Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Melonjak, Rupiah Tertekan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 23 Juli 2026 - 11.04 AM WIB
Harga Minyak Melonjak, Rupiah Tertekan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di Selat Hormuz kembali menekan pergerakan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Kamis (23/7) pagi, rupiah dibuka melemah ke kisaran Rp17.910 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring harga minyak mentah Brent yang bertahan di level tinggi, sekitar US$96 per barel.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pasar masih dibayangi kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global setelah adanya serangan terhadap kapal pengangkut minyak mentah di Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong harga minyak terus menguat meski indeks dolar AS (USD Index) justru sedikit melemah ke level 101,06.

"Kenaikan harga minyak menjadi sentimen utama yang membebani rupiah pada perdagangan hari ini. Walaupun USD Index melemah tipis, pasar masih memilih aset yang dianggap lebih aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik, sehingga rupiah tetap berada dalam tekanan," ujar Gunawan Benjamin, Kamis (23/7).

Di sisi lain, pasar saham domestik justru menunjukkan kinerja yang lebih baik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan mampu menguat ke level 6.346, mengikuti pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona hijau.

Menurut Gunawan, minimnya agenda rilis data ekonomi penting membuat pergerakan pasar hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal serta perkembangan isu global.

"IHSG masih memiliki peluang bergerak di rentang 6.300 hingga 6.370. Sementara rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.870 hingga Rp17.950 per dolar AS. Investor saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan depan," jelasnya.

Ia menambahkan, mayoritas pelaku pasar saat ini memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya. Jika proyeksi tersebut terealisasi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tidak akan semakin dalam.

"Dengan asumsi The Fed menahan suku bunga, rupiah masih berpeluang bergerak relatif stabil di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Namun eskalasi konflik di Selat Hormuz tetap menjadi risiko terbesar yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan dalam jangka pendek," katanya.

Sementara itu, harga emas dunia juga masih bertahan di level tinggi sebagai aset lindung nilai. Pada perdagangan pagi ini, emas diperdagangkan di kisaran US$4.114 per troy ons, atau setara sekitar Rp2,38 juta per gram, mencerminkan tingginya permintaan investor terhadap aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement