Breaking News
Memuat breaking news...

Indonesia Juara Piala Thomas 1998 Di Tengah Kondisi Ketidakstabilan, Ekonomi Dan Politik 1998

Redaksi
Redaksi
Senin, 13 April 2026 - 3.14 PM WIB
Indonesia Juara Piala Thomas 1998 Di Tengah Kondisi Ketidakstabilan, Ekonomi Dan Politik 1998
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Kejuaraan beregu putra Thomas Cup 2026 akan digelar pada 24 April - 3 Mei 2026 di Horsens Denmark.Thomas Cup 2026 ini adalah edisi ke-34 sejak pertama kali digelar pada 1949 di Preston Inggris. Thomas Cup merupakan gagasan Sir George Alan Thomas , seorang pemain bulu tangkis Inggris yang sangat sukses di awal tahun 1900-an, yang terinspirasi oleh Piala Davis tenis, dan Piala Dunia sepak bola yang pertama kali diadakan pada tahun 1930.

Gagasannya diterima dengan baik pada pertemuan umum Federasi Bulu Tangkis Internasional pada tahun 1939.Pada tahun yang sama, Sir George Alan Thomas mempersembahkan Piala Thomas, diproduksi oleh Atkin Bros dari London dengan harga US$40.000. Piala ini memiliki tinggi 28 inci dan lebar 16 inci pada bagian terlebarnya dan terdiri dari tiga bagian: alas (pedestal), mangkuk, dan tutup dengan figur pemain.Piala inilah yang diperebutkan pada ajang Thomas Cup.

Hingga saat ini Indonesia tercatat sebagai negara terbanyak yang memenangkan Thomas Cup ini dengan torehan 14 gelar juara.Indonesia pertama kali meraih juara Thomas Cup pada tahun 1958 di Singapura. Saat itu di Final Indoensia yang diperkuat oleh Tan Joe Hok,Ferry Sonneville,Nyoo Kiem Bie dll menaklukkan Malaya (Malaysia) dengan skor 6-3.

Terakhir kali Indonesia meraih Juara Thomas Cup pada Thomas Cup 2020 yang digelar 3-11 Oktober 2021 (tertunda akibat pandemi Covid 19) di Aarhus Denmark. Indonesia yang saat itu diperkuat oleh Jonatan Christie, Anthony Ginting Sinisuka, Fajar Alfian, M.Rian Ardianto, M.Ahsan, Hendra Setiawan dll di Final menaklukkan China 3-0. Ini merupakan gelar juara ke-14 bagi Indonesia di Thomas Cup.

Diantara 14 gelar juara yang diraih Indonesia di Thomas Cup, gelar juara yang diraih Indonesia di Thomas Cup 1998 yang digelar di Hongkong mempunyai catatan khusus dalam sejarah bulutangkis Indonesia.Selain merupakan gelar juara ke-11 yang diraih Indoensia di Thomas Cup gelar juara ini juga diraih di tengah situasi sosial,ekonomi dan politik Indonesia yang tidak stabil.

Walau sukses dengan gemilang menjuarai Thomas Cup 1994 dan 1996, namun memasuki Thomas Cup 1998 Indonesia kurang difavoritkan untuk kembali berjaya. Ini disebabkan gagalnya tunggal putra dan ganda putra Indonesia meraih juara pada turnamen – turnamen awal di tahun 1998.Yang paling mencolok adalah kegagalan Indonesia meraih gelar juara pada Japan Opend dan All England 1998.

Bahkan pasangan muda andalan Indonesia Candra Wijaya/Sigit Budiarto harus berpisah sementara usai kandas di Semifinal Japan Open 1998. Sebagai pengganti Candra Wijaya diduetkan dengan Tony Gunawan menghadapi All England 1998. Sempat tampil memukau dengan lolos ke Final All England 1998, duet Candra Wijaya/Tony Gunawan akhirnya takluk dari pasangan Korea Selatan Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung.

Demikian juga dengan tunggal putra. Kondisi Hariyanto Arbi yang mulai kerap dilanda cedera dan tidak stabilnya prestasi tunggal putra lainnya seperti : Hendrawan, Indra Wijaya, Joko Suprianto dan Marleve Mainaky membuat Indonesia semakin diragukan untuk berjaya di Thomas Cup 1998 ini.

Untuk memperkuat kondisi tim terutama untuk membenahi kondisi fisik pemain, PBSI akhirnya menunjuk pelatih fisik kawakan Paulus Pesurnay untuk menjadi pelatih fisik. Akhirnya setelah melalui kajian yang matang Direktur Pelatnas PBSI Christian Hadinata bersama Indra Gunawan (pelatih kepala tunggal putra), Atik Djauhari (pelatih kepala ganda putra) dan Agus Wirahadikusumah (manajar tim) memutuskan untuk membawa 5 tunggal dan 5 pemain ganda ke Thomas Cup 1998 ini.

Lima pemain tunggal yang dibawa adalah : Hariyanto Arbi, Hendrawan, Indra Wijaya, Marleve Mainaky dan Joko Suprianto. Lima pemain ganda yang dibawa adalah : Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Candra Wijaya, Sigit Budiarto dan Tony Gunawan. Kembalinya Sigit Budiarto setelah absen beberapa waktu menimbulkan harapan bagi Indonesia karena duetnya bersama Candra Wijaya yang merupakan Juara Dunia 1997 masih merupakan salah satu ganda putra terbaik Indonesia.

Beberapa hari sebelum berangkat menghadiri KTT G15 di Kairo Mesir,Presiden Soeharto menerima kedatangan Tim Thomas dan Uber Cup Indonesia yang akan berangkat ke Hongkong. Saat itu Presiden Soeharto memberi motivasi agar para pebulutangkis Indonesia tetap semangat untuk bertanding dan berharap Tim Thomas dan Uber Cup Indoenesia dapat mempertahankan juara Thomas dan Uber Cup yang diraih pada 1994 dan 1996. Walau kondisi dalam negeri mulai bergejolak namun dalam sambutannya Pak Harto sama sekali tidak menyinggung hal tersebut.

Thomas dan Uber Cup 1998 berlangsung dari tanggal 16 – 24 Mei 1998 di Queen Elizabeth Stadium Hongkong. Di saat para pemain Indonesia sudah tiba di Hongkong dan bersiap – siap untuk bertanding terjadilah huru – hara di hampir seluruh wilayah Indonesia. Jakarta sebagai ibukota negara paling parah terdampak huru – hara dan kerusuhan tersebut.

Berita ini sampai juga ke Hongkong dan disaksikan oleh para pemain melalui televisi saat itu.Tentu saja kecemasan yang besar muncul saat itu di benak para pemain terhadap kondisi keluarga mereka karena kondisi Jakarta dan berbagai kota di Indonesia yang sedang dilanda kerusuhan sosial dalam peristiwa “Reformasi 1998” pada masa itu.

Beruntung saat itu manajer Tim Indonesia Agus Wirahadikusumah yang juga salah satu petinggi TNI mampu memberi ketenangan kepada para pemain yang sedang bertanding di Hongkong dengan meminta data keluarga para pemain dan setelah berkoordinasi dengan Ketua Umum PB PBSI yang juga KSAD Subagyo Hadi Siswoyo mengirim pasukan TNI untuk menjaga seluruh keluarga para pemain di Indonesia.

Dengan jaminan keamanan itulah para pemain bisa kembali fokus pada pertandingan tanpa dilanda kecemasan akan nasib keluarga mereka di Indonesia. Dengan kondisi fokus itu akhirnya kemampuan terbaik para pemain bisa keluar untuk mempertahankan gelar juara Thomas Cup yang sebelumnya sukses diraih pada tahun 1994 dan 1996.

Indonesia saat itu tergabung di Grup B bersama Malaysia,Korea Selatan dan Belanda.Walau prestasi para pemain Indonesia tengah merosot namun Indonesia optimis mampu lolos dari babak penyisiah grup.

Marleve Mainaky,Hariyanto Arbi,Ricky Soebagdja dan Tony Gunawan mendapat ucapan selamat di podium Juara Thomas Cup 1998

PENYISIHAN GRUP B THOMAS CUP 1998
Indonesia Vs Belanda
Indonesia memulai langkahnya di penyisihan Grup B dengan menghadapi Belanda.Dalam pertandingan ini Indonesia menurunkan Hariyanto Arbi,Hendrawan dan Indra Wijaya di nomor tunggal putra serta pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dan Candra Wijaya /Sigit Budiarto di nomor ganda putra.

Di partai pertama Hariyanto Arbi sukses menaklukkan andalan Belanda Jeroen Van Dijk dengan straight set 15-10 dan 15-10.Di partai kedua Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky menaklukkan Dennis Lens/Quinten Van Dalm dengan straight set 15-7 dan 15-1.

Di partai ketiga Hendrawan dengan mudah menaklukkan Gerben Bruistjens dengan straight set 15-5 dan 15-3. Kemudian di partai keempat Candra Wijaya/Sigit Budiarto menang mudah atas Norbert Van Barneveld/Jurgen Van Leeuwen dengan straight set 15-5 dan 15-3.

Di partai terakhir Indra Wijaya menyempurnakan kemenangan Indonesia atas Belanda menjadi 5-0 setelah menaklukkan Joris Van Soerland dengan straight set 15-5 dan 15-6.

Indonesia Vs Korea Selatan.
Di pertandingan kedua Indonesia berhadapan dengan Korea Selatan. Dalam pertandingan ini Indonesia menurunkan Hariyanto Arbi,Marleve Mainaky dan Joko Suprianto di nomor tunggal putra serta pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dan Candra Wijaya /Sigit Budiarto di nomor ganda putra.

Di partai pertama Hariyanto Arbi sukses menaklukkan tunggal pertama Korea Selatan Hwang Sun Ho dengan straight set 17-14 dan 15-0.Di partai kedua Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky menaklukkan Lee Dong Soo/Yoo Yong Sung dengan straight set 15-9 dan 15-4.

Di partai ketiga Marleve Mainaky dengan mudah menaklukkan Jang Chun Woong dengan straight set 15-5 dan 15-3. Sayang Candra Wijaya/Sigit Budiarto takluk dari Ha Tae Kwon/Kang Kyung Jin dalam laga sengit yang berakhir rubber set 15-6,9-15 dan 15-18.

Di partai terakhir Joko Suprianto sukses menyempurnakan kemenangan Indonesia atas Korea Selatan menjadi 4-1 setelah menaklukkan Jun Jong Bae dengan straight set 15-2 dan 15-1.

Indonesia Vs Malaysia
Pertandingan terakhir Grup B mempertemukan Indonesia dengan Malaysia. Kedua negara ini memperebutkan posisi juara Grup B. Namun ternyata Malaysia secara mengejutkan mengistirahatkan andalannya Ong Ewe Hock dan mengacak pasangan ganda putra mereka. Indonesia sendiri mengistirahatkan Hariyanto Arbi dalam pertandingan ini.

Di pertandingan pertama Hendrawan walau sempat mendapat perlawanan ketat dari Yong Hock Kin akhirnya menang dengan rubber set 9-15,15-7 dan 15-2. Di partai kedua Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky menaklukkan Cheah Soon Kit/Choong Tan Fook dengan straight set 15-7 dan 15-13.

Sayang di partai ketiga Marleve Mainaky harus mengakui keunggulan Roslin Hashim dengan straight set 11-15 dan 6-15.Kemudian Candra Wijaya/Sigit Budiarto memastikan keunggulan Indonesia atas Malaysia setelah menaklukkan Lee Wan Wah/Tan Kim Her dengan straight set 15-6 dan 15-7.

Di partai terakhir Indra Wijaya menyempurnakan kemenangan Indonesia atas Malaysia menjadi 4-1 setelah menaklukkan Wong Choong Han dengan straight set 15-10 dan 15-10.

Indonesia lolos ke Semifinal sebagai Juara Grup B dan berhadapan dengan tim kuat China yang secara mengejutkan pada pertandingan terakhir penyisihan grup A takluk 2-3 dari Denmark.

Indra Wijaya dan adiknya Candra Wijaya merayakan kesuksesan Indonesia menjadi Juara Thomas Cup 1998

SEMIFINAL INDONESIA Vs CHINA
Di babak Semifinal Indonesia berhadapan dengan tim kuat yang juga favorit juara China pada 22 Mei 1998 di di Queen Elizabeth Stadium Hongkong.Di pertandingan Semifinal ini Indonesia menurunkan Hariyanto Arbi,Hendrawan dan Indra Wijaya di nomor tunggal putra serta pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dan Candra Wijaya /Sigit Budiarto di nomor ganda putra.

Di partai pertama Hariyanto Arbi berhadapan dengan andalan China Sun Jun.Pertarungan keduanya berlangsung dengan ketat.Sayang di saat sedang memimpin di set pertama Hariyanto Arbi mengalami cedera. Meski mampu menyelesaikan pertandingan Hariyanto Arbi harus mengakui keunggulan Sun Jun setelah takluk rubber set 18-17,4-15 dan 1-15.

Di partai kedua Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dengan gemilang menaklukkan Liu Yong/Zhang Wei dengan straight set 15-6 dan 15-2.Kedudukan menjadi imbang 1-1.

Di partai ketiga Hendrawan dengan mudah menaklukkan Luo Yigang dengan straight set 15-9 dan 15-4. Kemenangan Hendrawan ini membuat Indonesia unggul 2-1 atas China.

Kemudian di partai keempat Candra Wijaya/Sigit Budiarto tanpa kesulitan berarti menaklukkan Yang Ming/Yu Jinhao dengan straight set 15-3 dan 15-6. Kemenangan ini membuat Indonesia unggul 3-1 atas China sekaligus memastikan diri lolos ke Final.

Di partai terakhir yang tidak menentukan Indra Wijaya harus mengakui keunggulan bintang kawakan China Dong Jiong dengan straight set 10-15 dan 15-17.Indonesia melangkah ke Final dengan keunggulan 3-2 atas China.

Di Final Indonesia kembali berhadapan dengan Malaysia yang lolos ke Final setelah menaklukkan Denmark 3-2 di Semifinal.

FINAL INDONESIA Vs MALAYSIA
Di babak Final Indonesia kembali berhadapan dengan Malaysia yang sebelumnya pernah dihadapinya pada penyisihan Grup B.Final berlangsung pada 24 Mei 1998 di di Queen Elizabeth Stadium Hongkong.

Indonesia dan Malaysia sama – sama menurukan kekuatan terbaiknya di pertandingan Final ini. Di pertandingan Final ini Indonesia menurunkan Hariyanto Arbi, Hendrawan dan Joko Suprianto di nomor tunggal putra serta pasangan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dan Candra Wijaya /Sigit Budiarto di nomor ganda putra.

Di pertandingan pertama Hariyanto Arbi berhadapan dengan andalan Malaysia Ong Ewe Hock. Hariyanto Arbi yang sedang cedera tidak dipaksakan untuk menang.Dan pada akhirnya dengan kondisi fisiknya yang tidak prima ini Hariyanto Arbi harus mengakui keunggulan Ong Ewe Hock dengan straight set 14-18 dan 7-15.

Kemenangan Ong Ewe Hock ini disambut dengan gegap gempita oleh pendukung Malaysia yangh hadir di arena. Namun manajer tim Agus Wirahadikusumah memotivasi para pemain Indonesia untuk tidak gentar menghadapi Malaysia.

Di partai kedua Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky dengan gemilang menaklukkan musuh bebuyutannya Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock dengan straight set 15-3 dan 18-15.Kedudukan menjadi imbang 1-1.

Di partai ketiga Hendrawan walau sempat mendapat perlawanan ketat dari Yong Hock Kin akhirnya menang dengan rubber set 18-14,10-15 dan 15-5. Kemenangan Hendrawan ini membuat Indonesia unggul 2-1 atas Malaysia.

Kemudian di partai keempat Candra Wijaya/Sigit Budiarto meski sempat nervous dan mendapat perlawanan ketat akhirnya menaklukkan Choong Tan Fook/Lee Wan Wah dengan straight set 15-11 dan 15-12. Kemenangan ini membuat Indonesia unggul 3-1 atas Malaysia sekaligus memastikan diri menjadi Juara Thomas Cup 1998.

Begitu pukulan Choong Tan Fook membentur net sekaligus memastikan Candra Wijaya/Sigit Budiarto memenangkan pertandingan meledaklah kebahagiaan di kubu Indonesia. Seluruh pemain langsung berhamburan ke lapangan dan mengangkat Candra Wijaya dan Sigit Budiarto.Manajer tim Agus Wirahadikusumah berangkulan dengan berlinang air mata bersama ofisial tim dan para pelatih.

Di tribun para pendukung Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu – lagu nasional Indonesia terutama lagu “Kebyar – Kebyar” dengan penuh kemeriahan. Di partai terakhir yang tidak lagi menentukan Joko Suprianto harus mengakui keunggulan Roslin Hasim setelah takluk dengan rubber set 10-15,15-11 dan 2-15.

Manajer Tim Agus Wirahadikusumah dan Tim Thomas Cup 1998 Indonesia di podium Juara Thomas Cup 1998

Manajer tim Agus Wirahadikusumah bersama seluruh pemain Indonesia naik ke podium Juara dengan memakai ikat kepala Merah Putih dan mencat pipi kiri dan kanan mereka dengan bendera Merah Putih. Suasana haru menyelimuti seluruh stadion ketika Piala Thomas diserahkan kepada Agus Wirahadikusumah diiringi dengan pengibaran bendera Merah Putih dan kumandang lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan dengan penuh khidmat dan rasa haru oleh para pemain,ofisial dan para pendukung Indonesia yang hadir di arena pertandingan.

Ini adalah gelar juara Thomas Cup ke-11 yang diraih Indonesia. Dan yang lebih istimewa gelar juara ini diraih di saat Indonesia sedang mengalami konflik sosial dan politik serta krisis ekonomi yang nyaris mengakibatkan perpecahan bangsa. Begitu hebatnya krisis ini sehingga membuat Presiden Soeharto harus mundur dari jabatannya dan digantikan oleh Wakil Presiden B.J Habibie.

Agus Wirahadukusumah sebagai manajer tim memuji semangat dan komitmen penuh yang ditunjukkan oleh para pemain. ”Saya bangga kepada perjuangan para pemain. Di saat bangsa kita sedang huru – hara mereka berjuang dengan penuh kesungguhan dan memberi kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia” ujar Agus Wirahadikusumah kepada wartawan.

Ketika rombongan Thomas Cup Indonesia tiba di Jakarta pada 26 Mei 1998,masyarakat mengelu – elukan kedatangan mereka sepanjang jalan walau sisa – sisa dampak huru – hara dan kerusuhan sosial masih terlihat. Gelar juara Thomas Cup 1998 ini ibarat “obat duka” bagi masyarakat yang baru saja mengalami huru – hara dan melalui kerusuhan yang mencekam beberapa hari sebelumnya.

Rombongan disambut hangat oleh Presiden B.J Habibie di Istana Negara. BJ Habibie yang beberapa hari sebelumnya dilantik sebagai Presiden menggantikan Soeharto menyebut bahwa gelar juara Thomas Cup 1998 ini adalah ibarat obat yang mengobati luka bangsa akibat kerusuhan dan para pebulutangkis Indonesia adalah ptriot bangsa sejati yang mengharumkan nama bangsa di saat kondisi bangsa sedang terkoyak akibat konflik dan kerusuhan.

Presiden B.J Habibie dan Ibu Hasri Ainun Habibie menyambut rombongan tim Thomas Cup Indonesia yang sukses menjuarai Thomas Cup 1998

Ini mengingatkan tentang pentingnya makna olahraga sebagai pemersatu bangsa. Di saat Indoensia dilanda oleh konflik sosial para pebulutangkis Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis justru tampil kompak dalam satu kesatuan untuk mengharumkan nama Indonesia. Hariyanto Arbi,Hendrawan,Indra Wijaya,Candra Wijaya dan Tony Gunawan yang beretnis Tionghoa,Joko Suprianto dan Sigit Budiarto (Jawa),Ricky Soebagdja (Sunda),Rexy Mainaky dan Marleve Marleve Mainaky (Maluku) berjuang sebagai satu kesatuan dengan membawa nama Indonesia dan dengan penuh kebanggaan berjuang membawa kejayaan nama Indonesia.

Dan benar seperti kata Nelson Mandela "Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Olahraga memiliki kekuatan untuk menginspirasi. Olahraga memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dengan cara yang jarang dilakukan oleh hal lain.

Gelar juara Thomas Cup 1998 ini juga mempunyai catatan khusus karena dua pasang kakak beradik ada dalam skuad tim.Yang pertama adalah Rexy Mainaky yang bahu membahu bersama adiknya Marleve Mainaky dan Indra Wijaya yang berjuang bersama adiknya Candra Wijaya. WASPADA.id

Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement