Breaking News
Memuat breaking news...

Kemendikdasmen Gelar Bedah Buku UAS, Dorong Literasi Keagamaan di Lingkungan Kementerian

Redaksi
Redaksi
Senin, 2 Maret 2026 - 11.18 AM WIB
Kemendikdasmen Gelar Bedah Buku UAS, Dorong Literasi Keagamaan di Lingkungan Kementerian
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Masjid Baitut Tholibin (MBT) di Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, dipadati lebih dari seribu jemaah pada Jumat (27/2). Bertindak sebagai khatib salat Jumat, Abdul Somad menyampaikan pesan mengenai urgensi pendidikan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa dan martabat umat manusia.

Usai pelaksanaan salat Jumat, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) menggelar acara bedah buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput karya Abdul Somad.


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Abdul Somad dan partisipasi para jemaah dalam kegiatan tersebut.

"Ada bedah buku Ustaz Abdul Somad yang tadi sudah kita ikuti bersama-sama. Ini juga bagian dari upaya kita bersama untuk meningkatkan literasi, sosial literasi keagamaan dengan masjid sebagai sarananya. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus kita laksanakan secara berkala," ujar Abdul Mu'ti usai acara.

Ia menambahkan, kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian bertujuan membangun suasana kerja yang religius agar seluruh insan pendidikan dapat bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas.

"Ini menjadi bagian dari usaha kami agar suasana kerja, suasana kantor lebih religius. Yang religius itu mudah-mudahan berimplikasi langsung terhadap kesalehan seluruh insan pendidikan," kata Mu'ti.
Mu'ti juga berpesan kepada para aparatur sipil negara (ASN) untuk menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah sekaligus upaya memupuk integritas.

"Mereka agar bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjauhkan diri dari semua hal yang bertentangan dengan hukum, terutama menjauhkan diri dari perilaku dan jembatan korupsi serta tindakan lainnya," tegasnya.

Dalam Khotbah Jumatnya, UAS mengisahkan peristiwa Perang Badar yang dimenangkan oleh umat Islam pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW memberikan pilihan yang berbeda dalam menangani tawanan perang. Alih-alih meminta tebusan berupa harta seperti emas atau perak, ia justru membebaskan tawanan dengan syarat mereka harus mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim.

“Islam lebih mengedepankan pendidikan daripada harta. Karena dengan pendidikan, seseorang dapat memperoleh harta. Namun, harta tanpa pendidikan yang baik hanya akan habis di tangan anak dan cucunya,” tegasnya.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement