mentri jelas pragmatis dan sekularistik. Untuk apa digaung gaungkan profesionalisme dan kompetensi guru yang salah satu indikatornya adalah mutu lulusan, akreditas dan standar pendidikan," sebutnya.

Hal lain disampaikannya, pernyataan yang paling miris ketika Pak Menteri menyatakan "masuk kelas tidak menjamin belajar," ini pelecehan dan penghinaan terhadap guru.

"Memangnya pak Mentri tahu kegiatan proses belajar mengajar di kelas. Atau memang pak Mentri menganggap bahwa guru masuk kelas cuma tidur ? Apa program merdeka belajar dan merdeka mengajar yang anda gaungkan itu sudah hebat betul ?," ungkapnya.

Kata dia, inilah akibat suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya. Pendidikan itu jangan diukur dari hasil produk kerja dan karya (transfer of knowledge).

"Yang paling utama adalah penanaman nilai agama, moral dan nilai kebangsaan (transfer of value). Ini juga akibat pendidikan di negeri ini semua dilihat dari karya dan kerja. Akhirnya orientasi ekonomis dan nilai produk lebih diutamakan daripada nilai-nilai humanistis," pungkasnya.(m22)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement