Breaking News
Memuat breaking news...

ISBEST 2026 Digelar UT, Sinergi Akademisi dan Pemerintah Perkuat UMKM

Redaksi
Redaksi
Kamis, 13 Agustus 2026 - 3.48 PM WIB
ISBEST 2026 Digelar UT, Sinergi Akademisi dan Pemerintah Perkuat UMKM
The 9th International Seminar on Business, Economics, Social Science, and Technology (ISBEST) 2026) yang digelar di UT di UTCC, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan, inovasi, dan kebijakan untuk menjawab tantangan ekonomi yang terus berubah. Peran tersebut ditegaskan Universitas Terbuka (UT) melalui The 9th International Seminar on Business, Economics, Social Science, and Technology (ISBEST) 2026) yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).

ISBEST 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan perspektif akademik dengan perkembangan kebijakan dan praktik pengembangan usaha di lapangan.

Berbagai isu seperti transformasi digital, akses pembiayaan, perluasan pasar, keberlanjutan, penguatan sumber daya manusia, dan pengembangan kewirausahaan dibahas sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun ketahanan UMKM.

Mengangkat tema “Navigating Economic Uncertainty: Sustainability, Digital Transformation, and Inclusive Growth in a Fragmented Global Economy”, ISBEST 2026 menjadi ruang dialog antara kalangan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan untuk membahas strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Wakil Rektor UT Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Rahmat, yang mewakili Rektor UT Prof. Ali Muktiyanto saat membuka ISBEST 2026, mengatakan perguruan tinggi tidak cukup hanya membaca perubahan yang terjadi, tetapi juga harus mampu menghadirkan pengetahuan dan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Rahmat didampingi Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum Dr. Adrian Sutawijaya dan Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama dan Bisnis: Dr. Hendrian.

Menurutnya, dinamika ekonomi global yang ditandai perubahan rantai pasok, perkembangan teknologi, pergeseran perilaku konsumen, hingga dinamika perdagangan menuntut dunia usaha memiliki kemampuan adaptasi yang semakin kuat.

“Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi. Pengetahuan yang dihasilkan melalui riset harus dapat menjawab persoalan nyata di masyarakat dan dunia usaha, termasuk bagaimana memperkuat UMKM agar mampu beradaptasi, berinovasi, dan tumbuh,” ujar Prof. Rahmat.

Ia menilai penguatan UMKM menjadi salah satu agenda penting karena sektor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan penghidupan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, dan pergerakan ekonomi daerah.

Karena itu, ISBEST 2026 tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan dan pengalaman berbagai pihak dalam mencari strategi pengembangan usaha yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Target 10 Juta Pengusaha

Apresiasi terhadap penyelenggaraan ISBEST 2026 disampaikan pembicara kunci ISBEST 2026 Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Adha Damanik, yang hadir mewakili Menteri UMKM Maman Abdurrahman sebagai pembicara utama.

Riza mengatakan, pemerintah saat ini telah memiliki peta jalan pengembangan UMKM yang diperkuat dengan hadirnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 38 Tahun 2026. Regulasi ini menargetkan peningkatan rasio kewirausahaan Indonesia dari sekitar 3,6 persen pada 2029 menjadi 8 persen pada tahun 2045.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional, dengan target sedikitnya 10 juta pengusaha mikro, kecil, dan menengah tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Target tersebut, kata Riza, menjadi bagian dari upaya Indonesia mengejar rasio kewirausahaan yang ideal bagi sebuah negara maju, yakni sekitar 8 persen pengusaha dari total populasi pada 2045.

“Pemerintah memiliki target untuk terus menumbuhkan dan mengembangkan sedikitnya 10 juta pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Ini menjadi bagian dari upaya kita mencapai rasio sekitar 8 persen pengusaha terhadap populasi pada 2045,” kata Riza.

Ia menegaskan, pencapaian target tersebut membutuhkan ekosistem kewirausahaan yang kuat. UMKM tidak hanya membutuhkan akses permodalan, tetapi juga peningkatan kapasitas, teknologi, pasar, pendampingan, kemitraan, dan kemampuan mengelola usaha secara profesional.

Dalam konteks tersebut, Riza mengapresiasi ISBEST 2026 yang mempertemukan perspektif akademik dengan agenda pengembangan UMKM pemerintah. Menurut dia, kolaborasi dengan perguruan tinggi diperlukan untuk menghasilkan kajian, inovasi, dan model pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

“Penguatan UMKM tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Riza menambahkan, transformasi digital juga harus dimaknai lebih luas. Digitalisasi UMKM tidak sebatas memanfaatkan media sosial atau marketplace, tetapi harus mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan bisnis.

Pemanfaatan teknologi, lanjutnya, dapat diarahkan pada pengelolaan keuangan, pemahaman konsumen, pengendalian produksi dan persediaan, efisiensi transaksi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

UT Ingin Lahirkan Lebih Banyak Pengusaha Tangguh

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UT Dr. Meirani Harsasi mengatakan ISBEST 2026 menjadi bagian dari komitmen UT untuk meningkatkan jumlah sekaligus kualitas pengusaha tangguh di Indonesia.

Menurut Meirani, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem kewirausahaan karena memiliki sumber daya pengetahuan, riset, inovasi, serta mahasiswa yang dapat dikembangkan menjadi generasi wirausaha baru.

“Melalui ISBEST 2026, kami ingin mendorong lahirnya lebih banyak pengusaha yang tangguh, adaptif, inovatif, dan mampu menghadapi berbagai perubahan lingkungan bisnis,” kata Meirani.

Ia mengatakan, tantangan UMKM saat ini semakin kompleks. Kemampuan menghasilkan produk saja tidak cukup untuk membawa sebuah usaha naik kelas. Pelaku usaha juga perlu memahami tata kelola, pencatatan keuangan, legalitas, pemasaran, standardisasi, teknologi, serta kebutuhan pasar.

Karena itu, FEB UT ingin memperluas kontribusi akademik tidak hanya melalui penelitian, tetapi juga melalui pengembangan kapasitas kewirausahaan dan model pendampingan yang dapat diterapkan di masyarakat.

Meirani menilai pengembangan UMKM juga perlu diarahkan pada kemampuan membangun kemitraan dan memperluas akses pasar. Pelaku usaha harus dipersiapkan agar mampu memenuhi standar dan kebutuhan mitra yang lebih besar, termasuk perusahaan, ritel modern, dan jaringan usaha lainnya.

“Pengusaha yang tangguh adalah mereka yang mampu membaca perubahan, melakukan inovasi, mengelola risiko, dan terus mengembangkan usahanya. Inilah yang ingin kami dorong melalui kegiatan akademik seperti ISBEST,” ujarnya.

UT memandang penguatan UMKM membutuhkan pendekatan yang tidak parsial. Digitalisasi harus dibarengi peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan perlu didukung kesiapan tata kelola, sementara perluasan pasar membutuhkan standardisasi, kualitas produk, dan kemampuan membangun kemitraan.

Ketua Pelaksana ISBEST 2026: Krist Setyo Yulianto, S.E., M.Acc menambahkan, melalui ISBEST 2026, UT mendorong agar pengetahuan yang lahir dari perguruan tinggi memiliki daya guna lebih luas, baik untuk mendukung pengambilan kebijakan maupun membantu pelaku usaha menghadapi perubahan.

"Dengan demikian, ketidakpastian ekonomi tidak hanya dipandang sebagai tantangan, tetapi juga sebagai ruang untuk melahirkan strategi baru yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement