Harga CPO Melonjak, Ditopang Lonjakan Minyak Dunia dan Ancaman El NinoHarga CPO Melonjak, Ditopang Lonjakan Minyak Dunia dan Ancaman El Nino

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali menguat tajam pada perdagangan Senin (20/7/2026), setelah sempat terkoreksi pada akhir pekan lalu. Reli harga dipicu kombinasi sentimen positif dari kenaikan harga minyak nabati global, menguatnya harga minyak mentah dunia, prospek ekspor Malaysia yang tetap solid, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat fenomena El Nino.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD) pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk Agustus 2026 melonjak 39 Ringgit Malaysia menjadi 4.568 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September 2026 juga naik 43 Ringgit Malaysia ke level 4.608 Ringgit Malaysia per ton.
Penguatan berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang meningkat 46 Ringgit Malaysia menjadi 4.643 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak November 2026 naik 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.673 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk kontrak Desember 2026, harga melonjak 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.705 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 bertambah 38 Ringgit Malaysia ke posisi 4.735 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari TradingView, penguatan harga CPO didorong oleh kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian, China, dan Chicago, Amerika Serikat (AS), yang memperkuat sentimen positif di pasar. Naiknya harga minyak mentah dunia juga turut meningkatkan daya saing CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Di sisi lain, memanasnya konflik di Timur Tengah turut menjadi faktor pendukung. Gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz membuat prospek permintaan biodiesel berbahan baku minyak sawit semakin menarik bagi pelaku pasar.
Dari sisi fundamental, permintaan ekspor Malaysia juga masih menunjukkan tren positif. Data perusahaan survei kargo mencatat pengiriman minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Juli meningkat sekitar 4% hingga 12,4% dibandingkan periode yang sama pada Juni, mencerminkan permintaan global yang tetap kuat.
Sentimen bullish juga datang dari sisi pasokan. Pusat Prediksi Iklim Amerika Serikat (U.S. Climate Prediction Center) melaporkan fenomena El Nino semakin menguat dalam satu bulan terakhir dan diperkirakan berlanjut hingga sepanjang 2026 bahkan memasuki awal 2027. Kondisi tersebut berpotensi menekan produksi minyak sawit, sehingga memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan di pasar global.
Meski demikian, laju kenaikan harga CPO masih dibayangi pelemahan permintaan dari India sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia. Impor minyak sawit India pada Juni tercatat turun ke level terendah dalam 14 bulan, seiring menyempitnya selisih harga CPO dengan minyak nabati pesaing yang membuat minat pembelian berkurang. (invid)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda