Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Dekati US$100 Per Barel, Pasar Keuangan Indonesia Hadapi Ancaman Baru

Redaksi
Redaksi
Kamis, 23 Juli 2026 - 5.23 PM WIB
Harga Minyak Dekati US$100 Per Barel, Pasar Keuangan Indonesia Hadapi Ancaman Baru
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Lonjakan harga minyak mentah dunia yang semakin mendekati level psikologis US$100 per barel mulai membayangi stabilitas pasar keuangan Indonesia. Meski nilai tukar rupiah mampu memangkas pelemahan pada perdagangan hari ini, Kamis (23/7) tekanan terhadap pasar dinilai masih jauh dari kata usai.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, rupiah berhasil ditutup menguat ke kisaran Rp17.890 per dolar AS setelah sebelumnya sempat tertekan hingga Rp17.930 per dolar AS. Namun, perbaikan tersebut belum mampu mengangkat kinerja pasar saham domestik.

"Rupiah memang berhasil mengurangi pelemahannya pada sesi perdagangan kedua. Namun sentimen global masih terlalu kuat sehingga IHSG justru ditutup melemah sekitar 0,3 persen ke level 6.315,311," ujar Gunawan Benjamin.

Menurutnya, pelemahan IHSG cukup menarik perhatian karena terjadi ketika mayoritas bursa saham Asia justru mampu berakhir di zona hijau. Kondisi itu menunjukkan investor domestik masih sangat berhati-hati menghadapi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Gunawan menjelaskan, harga minyak mentah Brent pada perdagangan sore telah melonjak ke kisaran US$98 per barel, mendekati level US$100 yang selama ini menjadi batas psikologis pasar. Kenaikan tersebut dipicu serangan terbaru terhadap kapal tanker minyak di kawasan dekat Arab Saudi yang diduga dilakukan kelompok Houthi Yaman.

"Pasar khawatir konflik tidak lagi terbatas pada satu wilayah, tetapi mulai mengganggu jalur distribusi energi dunia. Risiko gangguan pasokan inilah yang membuat harga minyak terus melonjak," jelasnya.

Ia menambahkan, situasi semakin diperburuk oleh meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Iran. Kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi memperpanjang reli harga minyak dan memicu gejolak baru di pasar keuangan global.

"Jika harga minyak berhasil menembus US$100 per barel, tekanan terhadap pasar keuangan domestik akan semakin besar. Biaya energi meningkat, inflasi berpotensi naik, dan investor cenderung kembali memburu aset safe haven seperti dolar AS. Dampaknya, rupiah maupun aset berisiko seperti saham akan menghadapi tekanan lanjutan," kata Gunawan.

Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak berlawanan. Pada perdagangan sore, emas diperdagangkan melemah ke kisaran US$4.091 per troy ons atau sekitar Rp2,36 juta per gram.

Gunawan menilai pelemahan emas terjadi karena pasar masih fokus pada perkembangan konflik dan lonjakan harga energi. Dalam jangka pendek, pergerakan emas diperkirakan masih akan berfluktuasi mengikuti dinamika geopolitik serta arah pergerakan harga minyak dunia.

"Selama konflik di Timur Tengah belum mereda dan harga minyak masih berada dalam tren naik, volatilitas pasar keuangan diperkirakan tetap tinggi. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik karena menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah, IHSG, maupun harga komoditas global," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement