Breaking News
Memuat breaking news...

JELAGA SENJA

Redaksi
Redaksi
Selasa, 5 Mei 2026 - 8.22 AM WIB
JELAGA SENJA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerpen: Agusni AH

Agusni AH, sebagai penyair yang menyeberang ke cerpen, tampak sedang membangun sebuah bentuk kesusastraan yang hibrid—prosa yang berdenyut seperti puisi, dan puisi yang hidup seperti cerita. Dalam “Jelaga Senja”, ia tidak sekadar bercerita, melainkan melantunkan. Ritmis, penuh irama. Narasi-narasinya bergerak pelan, repetitif, seakan-akan setiap kalimat adalah bait yang sengaja ditahan di ujung pena.

Balada, dalam pengertian paling lampau, adalah kisah yang dinyanyikan tentang perjalanan, kehilangan, dan takdir nyata. Di tangan Agusni AH, balada itu tidak hadir dengan rima yang kaku, melainkan melalui suasana senja yang menjadi ruh, kosmos yang sunyi, dan tokoh “aku” yang tersesat bukan hanya di ruang, tapi di kedalaman batinnya sendiri. Ini adalah balada modern—lirih, kontemplatif, dan nyaris tanpa resolusi.

Pilihan diksi seperti “jelaga,” “senja,” “kosmos,” dan “kehampaan” bukan sekadar ornamen, melainkan simbol-simbol yang memiliki makna. Ia membangun atmosfer yang kelam namun puitik, di mana batas antara realitas dan metafora melebur. Tokoh utama tidak lagi sekadar karakter, tetapi simbol manusia yang terasing dari dirinya, yang mencari pulang di tengah reruntuhan ingatan.

Yang menarik, Agusni AH tidak tergesa memberi jawaban atau kesimpalan. Ia malah membiarkan pembaca 'terjerumus' lebih lama dalam sunyi. Ini yang membuat cerpen tersebut terasa seperti balada. Bukan karena ia dinyanyikan, tetapi karena ia bergema, pelan, dan meninggalkan jejak emosional yang sulit hilang dari ingatan. Cerpen “Jelaga Senja” ini bisa dibaca sebagai eksperimen estetik, pertemuan antara puisi dan prosa yang melahirkan bentuk ketiga, sebuah cerpen yang bernapas seperti puisi, dan berdenyut seperti lagu duka yang tak pernah usai. Bagi para pembaca khusus penikmat sastra dapat menjadikan gaya cerpen "Jelaga Senja" ini sebagai sebuah prosa baru ala Agusni AH, dapat disimak sebagaimana berikut ini :

SENJA kelam jatuh seperti serbuk abu yang tak sempat tertampung.

Langit menguning, pucat pasi, seakan matahari terbakar dari dalam, menyisakan jelaga yang perlahan turun memenuhi punggung bumi. Hinggap di atap-atap, menyulam pucuk-pucuk pepohonan, menempel di dedaunan, juga di dadaku.

Aku tidak tahu sejak kapan perjalanan ini dimulai. Mungkin sejak pertama kali aku bertanya tentang arti pulang, atau sejak aku kehilangan arah di antara terlalu banyak jejak yang membekas dari sebuah rute pergi tanpa kembali. Yang pasti, ketika aku tersadar, aku sudah jauh, bahkan terlalu jauh melampaui titik batas yang tanpa penanda arah.

Di hadapanku, hamparan kosmos terbentang tanpa ujung. Bukan seperti langit malam yang kita kenal—ini lebih sunyi, lebih dingin, lebih asing. Bintang-gemintang menggantung seperti luka-luka kecil yang tak pernah sembuh, berkelip redup, seolah menolak untuk benar-benar mati.

Aku berjalan di antara kehampaan itu, di antara ruang-ruang yang semakin kosong. Senyap dan pengap.

Setiap langkahku sangat hati-hati, agar tak bersuara. Tak ada deru, tak ada udara. Hanya ruang yang terasa pekat, seperti kesedihan yang lekat, mengental.

Aku mencoba memanggil namaku sendiri, tapi suara itu tak pernah kembali. Diterpa angin lalu. Ia hilang, diserap oleh sesuatu yang tak terlihat. Sebagian kecil menguap tak berbekas.

“Ini bukan tempatmu.”

Suara itu tiba-tiba muncul—tidak dari arah mana pun, juga bukan dari dalam kepalaku. Ia ada, begitu saja, seperti keadaan yang dipaksakan, agar tidak melahirkan stigma yang menyudutkan.

“Aku tersesat,” jawabku entah pada siapa. “Aku hanya ingin pulang,” selaku entah pulang pada siapa.

Kosmos itu tidak menjawab, hanya memberi respon seadanya. Tak melampaui. Sunatullah pada setiap yang ada. Bergerak pada perintah seruan. Berhenti pada perintah larangan. Ia hanya terus berdenyut perlahan, seperti jantung raksasa yang kelelahan.

Aku melihat bayangan—diriku sendiri, mungkin—terpantul di permukaan kegelapan yang licin. Wajah itu asing.

Matanya cekung, penuh jelaga. Seolah setiap kesalahan, setiap penyesalan, setiap dosa kecil yang pernah kulakukan kini mengendap di sana, membentuk lapisan hitam yang tak bisa dibersihkan. Tak sesuai perintah yang semestinya.

Aku mencoba mengusapnya. Tapi tanganku menembus wajah itu, seperti kabut.

Di kejauhan, senja kembali muncul.

Aneh. Di tempat tanpa waktu ini, senja datang berkali-kali.

Ia tak pernah benar-benar pergi. Warnanya semakin pekat—jingga yang terbakar, kuning yang memucat, merah yang nyaris hitam. Di baliknya, aku melihat sesuatu bergerak.

Kenangan.

Ada suara panggilan mengalir pelan, seperti doa yang pernah kupelajari saat kecil. Hangat. Nyaris membuatku lupa pada gigil dingin yang melingkupi tubuhku.

“Aku di sini…” Bisikku.

Tapi langkahku justru menjauh.

Kosmos ini kejam. Ia tidak memberiku arah, hanya ilusi. Setiap kali aku mendekat pada cahaya, ia memudar. Setiap kali aku berhenti, kegelapan merayap lebih dekat bagai menyergap, seperti ingin memelukku lebih erat, lebih dalam, ataukah mungkin menelanku.

Aku mulai lelah.

Perjalanan ini terasa seperti hukuman yang tak memiliki akhir. Aku mencoba mengingat jalan pulang—rumah. Rumah yang kini tak berpenghuni. Suara hujan di atap seng, aroma kopi yang diseduh pelan, bahkan suara adzan yang dulu terasa biasa saja. Semua itu kini menjadi sesuatu yang jauh, terlalu jauh untuk dijangkau.

“Apa aku sudah mati ?”

Tidak ada jawaban.

Hanya senja.

Dan jelaga yang semakin tebal.

Aku duduk—jika ini bisa disebut rehat dari rute perjalanan panjang, di atas ketiadaan yang pelan-pelan sirna.

Memandangi bintang-bintang yang perlahan padam satu per satu. Di antara redupnya cahaya itu, aku menyadari sesuatu: aku bukan tersesat di kosmos. Tapi, aku tersesat di dalam diriku sendiri.

Kosmos ini hanyalah cermin.

Setiap ruang kosong adalah bagian dari hatiku yang pernah kutinggalkan. Setiap kegelapan adalah luka yang tak pernah kusembuhkan. Dan senja, senja itu adalah batas antara aku yang dulu dan aku yang sekarang, yang tak pernah benar-benar berani memilih. Tak pernah mau memilih untuk tiada di hidup ini. Aku enggan pergila menghilang. Dan, karena aku ingin tetap ada di sini.

Aku tertawa kecil. Bukan senyum yang kuatur, tanpa pernah berpoles agar lidah dan bibir ini sedikit berasa tebu. Tidak, samasekali aku enggan melakukan itu, biar saja dalam segenap mulutku tak berwarna, pada setiap itu pula tanpa ada pemanisnya. Aku hanya menyesuaikan saja agar semua itu berlaku apa adanya.

Suaranya pecah, seperti kaca retak.

“Jadi ini akhirnya…”

Di kejauhan, cahaya terakhir senja meredup. Bukan perlahan, tapi seperti dipadamkan. Gelap menelan segalanya, tanpa sisa.

Aku berdiri. Tidak lagi mencari jalan.

Karena mungkin, tidak ada jalan pulang.

Atau mungkin, pulang bukanlah tempat.

Melainkan sesuatu yang telah lama hangus—menjadi serbuk-serbuk jelaga di ujung senja yang jatuh tumpah tanpa ada memungutnya.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement