Hari Santri dan Air Mata 2.121 Guru Dayah di Aceh Utara


"Di saat bangsa mengangkat tinggi martabat santri, masih ada ribuan guru dayah yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu agama, tetapi harus bertahan dengan honor yang bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup paling sederhana." – Tokoh Masyarakat Aceh, Terpiadi A. Madjid.
Hari Santri selalu datang membawa kenangan tentang perjuangan. Tentang para ulama yang memimpin perlawanan terhadap penjajah. Tentang santri-santri yang mengorbankan masa muda mereka demi menjaga agama, bangsa, dan negara. Tentang Resolusi Jihad yang dikenang sebagai salah satu fondasi lahirnya Republik Indonesia.
Setiap tahun, panggung-panggung peringatan dipenuhi pujian bagi santri. Baliho ucapan selamat berdiri di sudut kota. Pejabat, tokoh masyarakat, dan pemimpin daerah mengutip jasa besar pesantren dalam membangun bangsa. Namun, di Aceh Utara, peringatan Hari Santri menyisakan ironi yang menyesakkan.
Di balik megahnya penghormatan kepada santri, terdapat ribuan guru dayah yang hidup dalam keterbatasan. Mereka adalah orang-orang yang selama puluhan tahun menanamkan ilmu, akhlak, dan nilai-nilai Islam kepada generasi muda. Namun, hingga hari ini, sebagian dari mereka masih menerima honor yang jauh dari kata layak.
Hal tersebut disampaikan tokoh masyarakat Aceh, Terpiadi A. Madjid, kepada Waspada.id, Kamis (22/10/2026) sore, di Gathaf Coffee. Menurut dia, berdasarkan data yang diperoleh dari dinas terkait, sekitar 2.121 guru dayah menerima bantuan honor sebesar Rp250 ribu per bulan selama 12 bulan.
Terpiadi mengatakan, Rp250 ribu adalah angka yang mungkin habis dalam sekali belanja kebutuhan rumah tangga. Angka yang bahkan lebih kecil dari biaya hidup selama beberapa hari. Namun, dengan nilai itulah para guru dayah tetap bertahan mendidik santri, mengajarkan Al-Qur'an, kitab kuning, fikih, tauhid, tasawuf, hingga akhlak yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Aceh.
“Mereka tidak pernah menghitung jam mengajar. Mereka tidak mengenal lembur. Mereka tidak memiliki tunjangan profesi sebagaimana tenaga pendidik formal lainnya. Yang mereka miliki hanyalah keikhlasan. Namun, keikhlasan tidak semestinya dijadikan alasan untuk membiarkan kesejahteraan mereka tertinggal,” sebut tokoh masyarakat Aceh ini.
Penjaga Cahaya di Serambi Mekkah
Aceh sering disebut Serambi Mekkah. Julukan itu bukan lahir begitu saja. Julukan tersebut tumbuh dari kuatnya tradisi keislaman yang selama berabad-abad dipelihara melalui dayah-dayah yang tersebar hingga pelosok gampong.
Di Aceh Utara, keberadaan dayah bukan sekadar lembaga pendidikan. Dayah adalah pusat pembentukan karakter masyarakat, tempat lahirnya para ulama, imam masjid, khatib, guru mengaji, dan tokoh-tokoh agama yang menjadi rujukan umat.
Saat ini, lanjut Terpiadi, berdasarkan data resmi yang diperoleh, terdapat sekitar 65 ribu santri yang menuntut ilmu di sekitar 280 dayah dengan dukungan kurang lebih 6.500 tenaga pendidik. Jumlah ini menjadikan Aceh Utara sebagai salah satu kabupaten dengan basis pendidikan dayah terbesar di Aceh.
Dengan jumlah demikian besar, dayah sesungguhnya memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Dayah ikut menjaga generasi muda dari ancaman narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas, hingga krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Saat berbagai tantangan sosial muncul, dayah tetap berdiri sebagai benteng terakhir yang menjaga identitas keislaman masyarakat Aceh.
“Tetapi, benteng itu kini berdiri di atas fondasi kesejahteraan yang rapuh.”
Ketika Dana Kekhususan Belum Menyentuh Kekhususan
Di sinilah ironi berikutnya muncul. Aceh adalah daerah yang memiliki status kekhususan. Kekhususan tersebut diberikan negara melalui berbagai kewenangan yang tidak dimiliki daerah lain, termasuk dukungan Dana Otonomi Khusus atau Dana Otsus.
Secara filosofis, Dana Otsus hadir untuk memperkuat keistimewaan dan kekhususan Aceh. Karena itu, sektor-sektor yang menjadi identitas utama daerah semestinya memperoleh perhatian lebih besar. Salah satu sektor itu adalah pendidikan dayah. Namun, realitas yang dirasakan selama ini menunjukkan bahwa porsi anggaran untuk sektor kekhususan, khususnya pendidikan dayah, masih relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.
Dinas yang menangani dayah selama ini menerima alokasi Dana Otsus yang dinilai belum memadai untuk menjawab kebutuhan ribuan santri dan tenaga pendidik. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, besaran anggaran disebut mengalami fluktuasi dan cenderung menurun.
Akibatnya, banyak program strategis sulit dijalankan secara maksimal. Peningkatan honor guru berjalan lambat. Rehabilitasi sarana dayah terbatas. Biaya operasional lembaga pendidikan dayah masih jauh dari ideal. Padahal, jika sektor kekhususan benar-benar memperoleh porsi yang proporsional, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat.
“Honor guru bisa ditingkatkan. Operasional dayah dapat diperkuat. Fasilitas belajar santri bisa diperbaiki. Dan kualitas pendidikan Islam akan semakin berkembang,” kata Cek Ter, sapaan akrabnya.
Mengajar dengan Doa, Bertahan dengan Kesabaran
Ada sesuatu yang sering luput dari perhitungan statistik. Di balik angka 2.121 guru dayah, terdapat ribuan keluarga. Ada guru yang harus memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada yang membiayai pendidikan anak. Ada yang harus merawat orang tua. Ada pula yang tetap mengajar meski harus mencari pekerjaan tambahan demi menyambung hidup.
Namun, setiap sore dan malam, mereka kembali ke ruang pengajian. Membuka lembar demi lembar kitab. Mengoreksi bacaan santri. Membimbing hafalan Al-Qur'an. Menanamkan adab. Mendidik akhlak. Mereka menjalankan tugas yang sesungguhnya sangat mulia dalam pandangan Islam.
Rasulullah SAW menempatkan orang-orang yang mengajarkan ilmu pada derajat yang tinggi. Sebab, ilmu menjadi jalan yang menerangi kehidupan umat. Karena itulah, memperjuangkan kesejahteraan guru dayah bukan semata-mata persoalan ekonomi. Hal itu merupakan bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Hari Santri dan Sebuah Pertanyaan Nurani
Hari Santri seharusnya tidak berhenti pada upacara, slogan, atau seremoni tahunan. Hari Santri mesti menjadi momentum refleksi. Apakah bangsa ini benar-benar telah menghargai mereka yang mendidik para santri? Apakah daerah yang mengusung syariat Islam telah memberi tempat yang layak bagi guru-guru dayah?
Dan apakah Dana Otsus yang lahir atas nama kekhususan sudah cukup menghadirkan manfaat bagi sektor yang paling mencerminkan kekhususan Aceh itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Namun, jawabannya menentukan masa depan pendidikan Islam di Aceh. Sebab, tidak ada santri tanpa guru. Tidak ada ulama tanpa dayah. Dan tidak ada peradaban Islam yang kokoh tanpa orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama.
Hari ini, ketika ucapan selamat Hari Santri bergema di berbagai tempat, mungkin sudah saatnya perhatian juga diarahkan kepada mereka yang selama ini bekerja dalam diam. Mereka yang namanya jarang disebut. Mereka yang tidak tampil di panggung kehormatan. Namun, merekalah yang setiap hari menjaga nyala cahaya Islam di Serambi Mekkah.
Sebab, sesungguhnya, air mata 2.121 guru dayah di Aceh Utara bukan hanya tentang kecilnya honor yang mereka terima. Air mata itu adalah pertanyaan yang menunggu dijawab: sejauh mana kita benar-benar menghargai para penjaga ilmu dan akhlak bangsa?
"Ketika guru dayah masih bertahan dengan Rp250 ribu sebulan, yang sedang diuji bukan keikhlasan mereka, melainkan keberpihakan kita terhadap masa depan pendidikan Islam di Aceh,” demikian Terpiadi A. Madjid. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I./Waspada.id)
Berita Terkait


















































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda