Breaking News
Memuat breaking news...

IMT-GT ke-32: Harapan Baru atau Retorika Belaka?

Redaksi
Redaksi
Minggu, 13 September 2026 - 7.53 PM WIB
IMT-GT ke-32: Harapan Baru atau Retorika Belaka?
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Amir Hamdani Nasution

Lorong Gelap IMT-GT

Pertemuan Tingkat Menteri ke-32 Kerja Sama Segitiga Pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Thailand atau IMT-GT yang digelar di Medan pada 7–10 September 2026 kembali meneguhkan cita-cita membangun kawasan yang terintegrasi, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Pertemuan ini penting bukan semata karena mempertemukan tiga negara, tetapi karena Indonesia, Malaysia dan Thailand sedang mencari cara agar kedekatan geografis mereka menghasilkan pasar yang lebih besar, rantai pasok yang lebih kuat dan investasi yang lebih menguntungkan daripada jika masing-masing berjalan sendiri.

Di atas peta, peluang itu sangat besar, karena Sumatera berhadapan langsung dengan Semenanjung Malaysia dan Thailand Selatan, sementara ketiga wilayah mempunyai sumber daya, industri, pasar dan kemampuan yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi. Tantangan setelah lebih dari tiga dasawarsa IMT-GT justru bagaimana menemukan lebih banyak hubungan ekonomi semacam itu, sehingga kerja sama tidak berhenti pada pelabuhan, jalan, kawasan industri dan pertemuan bisnis yang berdiri sendiri.

Sebut saja KEK Sei Mangkei yang selama ini menjadi salah satu wajah IMT-GT di Sumatera Utara. Kawasan ini penting karena berada di tengah basis perkebunan besar dan dapat dihubungkan dengan Kuala Tanjung serta industri karet dan agroindustri Malaysia-Thailand. Tetapi pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa mengandalkan beberapa kawasan industri besar tidak cukup untuk membangun ekonomi regional yang tangguh. IMT-GT membutuhkan lebih banyak sumber pasokan, lokasi pengolahan, perusahaan pemasok dan pasar yang saling terhubung sehingga pertumbuhan tidak bergantung pada sedikit pusat ekonomi saja.

Pertemuan Medan sebagai Panggung Sejarah sekaligus Panggung Ironi

Pertemuan Medan karena itu merupakan kesempatan besar bagi Sumatera Utara untuk menunjukkan apa yang dapat ditawarkan kepada perusahaan Malaysia dan Thailand. KEK Sei Mangkei, Toba Caldera Resort, KISS, serta pengembangan MICE dan smart city di kawasan Medan dan Deli Serdang merupakan pilihan yang mudah dipahami karena proyek-proyek tersebut besar, terlihat dan relatif siap dipresentasikan. Tetapi justru karena IMT-GT sedang memasuki tahap baru, pertanyaannya seharusnya bukan lagi hanya proyek besar apa yang dapat ditawarkan, melainkan peluang ekonomi baru apa yang belum terlihat oleh pasar.

Salah satu peluang yang belum banyak terlihat itu berada di Tapanuli Bagian Selatan atau Tabagsel. Kawasan yang terdiri dari Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara dan Padangsidimpuan ini selama ini lebih dikenal sebagai daerah pemasok komoditas, padahal kombinasi basis pertanian dan perkebunan, tenaga kerja, kota jasa, konektivitas menuju pantai barat, Sumatera Barat dan Medan membuatnya berpotensi menjadi basis produksi baru bagi jaringan perusahaan IMT-GT.

Bagi pengusaha Malaysia atau Thailand, pertanyaannya tentu sederhana: mengapa kami harus melihat Tabagsel? Jawabannya bukan karena Tabagsel membutuhkan bantuan, tetapi karena kawasan ini menawarkan sesuatu yang dicari setiap perusahaan: sumber pasokan baru, produk baru, lokasi pengolahan baru, mitra usaha baru dan akses lebih dalam ke pasar Indonesia.

Ambil kopi Mandailing sebagai contoh paling mudah. Malaysia mempunyai industri makanan-minuman, jaringan ritel, hotel, restoran dan perdagangan internasional yang jauh lebih berkembang, sementara Thailand mempunyai industri pengolahan pangan, pariwisata dan jaringan pasar yang kuat; Mandailing membawa produk dengan identitas geografis dan cerita yang sudah dikenal di pasar kopi internasional. Daripada kopi tersebut meninggalkan Mandailing sebagai bahan baku dan seluruh nilai tambah tercipta di tempat lain, perusahaan Malaysia atau Thailand dapat membangun kontrak pasokan, joint venture pengolahan, roasting, standardisasi, pengemasan, distribusi atau pengembangan merek bersama dengan perusahaan lokal. Malaysia dan Thailand memperoleh produk dan pasar; Tabagsel memperoleh teknologi dan kegiatan bernilai tambah; IMT-GT memperoleh perdagangan baru yang sebelumnya tidak ada.

Harapan Baru dan Tantangan ke Depan

Pertemuan Tingkat Menteri ke-32 IMT-GT karena itu layak dibaca sebagai kesempatan mencari “Sei Mangkei berikutnya” bukan dalam arti membangun kawasan industri raksasa baru, tetapi menemukan sumber pertumbuhan baru yang dapat dihubungkan dengan kemampuan yang sudah dimiliki ketiga negara. Tabagsel menarik justru karena sebagian aset produksinya sudah tersedia, sementara mata rantai pengolahan, teknologi, pembiayaan dan pasarnya belum sepenuhnya terbentuk.

Apakah semangat “lebih sedikit janji, lebih banyak hasil” mampu mengubah perjalanan IMT-GT? Salah satu ujiannya adalah apakah IMT-GT mampu menemukan peluang yang secara bisnis cukup menarik sehingga perusahaan Indonesia, Malaysia dan Thailand bersedia mengeluarkan uang mereka sendiri untuk mengembangkannya.

Setidaknya ada empat alasan mengapa peluang tersebut layak diuji. Pertama, Malaysia dan Thailand berkepentingan mempunyai sumber pasokan yang semakin beragam di tengah ketidakpastian perdagangan dan rantai pasok dunia. Tabagsel mempunyai basis kopi, karet, sawit, pangan dan berbagai produk berbasis sumber daya yang dapat dikembangkan lebih jauh. Yang ditawarkan bukan bahan mentah sebanyak-banyaknya, tetapi kemungkinan membangun produksi bersama sejak dari standardisasi bahan baku sampai produk bernilai lebih tinggi. Perusahaan Malaysia yang membutuhkan bahan baku atau produk pangan dapat memperoleh pemasok tambahan; perusahaan Thailand dengan kemampuan agroindustri dapat menemukan basis produksi dan mitra baru; sedangkan perusahaan Indonesia memperoleh akses teknologi dan pasar. Ketika satu perusahaan Malaysia atau Thailand tidak lagi bergantung kepada satu sumber pasokan, ketahanan bisnis mereka meningkat. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, memiliki pilihan pemasok dan lokasi produksi tambahan adalah nilai ekonomi tersendiri.

Kedua, Tabagsel tidak hanya menawarkan apa yang dapat dijual ke Malaysia dan Thailand, tetapi juga pintu masuk bagi perusahaan kedua negara ke pasar Indonesia.

Indonesia adalah pasar besar, dan Sumatera sendiri mempunyai puluhan juta penduduk. Padangsidimpuan telah lama berfungsi sebagai pusat perdagangan dan jasa bagi kawasan selatan Sumatera Utara, sementara hubungan masyarakat Tabagsel melintasi batas administratif menuju Sumatera Barat dan Riau. Perusahaan makanan, produk halal, jasa pendidikan, kesehatan, pariwisata, teknologi pertanian, logistik atau ritel Malaysia dan Thailand dapat melihat kawasan ini bukan hanya sebagai tempat membeli komoditas, tetapi sebagai pasar untuk memperluas usaha mereka. Dengan demikian arus bisnisnya tidak satu arah: Tabagsel menjual kepada Malaysia-Thailand, sementara perusahaan Malaysia-Thailand memperoleh pintu baru memasuki ekonomi Sumatera.

Ketiga, posisi geografis Tabagsel memberikan pilihan jaringan yang berbeda dari koridor Medan–Selat Malaka. Kawasan ini dapat bergerak ke utara menuju Medan dan Kualanamu, ke barat menuju Sibolga, ke selatan menuju Sumatera Barat dan dari bagian timurnya terhubung menuju Riau.

Bagi bisnis, banyak pilihan jalur berarti fleksibilitas. Tidak semua produk harus dikirim melalui satu pelabuhan dan tidak semua perjalanan bisnis harus bergantung kepada satu metropolitan. Bandara Jenderal Besar AH Nasution tidak harus segera mempunyai penerbangan langsung ke Penang untuk mempunyai nilai IMT-GT; cukup apabila ia membuat investor, buyer, teknisi dan wisatawan dapat mencapai Mandailing lebih mudah melalui Kualanamu atau Padang. Sibolga juga tidak harus menggantikan Belawan atau Kuala Tanjung, tetapi dapat memberi alternatif bagi kegiatan ekonomi pantai barat. Tabagsel dengan demikian menawarkan sesuatu yang semakin berharga dalam ekonomi modern: pilihan jaringan dan diversifikasi risiko.

Keempat, ada satu aset yang sering dilupakan ketika berbicara tentang investasi, yaitu identitas. Mandailing mempunyai nama yang telah berjalan lebih jauh daripada infrastrukturnya, terutama melalui kopi, kuliner, sejarah, budaya dan diaspora.

Bagi industri pariwisata Malaysia dan Thailand, ini membuka kemungkinan menciptakan produk yang berbeda dari paket wisata Sumatera yang selama ini sangat bertumpu pada Medan dan Danau Toba. Wisatawan dari Penang atau Kuala Lumpur dapat datang melalui Medan atau Padang, memasuki Mandailing, menikmati lanskap, kopi, kuliner, budaya dan sejarah, kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Sumatera. Operator Malaysia memperoleh produk perjalanan baru untuk dijual, operator Indonesia memperoleh wisatawan, maskapai memperoleh penumpang, hotel dan restoran memperoleh pelanggan, sementara Mandailing memperoleh alasan ekonomi untuk menjaga budaya dan lingkungannya. IMT-GT tidak perlu menciptakan destinasi baru dari nol; ia cukup menghubungkan produk yang belum terhubung.

Namun tawaran semacam ini tidak akan menarik hanya dengan brosur bertuliskan “Potensi Tabagsel”. Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan lima pemerintah kabupaten/kota di Tabagsel harus datang kepada Malaysia dan Thailand dengan angka yang dapat dihitung: berapa ton kopi tersedia dengan mutu tertentu, berapa pasokan karet dan sawit, produk apa yang siap diproses, berapa biaya logistiknya, lahan dan fasilitas apa tersedia, siapa perusahaan lokal yang dapat menjadi mitra, berapa kebutuhan investasinya, siapa calon pembelinya dan keuntungan apa yang mungkin diperoleh investor. Malaysia dan Thailand tidak membutuhkan daftar potensi; mereka membutuhkan peluang bisnis yang siap diuji.

Di sinilah platform IMT-GT perlu disempurnakan. Business Matching jangan dimulai dengan mempertemukan ratusan orang lalu berharap transaksi muncul, tetapi dengan mencari kebutuhan nyata perusahaan: perusahaan Malaysia membutuhkan produk apa, industri Thailand kekurangan bahan baku apa, teknologi apa yang mereka ingin pasarkan, dan pasar Indonesia mana yang ingin mereka masuki; setelah kebutuhan itu diketahui, IMT-GT mencari perusahaan dan wilayah di Sumatera yang dapat menjawabnya. Tabagsel kemudian tidak datang mengatakan “kami punya kopi”, melainkan “perusahaan Anda membutuhkan kopi dengan spesifikasi ini, kami mempunyai volume sekian, mitra lokal ini, fasilitas pengolahan ini, kekurangannya ini, dan berikut rancangan investasi yang dapat kita kerjakan bersama.”

IMT-GT ke-32 karena itu seharusnya menjadi titik balik dari promosi potensi menuju pencocokan kepentingan ekonomi. Jika seorang pengusaha Malaysia membaca proposal Tabagsel, ia harus melihat pemasok dan pasar baru; jika pengusaha Thailand membacanya, ia harus melihat lokasi produksi, mitra dan peluang agroindustri baru; jika Pemerintah Malaysia dan Thailand membacanya, mereka harus melihat rantai pasok yang lebih tangguh dan perdagangan baru; dan jika Pemerintah Indonesia membacanya, ia harus melihat hilirisasi, investasi dan pusat pertumbuhan baru tanpa harus membangun semuanya dengan APBN atau APBD. Pada saat kepentingan-kepentingan itu bertemu, masyarakat Tabagsel memperoleh manfaat bukan karena meminta bagian dari IMT-GT, melainkan karena mereka mempunyai sesuatu yang membuat Indonesia, Malaysia dan Thailand sama-sama berkepentingan agar ekonomi Tabagsel tumbuh lebih kuat.***

Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik, Ketua Yayasan Rumah Konstitusi Indonesia, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Asy-Syafi'iyah Medan

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement