Breaking News
Memuat breaking news...

Jangan Biarkan Insiden Berastagi Menghilangkan Senyum Anak: Rakut Sitelu dan Pelajaran untuk MBG

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 15 Agustus 2026 - 8.58 PM WIB
Jangan Biarkan Insiden Berastagi Menghilangkan Senyum Anak: Rakut Sitelu dan Pelajaran untuk MBG
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Dr. Haripin Sinaga

Kamis, 13 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa bagi siswa SMA dan SMK Negeri 1 Berastagi. Mereka datang ke sekolah untuk belajar, bercanda dengan teman, mengejar cita-cita dan menikmati masa remaja. Namun hari itu berubah menjadi pengalaman yang tidak biasa.

Sejumlah siswa mengalami keluhan mual, muntah, pusing, nyeri setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan harus mendapatkan pertolongan medis.

Pemberitaan menyebut sebanyak 353 siswa mengalami keracunan, sementara proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pastinya masih berlangsung.

Bagi seorang anak, mual, muntah, sakit perut, lemas, kemudian harus dievakuasi dan mendapatkan perawatan tentu bukan pengalaman sederhana. Bagi orang tua, melihat anaknya sakit setelah mengonsumsi makanan di sekolah tentu menimbulkan kecemasan yang jauh lebih besar.

Pertanyaan mereka sangat manusiawi:

“Apakah anak saya akan baik-baik saja?”“Apakah kejadian ini akan terulang?”

“Apakah anak saya masih aman makan di sekolah?”Kekhawatiran itu wajar. Tetapi setelah anak mendapatkan penanganan medis, ada satu

hal yang tidak boleh kita lupakan: memulihkan rasa aman anak.

Anak membutuhkan ketenangan, bukan ketakutan Anak yang mengalami kejadian seperti ini mungkin tidak hanya mengalami gangguan fisik. Sebagian dapat menjadi takut makan, takut menerima makanan dari sekolah, bahkan takut kembali ke sekolah.

Karena itu, orang tua perlu berhati-hati dalam berkomunikasi.

Hindari terus mengatakan:

“Kamu keracunan.”

“Makanan sekolah berbahaya.”

“Jangan makan lagi makanan dari sekolah.”

Kalimat tersebut mungkin lahir dari rasa sayang, tetapi dapat memperkuat rasa takut anak. Lebih baik katakan:

“Kamu sudah mendapatkan pertolongan. Sekarang kamu sedang dalam proses

pemulihan. Kamu tidak sendirian. Kami akan menjagamu.”

Jika anak berkata, “Saya takut makan lagi,” jangan langsung menjawab, “Memang makanan sekolah berbahaya.”

Katakan: “Wajar kamu merasa takut setelah mengalami kejadian kemarin. Kita akan memastikan kamu aman. Kita akan melewati ini bersama-sama.”

Anak tidak membutuhkan interogasi. Mereka membutuhkan perawatan, rasa aman dan penerimaan.

Jangan bertanya berulang-ulang, “Kamu makan apa?”, “Kok bisa sakit?”, atau

“Temanmu tidak apa-apa, kenapa kamu sakit?Anak tidak memilih untuk mengalami kejadian tersebut. Jangan sampai mereka menjadi

korban untuk kedua kalinya karena stigma atau rasa bersalah.

Jangan buru-buru menyimpulkan

Di tengah derasnya informasi media sosial, masyarakat juga perlu menahan diri. Kejadian kesehatan yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan belum dengan sendirinya membuktikan sumber penyebabnya. Penetapan penyebab memerlukan investigasi epidemiologis, pemeriksaan klinis, penelusuran makanan serta pemeriksaan laboratorium. Karena itu, istilah “diduga keracunan” masih tepat digunakan sampai investigasi selesai. Kita harus tegas terhadap kemungkinan adanya kesalahan, tetapi juga harus adil terhadap fakta.

Jangan biarkan media sosial menjadi laboratorium yang menghasilkan kesimpulan sebelum data ilmiah tersedia.Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar, terbuka dan mudah dipahami mengenai kondisi anak, hasil pemeriksaan serta langkah yang dilakukan pemerintah.

Transparansi bukan membuat masyarakat panik. Transparansi justru membangun kepercayaan.

Karo memiliki modal sosial yang sangat kuat Peristiwa seperti ini tidak cukup dilihat hanya dari perspektif medis dan administrasi.

Tanah Karo memiliki kekuatan sosial yang sangat berharga: kekerabatan.

Dalam budaya Karo dikenal Rakut Sitelu atau Daliken Sitelu, yang menggambarkan hubungan antara kalimbubu, senina/sembuyak, dan anak beru. Di dalamnya terdapat nilai hubungan, kewajiban dan kebersamaan.

Masyarakat Karo juga mengenal semangat serayan-aron, sebuah nilai kebersamaan dan gotong royong yang mengajarkan bahwa pekerjaan berat akan lebih ringan ketika

dilakukan bersama. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam menghadapi peristiwa Berastagi. Ketika seorang anak sakit, persoalannya bukan hanya persoalan keluarganya. Itu adalah

persoalan kita bersama. Ketika orang tua cemas, jangan disalahkan karena kekhawatirannya. Berikan informasi yang benar. Ketika anak takut kembali ke sekolah, bantu mengembalikan rasa amannya.

Ketika sekolah membutuhkan dukungan, masyarakat harus hadir. Dan ketika sistem menemukan kelemahan, pemerintah harus memperbaikinya.Inilah semangat sangkep nggeluh: kehidupan tidak dijalani sendirian. Ada keluarga dan komunitas yang saling menopang. Pemerintah harus tegas sekaligus menenangkan sesaat setelah kejadian, Bupati Karo Dr. Anthonius Ginting turun langsung melihat

kondisi siswa yang dirawat di RS Efarina, RSU Amanda, RSU Kabanjahe dan Puskesmas Berastagi. Kehadiran pemimpin di tengah anak dan keluarga merupakan bentuk dukungan moral yang penting.Namun ketenangan masyarakat tidak cukup dibangun melalui kehadiran fisik pejabat pemerintah. Ketenangan harus dibangun melalui informasi dan tindakan yang transparan.

Masyarakat perlu mengetahui:

• berapa jumlah siswa yang terdampak;

• bagaimana kondisi kesehatan mereka;

• bagaimana hasil pemeriksaan medis;

• bagaimana hasil pemeriksaan makanan;

• apa hasil investigasi keamanan pangan;

• tindakan korektif apa yang dilakukan; dan

• bagaimana kejadian serupa akan dicegah.

Penghentian sementara dapur oleh Kepala BGN Sudaryono yang diduga berkaitan dengan kejadian dapat menjadi langkah kehati-hatian selama proses investigasi.

Selanjutnya, keputusan harus didasarkan pada bukti dan prosedur yang jelas.

Yang terpenting, anak-anak yang telah terdampak harus mendapatkan pemantauan kesehatan sampai benar-benar pulih.

Berastagi harus menjadi pelajaran bagi MBG Kita tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa MBG adalah program yang salah hanya karena terjadi sebuah insiden. Gagasan menyediakan makanan bergizi bagi anak adalah gagasan yang baik. Tetapi program yang sangat besar membutuhkan sistem keamanan pangan yang juga kuat.

Peristiwa Berastagi seharusnya mendorong kita bertanya: Apakah seluruh titik kritis keamanan pangan telah dikendalikan?

Apakah beban kerja penjamah makanan masih realistis?

Apakah waktu produksi memungkinkan seluruh prosedur keamanan dilaksanakan dengan benar?

Apakah pengendalian suhu dan bahan pangan berjalan konsisten?

Apakah sistem penelusuran makanan sudah kuat?

Dan pertanyaan yang lebih besar:

Apakah desain sistem kita sudah cukup kuat untuk menjamin keamanan makanan dalam skala nasional? Pertanyaan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap MBG.Sebaliknya, itu adalah bentuk tanggung jawab untuk membuat MBG lebih aman dan lebih baik.

Jangan hanya mencari siapa yang salah

Dalam sistem keamanan pangan modern, kita tidak boleh hanya mengandalkan manusia untuk tidak melakukan kesalahan. Manusia dapat lelah. Manusia dapat lupa.

Sistem yang baik harus dirancang agar kesalahan dapat dicegah, dideteksi dan dikoreksi sebelum berdampak kepada anak.

Karena itu, peristiwa Berastagi sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Siapa yang salah?” Tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan: “Apa yang harus diperbaiki agar anak-anak kita lebih aman?” Pertanyaan ini jauh lebih penting untuk masa depan MBG. Saatnya menguji MBG 3+3.

Peristiwa ini juga menjadi momentum untuk berpikir lebih inovatif mengenai desain MBG. Sebagai peneliti dan pemerhati program gizi masyarakat, penulis mengusulkan satu gagasan yang layak diuji secara ilmiah, bukan langsung diterapkan secara nasional: MBG 3+3.

Konsepnya sederhana. Tiga hari makanan disediakan melalui SPPG.

Tiga hari makanan bergizi disiapkan keluarga melalui konsep Bontot Bergizi.

MBG 3+3 bukan berarti mengurangi perhatian pemerintah terhadap gizi anak.

MBG 3+3 adalah membagi tanggung jawab dan sekaligus edukasi gizi bagi keluarga dalam menyediakan bontot.

Jika selama ini pemerintah menjadi penyedia makanan setiap hari, model ini mengembangkan kemitraan: Pemerintah + keluarga + sekolah + masyarakat untuk bersama-sama memastikan anak memperoleh makanan yang bergizi dan aman.

Pada hari Bontot, keluarga tidak diminta membuat makanan mahal atau rumit.

Prinsipnya sederhana: karbohidrat + protein + sayur + buah + air putih.

Sementara itu, pada hari tanpa produksi MBG, SPPG dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk sanitasi, pemeliharaan peralatan, pemeriksaan kesiapan tenaga, evaluasi HACCP, audit internal dan persiapan produksi berikutnya.

Dengan demikian, hari tanpa produksi bukan hari untuk berhenti bekerja. Itu adalah hari untuk memperkuat kualitas dan keamanan.

Tetapi sekali lagi, MBG 3+3 harus menjadi pilot project terlebih dahulu. Kita perlu membandingkan secara ilmiah keamanan pangan, kualitas gizi, biaya, penerimaan anak dan orang tua, food waste serta keberlanjutan program dengan MBG reguler.

Jika terbukti lebih baik, barulah dapat dipertimbangkan untuk diperluas.

Anak-anak harus kembali tersenyum.

Anak-anak memiliki masa depan yang jauh lebih panjang daripada satu hari buruk yang mereka alami pada 13 Agustus 2026. Karena itu, jangan biarkan kejadian tersebut menjadi identitas mereka. Mereka bukan sekadar “anak korban keracunan.”Mereka adalah anak-anak Karo dan Indonesia yang sedang tumbuh, belajar dan mengejar masa depan. Jika ada yang masih takut, kita dampingi. Jika orang tua masih cemas, kita berikan informasi yang benar. Jika ada sistem yang lemah, kita perbaiki. Jika ada kesalahan, kita koreksi secara profesional.

Semangat Rakut Sitelu mengajarkan bahwa kehidupan tidak dijalani sendirian. Pemerintah, sekolah, keluarga dan masyarakat harus saling menopang, bukan saling menyalahkan.

Anak-anak Karo harus tumbuh sehat, belajar dengan tenang, dan menatap masa depan tanpa rasa takut.

Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua untuk membangun sistem makanan anak sekolah Indonesia yang semakin aman, bergizi, manusiawi dan terpercaya.

Penulis adalah Peneliti Gizi Masyarakat dan Dosen Poltekkes Kemenkes Medan

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement