Breaking News
Memuat breaking news...

Kenaikan Harga BBM Menguji Kelayakan Puan Jadi Capres

Redaksi
Redaksi
Selasa, 6 September 2022 - 8.08 PM WIB
W
Waspada
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada): Pengamat komunikasi politik Unibersitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga mengamati paara buruh yang demo di depan gerbang DPR RI membawa foto Puan Maharani yang sedang menangis.

Menurutnya, foto itu tampaknya sengaja dibawa para pendemo untuk mengingatkan Puan agar konsisten dalam merespon persoalan yang sama.

Puan ditantang pendemo untuk juga menentang kebijakan Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dengan tetesan air mata sebagaimana ia menentang kebijakan kenaikan harga BBM era Susilo Bambang Yodhoyono, kata M. Jamiluddin Ritonga dalam keterangan tertulisnya yang diterima Waspada, Selasa (6/9/2022) di Jakarta.

M. Jamiluddin Ritonga menilai, tuntutan pendemo itu sangat wajar mengingat jabatan Puan saat ini sebagai Ketua DPR RI. Apalagi salah satu fungsinya mengawasi kebijakan yang diambil eksekutif.

Untuk itu, kata, Jamiluddin Ritonga, Puan seharusnya mendengarkan sungguh-sungguh aspirasi rakyat terkait kebijakan yang diambil eksekutif. Kalau rakyat menolak kebijakan eksekutif, sudah seharusnya Puan memperjuangkannya untuk membatalkan kebijakan eksekutif tersebut.

" Jadi, Puan tidak seharusnya memahami kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM sementara mayoritas rakyat menolaknya. Di sini Puan jelas sangat tidak aspiratif dan tidak melaksanakan fungsi pengawasan," tandasnya.

Kalau sat ini saja Puan sudah tidak aspiratif, tentu rakyat akan sulit menilainya layak menjadi presiden. Rakyat akan khawatir Puan akan mengabaikan suara rakyat bila nantinya menjadi presiden.

Karena itu, bila Puan ingin sukses menjadi calon presdien (capres) dan kelak akan terpilih, maka saat inilah moment yang tepat menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang aspiratif. Puan harus berani melakukan fungsi pengawasan dengan menolak kebijakan menaikkan harga BBM.

Jadi, moment kenaikan harga BBM akan menguji kelayakan Puan sebagai pemimpin yang sesungguhnya. Kalau Puan berani menolak kenaikkan harga BBM, maka ia layak menjadi capres pada Pilpres 2024, pungkas M. Jamiluddin Ritonga yang juga mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta. (J05)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement