Breaking News
Memuat breaking news...

Harga Minyak Tergelincir, Harapan Damai Kembali Muncul

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 25 Juli 2026 - 7.58 AM WIB
Harga Minyak Tergelincir, Harapan Damai Kembali Muncul
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Houston (Waspada.id): Harga minyak dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat setelah muncul harapan baru atas kemungkinan tercapainya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski terkoreksi, harga minyak masih mencatat kenaikan kuat sepanjang pekan karena risiko gangguan pasokan energi global belum mereda.

Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent turun US$3,91 atau 3,88% ke level US$96,78 per barel, sehari setelah sempat menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Secara mingguan, Brent masih menguat hampir 10%.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi US$2,88 atau 3,12% menjadi US$89,31 per barel. Dalam sepekan, WTI tetap membukukan kenaikan sekitar 8,3%.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah beredar laporan bahwa China berupaya menghidupkan kembali perundingan damai yang sempat terhenti antara AS dan Iran. Kendati demikian, sejumlah pihak menilai peluang tercapainya kesepakatan masih dihadapkan pada berbagai tantangan.

"Tak ada yang lebih disukai pasar selain harapan. Setiap sinyal bahwa konflik dapat diselesaikan langsung disambut positif oleh pelaku pasar," kata Mitra Again Capital John Kilduff.

Meski harga minyak terkoreksi, pasar energi masih dibayangi kekhawatiran terhadap pasokan global akibat konflik yang terus memanas di Timur Tengah.

Sepanjang pekan ini, harga minyak sempat melonjak tajam setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz ikut menurun drastis, sementara kelompok Houthi di Yaman kembali menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar minyak masih berada dalam kondisi yang rapuh karena pasokan global tetap ketat.

Menurutnya, arah pergerakan harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah sehingga pelaku pasar perlu mencermati dinamika geopolitik secara saksama.

Ancaman Pasokan Belum Hilang

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberikan "hukuman militer besar" terhadap Iran dan kelompok Houthi setelah serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Iran juga disebut mendorong Houthi menutup jalur Bab el-Mandeb apabila AS terus menyerang infrastruktur strategis Iran. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi terpenting di dunia setelah Selat Hormuz.

Selain itu, Houthi telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi yang selama ini mengalihkan ekspor minyaknya melalui jaringan pipa untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Di tengah meningkatnya ketegangan, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran mulai membaik. Berdasarkan data Kpler, lalu lintas kapal komoditas di Bab el-Mandeb meningkat menjadi 32 kapal pada 23 Juli dari 26 kapal sehari sebelumnya.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, kapal-kapal masih tetap beroperasi sehingga blokade yang dikhawatirkan pasar belum terjadi secara penuh.

Sementara itu, JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan minyak dapat mendorong harga Brent naik sekitar US$7-8 per barel. Jika gangguan berlangsung hingga tiga bulan, rata-rata harga Brent diproyeksikan dapat mencapai sekitar US$114 per barel.

Risiko terhadap pasokan energi global juga datang dari kawasan Eropa. Rusia dilaporkan menyerang tiga pelabuhan Ukraina yang menjadi pusat infrastruktur energi dan logistik, sementara Kazakhstan memangkas sementara produksi minyak setelah terminal ekspor utamanya di Laut Hitam ditutup akibat dugaan serangan drone Ukraina. (invid)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement