Breaking News
Memuat breaking news...

Kementerian PPPA Gandeng Dunia Usaha Kirim 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Redaksi
Redaksi
Senin, 24 Agustus 2026 - 4.31 PM WIB
Kementerian PPPA Gandeng Dunia Usaha Kirim 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Menteri PPPA Arifah Fauzi menggandeng dunia usaha dan organisasi keagamaan mengirimkan sekitar 30 ton bantuan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menggandeng dunia usaha dan organisasi keagamaan mengirimkan sekitar 30 ton bantuan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (23/8), untuk selanjutnya dibawa menggunakan pesawat Hercules dan disalurkan kepada masyarakat terdampak di NTT.

“Penyerahan bantuan ini menjadi bukti kepedulian dan semangat kolaborasi pentahelix antara pemerintah, dunia usaha, organisasi keagamaan, masyarakat, dan media untuk memastikan perempuan dan anak korban bencana di Flores mendapatkan haknya,” kata Arifah, Minggu (23/8/2026).

Menurut Arifah, bantuan tersebut berhasil dihimpun hanya dalam waktu dua hari setelah Kementerian PPPA melakukan koordinasi dengan para mitra. Bantuan dikumpulkan berdasarkan pemetaan kebutuhan perempuan dan anak terdampak bencana.

“Kami menyampaikan hasil koordinasi tersebut kepada para mitra pembangunan dan dunia usaha. Respons yang kami terima luar biasa. Dalam waktu yang sangat singkat, bantuan mulai terkumpul dan hari ini sekitar 30 ton bantuan siap dibawa ke NTT,” ujarnya.

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang NTT, khususnya Pulau Flores, pada Sabtu (15/8), menimbulkan dampak besar bagi masyarakat. Berdasarkan data BNPB per 22 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, sebanyak 87 orang meninggal dunia, 1.298 orang mengalami luka-luka, dan 150.576 orang mengungsi.

Kementerian PPPA sebelumnya telah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi NTT serta tujuh kabupaten/kota terdampak. Dari koordinasi tersebut, masih ditemukan sejumlah kebutuhan khusus perempuan dan anak yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Bantuan berasal dari sejumlah mitra dunia usaha, organisasi keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan, antara lain APSAI, APPNIA, Danone, Nestle, Wings, Unilever, Indofood, Tanoto Foundation, PIMTI, IWAPI, APJI, PWKI, dan Muslimat Nahdlatul Ulama.

Arifah mengapresiasi dukungan BNPB dan Lanud Halim Perdanakusuma yang memfasilitasi pengiriman bantuan ke NTT.

“Terima kasih kepada BNPB dan Lanud Halim Perdanakusuma yang telah memberikan fasilitas sehingga niat baik seluruh mitra dapat diwujudkan,” katanya.

Arifah bersama jajaran Kementerian PPPA dan para mitra dijadwalkan berangkat ke NTT pada Senin (24/8). Selain menyerahkan bantuan, kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi perempuan, anak, dan kelompok rentan yang terdampak gempa.

Dalam kunjungan tersebut, Kementerian PPPA juga akan mempersiapkan pembentukan Pos SAPA di lokasi terdampak. Pos ini akan menjadi simpul koordinasi layanan untuk memperkuat perlindungan perempuan, anak, dan kelompok rentan sejak masa tanggap darurat hingga tahap pemulihan dan rekonstruksi.

Pos SAPA akan menyediakan akses pengaduan dan layanan perlindungan, pendataan terpilah, asesmen kebutuhan spesifik, ruang aman dan nyaman, serta akses terhadap layanan kesehatan, psikososial, hukum, dan layanan lainnya.

“Pos SAPA akan menjadi salah satu pusat layanan bagi perempuan dan anak di lokasi bencana. Kami ingin memastikan perlindungan tetap hadir di tengah situasi darurat,” tegas Arifah.

Kementerian PPPA akan berkoordinasi dengan BNPB, Kementerian Sosial, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, relawan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan berbagai mitra lainnya untuk memastikan kebutuhan perempuan, anak, dan kelompok rentan terpenuhi.

Arifah menegaskan, penanganan bencana membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara cepat dan tepat sasaran.

“Di lapangan tidak ada yang bekerja sendiri-sendiri. Kita semua adalah satu keluarga besar Indonesia yang bergotong royong memberikan layanan terbaik kepada saudara-saudara kita,” pungkasnya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement