Breaking News
Memuat breaking news...

'Iyus Jenius' Masuk Bioskop 10 September, Obat Rindu Film Musikal Anak

Redaksi
Redaksi
Jumat, 4 September 2026 - 2.25 PM WIB
'Iyus Jenius' Masuk Bioskop 10 September,  Obat Rindu Film Musikal Anak
Segenap pendukung film Iyus Jenius usai nonton bareng yang menjadi rangkaian Festival Film Wartawan (FFW) 2026 di CGV FX, Jakarta, Kamis (3/9/2026). (waspada.id/dian)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Ada masa ketika anak-anak bisa menemukan kebahagiaan di layar bioskop lewat cerita sederhana, lagu, tarian, dan petualangan. The Sound of Music dan Petualangan Sherina adalah dua film yang meninggalkan jejak kuat bagi Gandhi Fernando, salah seorang produser Film musikal anak-anak berjudul Iyus Jenius.

Bagi Gandhi, film bukan sekadar tontonan. Ada kenangan masa kecil yang ikut tumbuh bersamanya. Kerinduan terhadap pengalaman menonton film musikal anak itulah yang kemudian menemukan bentuknya dalam Iyus Jenius.

Ia masih mengingat ketika Petualangan Sherina dirilis. Usianya saat itu bahkan sama dengan tokoh utama dalam film tersebut. Saking melekatnya film itu dalam ingatan, Gandhi mengaku menontonnya hingga 100 kali.

“Dulu waktu film Petualangan Sherina rilis, umur saya sama persis dengan tokoh utamanya dan saya nonton film itu sampai 100 kali,” ujar Gandhi dalam diskusi seusai nonton bareng Iyus Jenius yang menjadi rangkaian Festival Film Wartawan (FFW) 2026 di CGV FX, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Gandhi menegaskan keinginannya menghadirkan kembali tontonan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga dekat dengan dunia anak dan keluarga.

Di tengah dominasi film aksi, horor, hingga drama dewasa di layar lebar Indonesia, mereka memilih jalan yang mungkin tidak terlalu mudah: membuat film musikal yang ditujukan bagi anak-anak dan keluarga.

Adnan Djani yang juga produser film Iyus Jenius, mengatakan bahwa film ini sekaligus menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali kekayaan lagu anak kepada generasi sekarang melalui karya-karya Papah T-Bob.

Lagu-lagu tersebut tidak sekadar ditempatkan sebagai nostalgia, tetapi menjadi bagian dari cerita yang diharapkan tetap relevan dengan kehidupan anak-anak masa kini.

“Kami ingin mengingatkan anak-anak sekarang bahwa pernah ada masa tontonan anak-anak yang bermutu,” kata Adnan.

Ia mengatakan tidak semua persoalan kehidupan keluarga dapat dijelaskan secara tuntas melalui satu film. Namun, Iyus Jenius ingin membawa pesan sederhana tentang keluarga, hubungan orang tua dan anak, serta keyakinan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan baik-baik saja.

“Dari lagu-lagu lama, kami ingin membangun cerita baru yang bisa dirasakan relevan hingga hari ini,” ujarnya.

Ketika Puluhan Anak Harus Bernyanyi dan Menari

Membuat film musikal dengan puluhan pemain anak tentu membawa tantangan tersendiri.

Sutradara Iyus Jenius, Achmad Romie, mengatakan proses kreatif film bermula dari percakapan sederhana. Para pembuatnya duduk bersama, menemukan gagasan yang dianggap menarik, kemudian mencoba menyatukan visi.

“Kami duduk bersama, lalu bilang: 'Ini ide bagus, yuk kita kerjakan.' Lalu kami mulai menyusun ceritanya, menyatukan visi, dan memasukkan apa yang kami rasa penting untuk disampaikan,” ujar Romie.

Tetapi ketika kamera mulai berjalan, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Anak-anak tidak hanya dituntut berakting. Mereka harus bernyanyi sekaligus mengikuti koreografi.

“Melatih puluhan anak-anak yang berperan, sekaligus memadukan akting dengan tarian dan lagu jadi tantangan terbesar. Waktu yang terbatas membuat proses koreografi dan latihan menjadi ujian kesabaran tersendiri,” kata Romie.

Kevin Abadio, pemeran Iyus, bahkan harus menjalani pengalaman yang sama sekali baru. Ia belum pernah bernyanyi di depan kamera, belum pernah menjalani proses akting seperti itu, dan tiba-tiba harus melakukan keduanya sekaligus.

Pada hari kedua syuting, Kevin sempat jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit.

“Sakitnya bukan karena akting, tapi karena harus menjiwai peran yang belum pernah saya jalani. Belum pernah menyanyi di depan kamera, belum pernah berakting, dan tiba-tiba harus melakukan keduanya sekaligus,” kenangnya.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Para pemain anak belajar bersama, saling membantu dan saling menguatkan.

Tiga Tahun Menunggu

Kerinduan untuk menghadirkan film anak ternyata harus berhadapan dengan persoalan lain yang tidak kalah pelik: bagaimana membuat film tersebut benar-benar sampai kepada penonton.

Gandhi mengatakan perjuangan terberat justru bukan ketika kamera mulai merekam adegan demi adegan. Tantangan terbesar datang setelah film selesai diproduksi: menemukan ruang untuk bertemu dengan penonton.

Iyus Jenius harus menunggu hingga tiga tahun sebelum akhirnya memperoleh kesempatan tayang di bioskop. Kini, film tersebut mendapatkan sekitar 25 layar di jaringan XXI dan total sekitar 80 layar di seluruh bioskop Indonesia.

“25 layar di XXI, dan totalnya sekitar 80 layar di seluruh bioskop Indonesia,” ungkap Gandhi.

Tiga tahun adalah waktu yang panjang bagi sebuah film. Apalagi bagi film anak yang berhadapan dengan kebutuhan untuk hadir pada momentum ketika calon penontonnya masih berada dalam rentang usia yang sesuai.

Persoalan inilah yang kemudian mendapat sorotan Ketua FFW 2026 Benny Benke. Menurut Benny, perjalanan Iyus Jenius menunjukkan bahwa persoalan perfilman Indonesia bukan hanya tentang bagaimana sebuah film dibuat, tetapi juga bagaimana film tersebut bisa menemukan penontonnya.

“Ini membuktikan bahwa tata kelola peredaran film kita masih kacau. Tiga tahun menunggu baru dapat 25 layar di XXI,” tegas Benny.

Ia mempertanyakan belum adanya parameter yang dianggap transparan dalam pembagian layar dan jadwal tayang film di bioskop.

“Sistemnya seperti tanpa parameter yang jelas. Gaib,"seluruhnya.

Benny menilai film seperti Iyus Jenius membutuhkan dukungan lebih besar karena menyasar anak-anak dan keluarga, segmen yang juga memiliki hak untuk mendapatkan pilihan tontonan yang sesuai.

FFW, kata dia, akan terus memberikan ruang bagi film-film yang memiliki gagasan dan keberpihakan terhadap kepentingan publik. Ia berharap pemerintah, termasuk sektor pendidikan, dapat ikut mengambil peran agar film anak tidak berhenti di layar bioskop kota-kota besar, tetapi juga dapat menjangkau anak-anak hingga berbagai daerah dan pelosok kabupaten.

“Setiap film mempunyai nasibnya sendiri, mempunyai cara untuk menemui penontonnya,” ujar Benny.

Dan perjalanan Iyus Jenius untuk menemui penontonnya akan dimulai secara resmi di bioskop pada 10 September 2026.

Kisah Iyus dan Babah T-Bob

Setelah kehilangan sang ayah dalam sebuah kecelakaan, Iyus (Kevin Abadio), bocah berusia 10 tahun, kehilangan semangat belajar dan kepercayaan dirinya.

Hingga suatu hari, ia bertemu Babah T-Bob, sosok penuh keceriaan yang membimbingnya melalui lagu, permainan, dan pelajaran hidup.

Perlahan, Iyus tumbuh menjadi anak yang cerdas, berani, dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Namun, siapakah sebenarnya Babah T-Bob, dan mampukah Iyus menemukan kembali kebahagiaan setelah kehilangan orang yang paling ia cintai?

Diadaptasi dari lagu-lagu anak legendaris karya Papah T-Bob, Iyus Jenius merupakan film keluarga musikal yang hangat dan menghibur, sekaligus dibalut nilai-nilai pendidikan untuk pembangunan karakter anak.

Film ini diproduseri Gandhi Fernando, Adnan Djani, Rendy Novantino, dan Agung PD Nugraha. Penyutradaraan dipercayakan kepada Achmad Romie, dengan skenario yang ditulis Estie Kusumawati Nuryadi.

Iyus Jenius merupakan produksi Creator Media, Seru Juga Film Studio, MAXStream Studios, dan Frontline Pictures.

Mulai 10 September 2026, kisah Iyus dan Babah T-Bob dapat disaksikan di bioskop Indonesia.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement