Harga Minyak Tembus US$90 Per Barel, IHSG Dan Rupiah Rawan TertekanHarga Minyak Tembus US$90 Per Barel, IHSG Dan Rupiah Rawan Tertekan

MEDAN (Waspada.id): Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh level US$90 per barel memicu kekhawatiran terhadap pergerakan pasar keuangan Indonesia. Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi pemicu utama kenaikan harga energi global yang berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga minyak mentah Brent pada awal pekan ini melonjak sekitar 5,8 persen menjadi sekitar US$90 per barel, dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya di kisaran US$85 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi akibat memanasnya konflik geopolitik.
"Naiknya harga minyak berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan domestik. Beban impor energi dapat meningkat, memicu tekanan terhadap inflasi, sekaligus memperbesar kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter," ujar Gunawan, Senin (20/7).
Meski IHSG dibuka menguat ke level 6.197, Gunawan menilai penguatan tersebut masih rentan berbalik arah. Pasalnya, mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi global dan kemungkinan berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi.
Di pasar valuta asing, rupiah juga mengalami tekanan dengan diperdagangkan di kisaran Rp17.980 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi meskipun pada pekan sebelumnya rupiah sempat memperoleh dukungan dari masuknya dana asing ke pasar obligasi.
Menurut Gunawan, pelemahan rupiah kali ini tergolong menarik karena terjadi di tengah pergerakan US Dollar Index (DXY) yang relatif datar di kisaran 100,77. Hal ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset negara berkembang.
"Jika rupiah terus melemah, tekanan terhadap IHSG berpotensi semakin besar karena investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko. Sentimen eksternal masih menjadi penggerak utama pasar keuangan Indonesia," jelasnya.
Ia memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini bergerak dalam kisaran Rp17.930 hingga Rp18.030 per dolar AS, sedangkan IHSG diproyeksikan berada di rentang 6.100 hingga 6.200.
Gunawan menambahkan, minimnya agenda ekonomi domestik membuat perhatian investor sepenuhnya tertuju pada perkembangan global. Salah satu sentimen penting datang dari People's Bank of China (PBoC) yang memutuskan mempertahankan suku bunga pinjaman acuan di level 3 persen, sesuai ekspektasi pasar.
Sementara itu, harga emas dunia menunjukkan pemulihan dan diperdagangkan di sekitar US$4.006 per troy ons, atau setara sekitar Rp2,3 juta per gram.
Menurut Gunawan, emas masih bergerak dalam fase konsolidasi di atas level psikologis US$4.000 per troy ons, mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global. (id09)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda