HKTI Sumut Fokus Tapsel Jadi Sentra Ternak dan CabaiHKTI Sumut Fokus Tapsel Jadi Sentra Ternak dan Cabai

MEDAN (Waspada.id): DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumatera Utara menyiapkan gerakan besar sektor pertanian untuk periode 2026–2030 dengan memprioritaskan pengembangan Tapanuli Selatan sebagai sentra peternakan dan cabai merah, serta mempercepat penguatan sektor perikanan darat.
Program tersebut akan dirumuskan dalam rangkaian Musyawarah Daerah (Musda), pelantikan DPC HKTI kabupaten/kota se-Sumatera Utara, pelantikan DPD HKTI Sumut, serta Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluh Pertanian Swadaya.
Persiapan agenda tersebut dibahas dalam rapat panitia yang dipimpin Ketua Organizing Committee (OC) Dr. Aripay Tambunan, MM, bersama Ketua Steering Committee (SC) Rafriandi Nasution, SE, MT, didampingi Sekretaris Muhammad Syah, Bendahara Satika Simamora dan jajaran panitia Musda HKTI Sumut.
Aripay Tambunan menegaskan, Musda dan pelantikan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial organisasi. Konsolidasi harus dilanjutkan dengan program nyata yang menyentuh kebutuhan petani, peternak dan pekebun.
“Musda harus menjadi titik awal gerakan besar HKTI Sumatera Utara. Setelah organisasi terkonsolidasi, yang ditunggu masyarakat adalah kerja nyata. HKTI harus hadir membantu petani meningkatkan produksi, memperoleh akses pembiayaan, teknologi, sarana produksi dan kepastian pasar,” ujar Aripay.
Karena itu, panitia mematangkan berbagai persiapan, mulai konsolidasi DPC kabupaten/kota, peserta Musda, administrasi pelantikan, Bimtek, kemitraan hingga agenda program pasca-Musda.
Salah satu program strategis yang disiapkan yakni pencanangan Tapanuli Selatan Sentra Ternak Berkelanjutan 2026–2030 dan Tapanuli Selatan Sentra Cabai Merah Berkelanjutan 2026–2030.
Program sentra ternak diarahkan membangun ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir, mencakup pembibitan, ketersediaan pakan, kesehatan ternak, penguatan kelompok peternak, pembiayaan hingga pemasaran.
Sedangkan pengembangan sentra cabai merah diarahkan membangun kawasan produksi berkelanjutan melalui pola tanam terencana, penggunaan benih berkualitas, penguatan penyuluhan, penerapan teknologi budidaya, penanganan pascapanen dan kepastian akses pasar.
Ketua SC Rafriandi Nasution mengatakan HKTI ingin membangun model program yang terukur dan dapat direplikasi di kabupaten/kota lainnya sesuai potensi komoditas unggulan masing-masing daerah.
“Kita ingin konsolidasi organisasi berujung pada konsolidasi program. Setiap daerah memiliki potensi berbeda. HKTI harus mampu memetakan potensi tersebut dan menghubungkan petani dengan pemerintah, perbankan, perguruan tinggi, dunia usaha dan pasar,” katanya.
Menurut Rafriandi, program periode 2026–2030 harus memiliki target dan indikator keberhasilan sehingga dapat dievaluasi setiap tahun dan tidak berhenti sebatas pencanangan.
Selain pangan dan peternakan, HKTI Sumut juga memberi perhatian terhadap percepatan pengembangan perikanan darat. Sektor tersebut dipandang memiliki potensi untuk meningkatkan sumber pendapatan masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki sumber daya perairan dan lahan pendukung.
Rangkaian Musda juga akan diisi Bimtek Penyuluh Pertanian Swadaya. HKTI menilai penyuluh swadaya merupakan kekuatan penting karena berinteraksi langsung dengan petani serta memahami persoalan pertanian di tingkat desa.
Bimtek diarahkan meningkatkan kemampuan penyuluh dalam teknologi budidaya, penguatan kelembagaan kelompok tani, akses pembiayaan, digitalisasi pertanian, pemasaran hasil serta pendampingan pengembangan usaha tani.
HKTI Sumut juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah pusat, Pemprov Sumut, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, perbankan, BUMN/BUMD, dunia usaha dan pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya.
Sekretaris panitia Muhammad Syah mengatakan seluruh persiapan administrasi, data DPC, peserta Musda, peserta pelantikan dan Bimtek serta dokumen kerja sama akan ditata secara sistematis agar seluruh agenda berjalan efektif.
Sementara Bendahara Satika Simamora menekankan penyusunan anggaran secara realistis, efisien, transparan dan akuntabel dengan mengutamakan kebutuhan yang mendukung keberhasilan kegiatan.
Rangkaian Musda, pelantikan DPC HKTI se-Sumatera Utara, pelantikan DPD HKTI Sumut dan Bimtek Penyuluh Pertanian Swadaya diharapkan menjadi momentum transformasi HKTI Sumut dari konsolidasi organisasi menuju konsolidasi program dan pemberdayaan petani.
Melalui program sentra ternak dan cabai merah di Tapanuli Selatan, penguatan penyuluh pertanian swadaya serta pengembangan perikanan darat, HKTI Sumut menargetkan program yang manfaatnya dapat diukur dan dirasakan langsung masyarakat.
“HKTI harus hadir dari lahan pertanian sampai pasar. Petani jangan dibiarkan berjalan sendiri. Organisasi harus menjadi jembatan antara petani, pemerintah, teknologi, pembiayaan dan pasar. Muara dari seluruh gerakan ini adalah peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani Sumatera Utara,” demikian semangat yang mengemuka dalam rapat tersebut. (wsp.id)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda