Breaking News
Memuat breaking news...

Indonesia Bukan Sekadar Objek, Ini Jejak Sains yang Tumbuh di Nusantara

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10.38 PM WIB
Indonesia Bukan Sekadar Objek, Ini Jejak Sains yang Tumbuh di Nusantara
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

LEBAK (Waspada.id): Indonesia bukan sekadar objek penelitian dalam sejarah perkembangan sains dunia. Kekayaan hayati, pengetahuan masyarakat lokal, serta keterlibatan orang Indonesia dalam berbagai penelitian sejak masa lalu menunjukkan bahwa Nusantara juga menjadi bagian dari produksi pengetahuan global.

Namun, banyak jejak pengetahuan tersebut belum terdokumentasi dan didiseminasikan secara memadai. Karena itu, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membaca kembali, menguji, merawat, dan mengembangkan pengetahuan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Gelar Wicara bertajuk “Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia” yang digelar Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Komisi X DPR RI di Museum Multatuli, Lebak, Banten, Jumat (7/8/2026).

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa sains bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Tradisi pengetahuan telah berkembang di Nusantara melalui pengalaman empiris dalam berbagai bidang, mulai dari pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim hingga pengelolaan lingkungan.

“Tradisi pengetahuan telah berkembang dalam masyarakat Nusantara melalui pengalaman empiris di bidang pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim, hingga pengelolaan lingkungan. Sains merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang perlu terus dikembangkan untuk menjawab tantangan masa depan,” ujar Najib.

Menurut dia, membaca kembali sejarah sains Indonesia penting untuk membangun budaya sains sekaligus memperkuat kepercayaan diri bangsa. Pengetahuan yang telah tumbuh di masyarakat perlu dirawat dan dikaji kembali, kemudian dipertemukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

“Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Pengetahuan Lokal dan Sains Modern

Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mengatakan sejarah sains perlu dilihat secara lebih terbuka terhadap keberagaman sumber pengetahuan. Pengetahuan lokal, menurutnya, tidak perlu dipertentangkan dengan sains modern, melainkan perlu diangkat, dikaji secara kritis, dan dielaborasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Bonnie mengangkat gagasan pluriversalitas pengetahuan, yakni pengakuan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari beragam pengalaman, kebudayaan, dan konteks masyarakat.

Pendekatan tersebut bukan berarti menolak rasionalitas ilmiah. Sebaliknya, pluriversalitas dapat mencegah sains terjebak dalam cara pandang tunggal yang berpotensi mengabaikan pengetahuan yang telah lama hidup dan berkembang di masyarakat.

Dalam kerangka itu, pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber penting untuk penelitian lebih lanjut. Sains dapat berperan menguji, memvalidasi, menjelaskan, sekaligus mengembangkan pengetahuan lokal agar dapat dipahami secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Yudi Darma mengatakan, penguatan budaya sains tidak hanya berkaitan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains, tetapi juga bagaimana publik terlibat dalam aktivitas dan percakapan ilmiah.

Berdasarkan Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 yang dilakukan bersama LSI terhadap 1.203 responden, sebanyak 87,9 persen masyarakat menyatakan percaya terhadap sains. Sementara 81,1 persen percaya terhadap ilmuwan dan peneliti.

Namun, tingkat kepercayaan tersebut belum diikuti dengan keterlibatan yang tinggi dalam aktivitas sains dan teknologi.

“Sebanyak 88,2 persen masyarakat tidak terlibat dalam aktivitas saintek, 74,1 persen masyarakat mengaku tidak pernah berdiskusi tentang saintek, dan 87,3 persen jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca jurnal atau buku ilmiah dalam satu tahun terakhir,” tutur Yudi.

Menurut Yudi, data tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sains sebenarnya telah tumbuh. Tantangannya adalah menyediakan lebih banyak ruang agar masyarakat dapat berdiskusi, berinteraksi dengan proses ilmiah, serta memahami bagaimana sebuah pengetahuan dibentuk dan diuji.

Karena itu, diseminasi sains perlu bergerak melampaui sekadar menyampaikan hasil penelitian. Ruang publik, museum, sejarah, dan pengalaman masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk mendekatkan cara berpikir ilmiah kepada publik.

Indonesia dalam Jejak Sains Dunia

Dalam sesi diskusi, sejumlah panelis menunjukkan bahwa Indonesia sejak lama memiliki posisi penting dalam perkembangan pengetahuan dan sains dunia.

Dosen SGPP Indonesia Luthfi Adam mencontohkan Kebun Raya Bogor pada abad ke-19 yang menjadi salah satu pusat penting riset botani tropis dunia. Di balik aktivitas penelitian tersebut terdapat kontribusi staf dan tenaga lokal dalam pengumpulan spesimen serta produksi pengetahuan yang belum selalu tercatat secara setara dalam sejarah sains.

Sementara itu, Dosen Sejarah Universitas Padjadjaran Budi Gustaman menunjukkan bahwa pengetahuan ilmiah juga dapat ditemukan dalam pengalaman masyarakat membaca musim, mengamati perilaku satwa, hingga mengelola lingkungan.

Pengamatan yang diwariskan lintas generasi tersebut, menurut dia, dapat menjadi sumber pengetahuan yang dikaji kembali melalui pendekatan ilmiah.

Kolumnis Historia ID Rahadian Rundjan menambahkan, perairan Nusantara sejak abad ke-18 dan ke-19 telah menjadi ruang penting bagi berbagai ekspedisi ilmiah dunia.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sejak lama bukan hanya menjadi lokasi penelitian, tetapi juga bagian dari perjalanan produksi pengetahuan global.

Melalui gelar wicara tersebut, Kemendiktisaintek mendorong agar sejarah sains tidak berhenti sebagai arsip masa lalu. Berbagai pengetahuan yang tersebar di wilayah Indonesia perlu ditemukan kembali, dirawat, didokumentasikan, dikaji, dan didiseminasikan.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat budaya sains di tengah masyarakat, tetapi juga menjadikan pengetahuan yang tumbuh dari Indonesia sebagai salah satu fondasi bagi kontribusi bangsa dalam perkembangan ilmu pengetahuan dunia.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement