Breaking News
Memuat breaking news...

IKJ Menempatkan Tradisi Nusantara di Tengah Riset dan Penciptaan Seni

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 19 September 2026 - 2.40 PM WIB
IKJ Menempatkan Tradisi Nusantara di Tengah Riset dan Penciptaan Seni
Delapan dosen IKJ penulis buku disertasi berfoto bersama pembicara dan moderator dalam acara peluncuran di Aula HB Jassin, TIM Jakarta, Kamis (17/9/2026). ((waspada.id/dian)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Tradisi Nusantara tak hanya dipandang sebagai warisan yang harus dijaga. Bagi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tradisi menjadi bahan penelitian, sumber penciptaan karya, sekaligus pengetahuan yang terus diuji relevansinya dengan perubahan masyarakat.

Kecenderungan tersebut terlihat dari karya akademik para dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) IKJ yang menempatkan beragam tradisi lokal sebagai objek penelitian. Sebanyak 8 buku hasil penelitian disertasi dosen FSRD IKJ diluncurkan dalam acara bertema “Tradisi dalam Ruang Interpretasi Budaya Modern” di Balai Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Salah satu Dosen FSRD IKJ yang juga penulis buku disertasi, Dr. Citra Smara Dewi mengatakan, pendekatan tersebut memiliki akar panjang dalam sejarah IKJ sejak berdiri pada 1970. Para pengajar generasi awal, kata dia, telah terbiasa melakukan eksplorasi seni dan budaya dengan mendatangi berbagai wilayah Nusantara.

“Tradisi para guru-guru kita itu berkarya pasti keliling-keliling ke Kalimantan, ke Sulawesi, bahkan ke Irian,” ujar Citra.

Tradisi tersebut kemudian berkembang seiring menguatnya pendidikan akademik di IKJ. Pengalaman lapangan yang dahulu banyak diperoleh melalui perjalanan dan praktik berkarya, kini diperdalam melalui penelitian, dokumentasi, serta kajian lintas disiplin.
“Tradisi berkarya tapi dengan satu pengalaman yang berinteraksi dengan wilayah-wilayah di Nusantara,” katanya.

Menurut Citra, keterhubungan dengan warisan lokal dan pendekatan interdisipliner menjadi bagian dari karakter IKJ.

“DNA kami sebenarnya itu IKJ. Interdisiplin dan juga menyatu dengan warisan-warisan lokal Nusantara,” ujarnya.

Salah satu contoh datang dari penelitian Dr. Lucky Wijayanti, M.Sn., yang mengkaji posisi perempuan Sasak dalam keberlangsungan tradisi wastra Lombok. Penelitian tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam penciptaan karya tekstil.

Melalui bukunya, Inen Bale: Perempuan Etnik Sasak sebagai Penyangga Tradisi Wastra, Lucky menunjukkan bagaimana pengetahuan mengenai tradisi dapat bergerak dari ruang penelitian menuju praktik penciptaan.
Ia mengatakan perempuan Sasak memiliki peran penting dalam keberlangsungan budaya karena terlibat dalam penciptaan kain untuk berbagai kebutuhan budaya.

“Perempuan suku Sasak adalah kebudayaan itu sendiri,” ujarnya.

Bagi Lucky, penelitian juga bukan proses untuk mengotakkan objek ke dalam kategori tradisional, modern, atau kontemporer. Tradisi dapat dibaca sebagai realitas yang terus bergerak dan dapat dikaji melalui beragam perspektif.

Proses itu sekaligus memperkaya pengetahuan penciptanya. Berbagai teknik dan pengetahuan yang ditemukan selama penelitian kemudian dapat dibagikan kembali kepada mahasiswa.
“Ilmu pengetahuan itu, makin tinggi kita melakukan, itu makin memperkaya pikiran-pikiran kita,” katanya.

Perspektif serupa terlihat dalam penelitian Citra mengenai peran Galeri Nasional Indonesia dalam pembentukan identitas nasional. Melalui buku Galeri Nasional Indonesia dalam Pembentukan Identitas Nasional, ia mengkaji perkembangan seni rupa dalam dinamika politik pascareformasi, termasuk perkembangan seni rupa di luar Jawa dan Bali seperti Kalimantan dan Sulawesi.

Ragam penelitian itu menunjukkan bahwa tradisi di lingkungan pendidikan seni tidak ditempatkan semata sebagai objek pelestarian. Tradisi dapat menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan identitas, sejarah, gender, estetika, desain, ruang, hingga perubahan sosial.

Pengajar Desain Komunikasi Visual FSRD IKJ, Dr. Bambang Tri Rahadian melihat perkembangan tersebut perlu diikuti dengan penguatan metodologi penciptaan seni yang khas.

Ia lantas merujuk Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 yang membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk menggunakan bentuk tugas akhir berupa prototipe, proyek, atau bentuk lain, tidak terbatas pada skripsi konvensional. Menurut Bambang, ruang tersebut dapat menjadi momentum bagi IKJ untuk mengembangkan metodologi yang berangkat dari karakter seni dan desain sekaligus kekhasan IKJ yang berkaitan dengan berbagai tradisi Nusantara, termasuk urbanitas.

"Dalam konteks tradisi, Bambang menilai penciptaan karya tidak cukup berhenti pada hasil visual atau artistik. Karya perlu disertai kajian mengenai fungsi dan kontribusinya agar proses penciptaan sekaligus menghasilkan pengetahuan,"tandasnya.

Dekan FSRD IKJ, Dr. Adlien Fadila mengatakan posisi tersebut sejalan dengan keberadaan FSRD IKJ sebagai bagian dari ekosistem seni dan budaya di kawasan Taman Ismail Marzuki.

Menurut Adlien, penelitian seni dan budaya harus menghasilkan pengetahuan yang dapat ditelusuri melalui data dan sumber yang jelas, sekaligus memberi kontribusi terhadap pendidikan seni.

“Riset seni dan budaya itu dapat berkontribusi dalam pendidikan seni,” kata Adlien.

Delapan buku tersebut memperlihatkan luasnya spektrum tradisi yang diteliti dan diolah kembali di lingkungan FSRD IKJ.

Selain Inen Bale: Perempuan Etnik Sasak sebagai Penyangga Tradisi Wastra karya Lucky Wijayanti dan Galeri Nasional Indonesia dalam Pembentukan Identitas Nasional karya Citra Smara Dewi, buku yang diluncurkan mencakup Gerakan Batik Canting Rifaiyah sebagai Semangat Zaman karya Adlien Fadila; Tata Ruang Interior Istana Kepresidenan Yogyakarta: Bentang Masa, Urgensi dan Relevansi Pendidikan Seni karya Ika Yuni Purnama; Arus Balik Kebaya: Warisan Budaya, Identitas dan Modernitas karya Nita Trismaya; Membawa Jiwa Toraja ke Jantung Jakarta: Pesona Estetik Tator Café Dharmawangsa Square karya Lily Wijayanti; Estetika Akulturasi dalam Kostum Sie Jin Kwie Produksi Teater Koma karya Mangesti Rahayu; serta Eksplorasi Estetika Wayang Punakawan Banyumasan dalam Perancangan Busana Art Fashion Berkelanjutan karya Novi Yuniarti. (id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement