IKJ Dorong Seni Warga Menjadi Bagian dari Identitas dan Estetika KotaIKJ Dorong Seni Warga Menjadi Bagian dari Identitas dan Estetika Kota

JAKARTA (Waspada.id): Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menilai perkembangan seni di ruang publik, termasuk seni warga, memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan karakter sebuah kota.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 bertema “Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota: Perspektif Interdisiplin Seni Rupa dan Desain” yang digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) IKJ melalui Bidang Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat di Galeri FSRD IKJ, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).
Seminar yang tahun ini memasuki penyelenggaraan keenam tersebut menjadi momentum khusus karena untuk pertama kalinya digelar secara luring setelah sejak awal pelaksanaannya pada masa pandemi diselenggarakan secara daring.
Dekan FSRD IKJ, Dr. Adlien Fadlia, S.Sn., M.Ds., mengatakan keberadaan seni tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sebuah kota, terlebih Jakarta yang menjadi ruang pertemuan berbagai budaya dan latar belakang masyarakat.
“Ketika kota itu memiliki ciri atau identitas, kita tidak bisa melupakan unsur estetik dalam membangun sebuah kota,” ujarnya.
Menurut Adlien, Jakarta sebagai melting pot berbagai kebudayaan menghadirkan dinamika yang kuat dalam perkembangan seni. Karena itu, seni tidak hanya hadir di ruang-ruang galeri atau institusi formal, tetapi juga berkembang di ruang publik melalui berbagai bentuk ekspresi warga.
Salah satu bentuk perkembangan tersebut adalah mural yang dalam satu dekade terakhir semakin banyak menghiasi ruang-ruang publik perkotaan. Selain mural, seni patung, arsitektur, lanskap, hingga berbagai praktik seni kontemporer juga menjadi bagian dari narasi visual sebuah kota.
“Bagaimana ruang-ruang estetik itu hadir melalui visual. Mural juga merupakan narasi visual yang memberikan ciri khas pada sebuah kota besar atau urban,” katanya.
Ia menegaskan, perkembangan seni di ruang publik perlu dilihat bukan sekadar sebagai dekorasi atau pemanis kota. Berbagai praktik seni warga juga dapat menjadi bagian dari proses pembentukan identitas, karakter, dan pengalaman estetis masyarakat terhadap kota yang mereka tinggali.
Dalam konteks tersebut, FSRD IKJ secara rutin menyelenggarakan Pusaran Urban sebagai ruang edukasi dan diskusi bagi masyarakat, praktisi seni, serta civitas akademika untuk membahas berbagai persoalan terkait kota, seni, desain, estetika, dan dinamika masyarakat.
“Setiap tahun kami akan terus melaksanakan edukasi ini. Mungkin belum secara konkret, tetapi melalui edukasi ini diharapkan menjadi satu catatan bagi pemangku kebijakan, pelaku seni, masyarakat luas, dan generasi muda,” ujar Adlien.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen IKJ untuk terus memberikan kontribusi terhadap perkembangan kota melalui perspektif seni.
“Kontribusi kami adalah mengingatkan terus. Walaupun nanti pergerakannya lambat atau cepat, itu kita tunggu waktu,” katanya.
Menurut Adlien, perkembangan kota tidak dapat dilepaskan dari seni dan kreativitas masyarakat. Berbagai praktik seni yang tumbuh di ruang publik perlu menjadi perhatian sekaligus bahan pembelajaran bagi institusi pendidikan seni.
IKJ juga mendorong para mahasiswa untuk melihat perkembangan seni di Jakarta sebagai sumber pembelajaran yang dapat diadaptasi di daerah masing-masing.
“Mahasiswa kami tidak hanya berasal dari masyarakat Kota Jakarta. Mereka juga dari berbagai daerah. Kami memberikan edukasi kepada mereka, ayo bangun kota, tetapi lihat dulu percontohannya yang ada di Jakarta. Ini bisa diadopsi atau diadaptasi di kotanya masing-masing,” ujarnya.
Adlien mencontohkan mural sebagai salah satu bentuk seni kolektif masyarakat yang dapat menjadi bagian dari narasi visual dan unsur estetika di ruang publik. Pada saat yang sama, perkembangan seni juga dapat mengolah kembali kekayaan tradisi melalui berbagai pendekatan baru.
“Bagaimana yang tadinya klasik menjadi modern dan menjadi kontemporer dengan banyak bentuk. Itu merupakan praktik estetik di ruang kota atau ruang publik,” katanya.
Menurutnya, diskursus mengenai seni dan kota tidak akan pernah berhenti. Perkembangan gaya hidup, dinamika masyarakat, serta perubahan bentuk kota akan terus melahirkan praktik-praktik seni baru.
“Akademisi seni rupa dan desain juga tidak luput dari gaya hidup, bagaimana kota terbentuk, dan bagaimana dinamika masyarakatnya. Jakarta sebagai melting pot banyak memberikan dinamika dalam berkesenian,” ujarnya.
Ia berharap melalui Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6, FSRD IKJ mendorong pemikiran kritis dan refleksi bersama mengenai kompleksitas narasi visual urban sekaligus membuka peluang kolaborasi melalui metode seni dan desain untuk mendukung pengembangan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6, Dr. Bambang Tri Rahadian, mengatakan penyelenggaraan tahun ini memiliki arti khusus karena untuk pertama kalinya seminar kembali digelar secara luring setelah sebelumnya dilaksanakan secara daring sejak masa pandemi.
“Pusaran Urban tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam. Setelah sejak awal pelaksanaannya dilakukan secara daring karena pandemi, tahun ini kami kembali menghadirkan ruang pertemuan secara luring. Namun, di saat yang sama, kami tetap membuka ruang partisipasi melalui platform digital,” kata Bambang.
Ia menjelaskan, tema “Narasi Visual dan Praktik Estetik di Kota” dipilih untuk melihat bagaimana berbagai praktik visual dan estetika hadir, berkembang, serta berinteraksi dengan kehidupan masyarakat perkotaan.
“Kota hari ini bukan hanya ruang yang kita lihat secara fisik. Kota juga hadir melalui berbagai narasi visual, baik di ruang publik maupun ruang digital. Karena itu, seni rupa dan desain memiliki peran penting untuk membaca bagaimana narasi tersebut diproduksi, dikonsumsi, dipertukarkan, dan dikontestasikan oleh masyarakat,” ujarnya.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Martin Suryajaya, M.Hum., akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ; Adi S. Noegroho, Chief Creative Officer Narrada Communications; Felencia Hutabarat, peneliti budaya; serta Enin Supriyanto, Artistic Director. Diskusi dimoderatori Wili Sandra, M.Hum., akademisi Sekolah Pascasarjana IKJ.
Dalam sesi keynote, Dr. Martin Suryajaya mengangkat tema “Estetika Sebagai Tindakan Warga Merawat Kota”. Ia mengulas sejumlah pertanyaan utama, antara lain bagaimana warga berestetika, bagaimana seniman mengestetikakan kota, serta bagaimana warga merawat kota melalui tindakan estetis.
Menurut Martin, estetika kota tidak semata-mata berpusat pada pembangunan dan pemeliharaan keindahan sebagai pengalaman estetis. Estetika juga perlu diperluas untuk membaca berbagai pengalaman ketidaknyamanan warga, seperti kemacetan, polusi, dan persoalan lain yang dihadapi dalam kehidupan perkotaan.
Dalam kerangka tersebut, estetika negatif dapat dipahami sebagai data penting mengenai pengalaman sensoris warga sekaligus indikator adanya ketidakadilan ruang. Sementara itu, seni dapat menjadi cara bagi warga untuk mengklaim hak atas kota, bukan sekadar sebagai dekorasi urban, tetapi juga sebagai alat partisipasi, resistensi, dan penciptaan ruang pertemuan sosial.
Seminar Nasional Seni Rupa Pusaran Urban 6 juga diikuti 19 pemakalah yang terbagi dalam tiga bidang keilmuan, yakni Desain Komunikasi Visual (DKV), Kriya, dan Seni Murni. Sesi pemakalah dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan dimoderatori oleh dosen-dosen FSRD IKJ.
Beragam isu diangkat dalam sesi tersebut. Bidang DKV, antara lain, membahas “Batik Lasem sebagai Arsip Visual Urban Hibriditas Budaya” dan “Dari Wayang ke Elemen Sirkuit: Transformasi Visual Semar dalam Poster Pementasan Mencari Semar Teater Koma”.
Sementara itu, bidang Kriya mengangkat tema “Kebaya Kota: Narasi Identitas dan Gaya Hidup Perempuan Urban”. Adapun bidang Seni Murni menyoroti tema “Seni Urban sebagai Estetika Politemporal dalam Seni Kontemporer Jakarta: Arsip Digital, Memori Visual dan Kritik atas Linearitas Sejarah Seni”.
Beragam isu yang dibahas menunjukkan bahwa persoalan perkotaan akan terus menjadi medan penting dalam perkembangan seni urban dan praktik visual.
"Kota tidak hanya menjadi latar tempat berlangsungnya praktik seni, tetapi juga ruang yang terus diproduksi, dinegosiasikan, dikritik, dan dimaknai oleh seniman, praktisi, serta warganya," imbuh Bambang. (id11)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda