Ketika Agustusan Tinggal Panjat PinangKetika Agustusan Tinggal Panjat Pinang

Peringatan Agustusan sudah lewat sepekan. Bendera Merah Putih mulai berkurang di pagar rumah. Umbul-umbul perlahan dilepas. Namun, di Meunasah Intan, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, suasana tujuh belasan justru baru dimulai.
Minggu, 23 Agustus 2026, warga menggelar hiburan rakyat. Jenis permainannya khas Agustusan. Ada tarik tambang, lari goni, pancing botol, makan kerupuk dan sejumlah permainan lainnya. Acara sore itu ditutup dengan lomba panjat pinang.
Lewat pukul lima sore, panitia mulai sibuk. Dua kelompok peserta diberi pengarahan. Penonton mulai berkumpul. Anak-anak berlarian. Ibu-ibu mengambil posisi paling strategis. Bapak-bapak tentu saja ikut mengawasi. Entah sebagai penonton atau calon komentator.
Namun, sebelum panjat pinang dimulai, panitia membagikan doorprize.
Dua pemuda berusia sekitar 20-23 tahun menjadi pembawa acara. Salah satunya berdiri di depan kerumunan anak-anak. Ia kemudian mengajukan pertanyaan.
Di sinilah saya mulai tertarik.
Tidak ada pertanyaan, “Sebutkan lima jenis ikan.”
Tidak ada pula, “Berapa 10 tambah 6?”
Apalagi pertanyaan klasik, “Siapa yang hafal Pancasila?”
Pertanyaannya justru sejarah.
“Pada 26 Maret 1873, Belanda menyerang Kerajaan Aceh. Sebulan kemudian, pemimpin pasukan Belanda, Kohler, tewas ditembak pejuang Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Siapa nama lengkap Kohler?”
Suasana langsung sunyi.
Bukan karena anak-anak tidak patriotis. Antena mereka memang belum sampai ke sana.
Akhirnya, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pembawa acara. Wajar. Pesertanya anak-anak sekitar usia 10-12 tahun. Mereka mungkin baru belajar bahwa tanggal 17 Agustus adalah hari kemerdekaan. Belum tentu sudah bertemu Kohler dalam buku pelajaran.
Pertanyaan berikutnya tidak kalah berat.
“Siapa nama Qadhi Malikul Adil ketika Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultanah Safiatuddin?”
Kembali sunyi.
Pembawa acara kembali menjadi peserta sekaligus juri.
Namun, pertanyaan berikutnya mulai mendapat respons.
“Di mana makam Cut Nyak Dhien?”
“Sumedang, Bang! Sumedang!”
Seorang anak berbaju hitam menjawab lantang.
Benar.
Hadiah berpindah tangan.
Pertanyaan tentang pencipta lagu Indonesia Raya juga sempat membuat suasana hening. Beberapa detik kemudian, seorang anak mengangkat tangan.
“WR Supratman!”
Benar lagi.
Hadiah kembali melayang ke tangan anak-anak.
Bagi saya, justru bagian inilah yang menarik.
Bukan karena anak-anak tidak mampu menjawab pertanyaan sejarah. Itu sangat wajar. Yang menarik adalah pemuda pembawa acara tadi.
Di tengah banjir konten pendek, ia masih menyimpan pengetahuan sejarah. Ia memilih bertanya tentang Kohler, Kesultanan Aceh dan Cut Nyak Dhien. Padahal, cara paling mudah menghibur anak-anak adalah bertanya nama artis, nama pemain sepak bola atau siapa nama kepala desa.
Sesekali, sejarah memang perlu diselipkan di tengah hiburan.
Sebab Agustusan seharusnya bukan hanya soal lomba. Ia juga kesempatan kecil untuk mengingat kembali siapa kita dan dari mana kita berasal.
Sayangnya, pertanyaan berikutnya kembali turun kelas.
Siapa nama lengkap keuchik?
Siapa nama ibu keuchik?
Yang ini tentu lebih mudah. Hampir semua anak mengangkat tangan.
Setelah doorprize selesai, acara utama dimulai.
Panjat pinang.
Biasanya, inilah bagian paling ditunggu. Penonton ingin melihat peserta jatuh. Bukan karena tidak suka, tetapi karena begitulah logika hiburan panjat pinang. Peserta naik, melorot, mencoba lagi. Penonton tertawa. Peserta marah-marah kecil. Lalu naik lagi.
Tetapi sore itu berbeda.
Lima sampai tujuh peserta ternyata cukup lihai. Sekali susun, langsung naik. Tidak ada yang melorot. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada tubuh bergelantungan terlalu lama.
Penonton malah kecewa.
Mungkin karena hiburannya terlalu profesional.
Tidak ada tawa riuh seperti yang dahulu menjadi bagian dari tontonan panjat pinang pada masa kolonial. Bedanya, dulu hiburan itu diselenggarakan penjajah. Kini kita melakukannya sendiri dalam suasana merdeka.
Sejarah memang kadang lucu.
Dulu rakyat menjadi tontonan. Kini rakyat menjadi pemain sekaligus penonton.
Seminggu sebelumnya, di desa tetangga, hiburan Agustusan juga digelar. Kali ini lomba pukul bantal di atas air. Seru. Ramai. Menghibur.
Dan mungkin memang begitulah wajah Agustusan di banyak tempat.
17 Agustus menjadi alasan untuk berkumpul. Menjadi kesempatan membuat hiburan. Menjadi waktu untuk tertawa sejenak di tengah kehidupan yang tidak selalu lucu.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Rakyat memang berhak bersenang-senang.
Tetapi ada sesuatu yang patut direnungkan.
Jangan sampai setelah 79 tahun lebih merdeka, Agustusan hanya kita pahami sebagai musim lomba. Kita hafal cara memanjat pinang, tetapi lupa mengapa kemerdekaan harus diperjuangkan. Kita hafal cara memukul bantal, tetapi lupa siapa yang pernah memukul penjajah.
Kita tertawa melihat orang jatuh dari pinang.
Tetapi mungkin sudah waktunya sesekali kita berhenti dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?
Kemerdekaan bukan sekadar satu hari tanpa kerja. Bukan sekadar lomba makan kerupuk. Bukan pula sekadar hadiah doorprize.
Kemerdekaan adalah kesempatan untuk menjadi bangsa yang mengenal sejarahnya.
Maka, mungkin pemuda pembawa acara di Meunasah Intan itu sedang melakukan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar membagikan hadiah.
Ia sedang menyelipkan sejarah di antara tawa.
Dan mungkin, dari pertanyaan sederhana tentang Kohler, Cut Nyak Dhien dan WR Supratman itu, ada pesan kecil yang layak kita bawa pulang:
Agustusan boleh menjadi hiburan. Tetapi jangan sampai kemerdekaan tinggal hiburan. [Munawardi/WASPADA.id]


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda