Jejak Zakat di Rumah Syamsiah


“Bagi sebagian orang, zakat mungkin hanya angka yang dipotong dari penghasilan. Namun, bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, zakat adalah pintu rezeki yang mengetuk di saat harapan hampir redup.”
Di sebuah sudut Gampong Tanjong Dalam Utara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, sebuah rumah sederhana berdiri dalam diam. Dindingnya menyimpan cerita tentang perjuangan hidup yang tak selalu mudah. Di sanalah Syamsiah menjalani hari-harinya, bersama harapan yang terus bertahan di tengah keterbatasan.
Minggu (18/10/2026), rumah itu kedatangan sejumlah tamu. Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, bersama anggota DPRK Aceh Utara Tgk. Jeunieb, Yusrizal, unsur pemerintah gampong, dan perangkat terkait, datang untuk melihat langsung kondisi yang selama ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jali, yang akrab disapa Ayah Wa.
Tak sekadar berkunjung, rombongan turut membawa bantuan sembako sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan sehari-hari keluarga Syamsiah. Di teras rumah yang sederhana itu, bantuan tersebut menjadi simbol bahwa masih ada tangan-tangan yang berupaya hadir untuk meringankan beban sesama.
Bagi Samsul Bahri, kunjungan lapangan bukan hanya agenda seremonial. Menurutnya, melihat langsung kondisi masyarakat menjadi langkah penting agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan dan menyentuh mereka yang berhak menerimanya.
Di balik bantuan yang sampai ke rumah Syamsiah, terdapat amanah ribuan muzaki dan munfik yang mempercayakan zakat serta infaknya kepada Baitul Mal Aceh Utara. Dana itulah yang kemudian menjelma menjadi berbagai bentuk bantuan sosial untuk warga yang membutuhkan.
Namun, jalan kepedulian itu tidak selalu mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, penghimpunan zakat di Aceh Utara mengalami penurunan yang cukup signifikan. Jika pada 2023 penerimaan zakat rata-rata mencapai Rp1,3 miliar per bulan, kini jumlahnya turun menjadi sekitar Rp300 juta per bulan seiring perubahan ketentuan nisab zakat.
Meski demikian, semangat untuk membantu masyarakat tidak boleh surut. Sebab, di banyak rumah sederhana seperti milik Syamsiah, zakat bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan harapan yang hadir dalam bentuk bantuan nyata.
Kunjungan ke rumah Syamsiah menjadi pengingat bahwa di balik setiap rupiah zakat yang ditunaikan, terdapat peluang untuk mengurangi beban hidup seseorang. Di tengah tantangan penghimpunan zakat yang menurun, kepedulian masyarakat tetap menjadi cahaya yang diharapkan mampu menerangi jalan menuju kesejahteraan bersama di Aceh Utara.
“Barangkali kita tak pernah mengenal Syamsiah. Namun, bisa jadi ada bagian dari rezeki kita yang kelak akan menjadi jawaban atas doa-doa panjang yang dipanjatkannya dalam sunyi,” sebut Samsul Bahri saat menutup wawancara dengan Waspada.id. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/WASPADA.id)
Berita Terkait





































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda