Ketika Duet Roy Evans–Gerard Houllier Berantakan Di Liverpool

Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Ada petuah lama yang penuh makna dalam kehidupan bahwa, “Tidak boleh ada dua nahkoda yang memegang setir dalam satu kapal.” Petuah tersebut menggambarkan pentingnya kepemimpinan yang kuat dalam sebuah organisasi untuk mencapai kesuksesan.
Betapapun hebatnya dua nahkoda dalam satu kapal, hanya ada satu nahkoda yang boleh memegang setir untuk membawa kapal mengarungi lautan sekaligus berlabuh dengan selamat di dermaga.
Ketika dalam sebuah organisasi ada dua pihak yang memegang kendali, para bawahan akan bingung untuk memihak kepada siapa ketika keduanya berbeda pandangan. Hasilnya, laju sebuah tim kerja akan tersendat dan pada akhirnya tujuan tidak akan dapat dicapai dengan baik.
Hal ini mengingatkan saya ketika klub besar Inggris, Liverpool, memasuki Premier League musim 1998/1999.
Liverpool yang pada musim 1997/1998 di bawah asuhan pelatih Roy Evans menduduki peringkat tiga memasuki musim 1998/1999 dengan optimisme tinggi. Salah satu penyebabnya adalah melejitnya striker muda Michael Owen di Piala Dunia 1998.
Banyak yang menyebut Michael Owen yang pada musim 1997/1998 tampil memukau bersama Liverpool dan melejit bersama Inggris di Piala Dunia 1998 akan kian matang dan membawa Liverpool berjaya di Premier League musim 1998/1999.
Namun, manajemen Liverpool juga membuat keputusan mengejutkan pada awal musim. Pada Juli 1998, manajemen Liverpool secara tiba-tiba menghadirkan pelatih asal Prancis, Gerard Houllier, untuk berduet dengan Roy Evans sebagai "Double Head Coach" Liverpool di musim 1998/1999.
Keputusan menghadirkan Gerard Houllier terinspirasi dari keberhasilan pelatih asal Prancis, Arsene Wenger, yang sukses membawa Arsenal menjadi juara Premier League dan FA Cup musim 1997/1998.
Keputusan itu cukup mengejutkan mengingat Roy Evans sudah menduduki jabatan sebagai pelatih Liverpool sejak 1994 setelah menggantikan Graeme Souness.
Prestasi Liverpool di bawah asuhan Roy Evans tidaklah buruk, walau belum berhasil mempersembahkan gelar juara Premier League untuk Liverpool. Liverpool konsisten di lima besar klasemen Premier League dan sukses meraih gelar juara Piala Liga pada 1995.
Di masa kepelatihannya pula, bintang-bintang muda seperti Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, dan Michael Owen mulai “merekah” dan berkibar.

Roy Evans dan Gerard Houllier ketika memberi pengarahan kepada bintang Liverpool Robbie Fowler pada sesi latihan
Liverpool di era Roy Evans juga terkenal dengan sepak bola menyerang dan permainannya yang menghibur di lapangan.
Begitu hebatnya kharisma Roy Evans saat itu hingga sosok bintang Inggris yang dibesarkan “rival” Liverpool di Inggris, Manchester United, yaitu Paul Ince, memutuskan untuk meninggalkan Inter Milan pada awal musim 1997/1998 untuk pulang ke Inggris dan bergabung dengan Liverpool.
Kehadiran Houllier sendiri mendobrak tradisi yang sudah mengakar di Liverpool sejak berdiri. Untuk pertama kalinya, sosok non-Britania Raya dan tidak memiliki kiprah sebagai pemain Liverpool dipercaya sebagai pelatih.
Skeptisisme juga muncul karena Houllier, walau pernah sukses ketika melatih Paris Saint-Germain, namun gagal meloloskan Timnas Prancis ke Piala Dunia 1994.
Media Inggris sendiri pada waktu itu menyebut bahwa manajemen Liverpool telah melakukan blunder dengan menempatkan dua pelatih kepala menangani satu tim. Namun, manajemen Liverpool bersikukuh bahwa keputusan mereka adalah benar karena memandang keduanya bisa kompak dan saling mengisi dalam menangani Liverpool.
Roy Evans awalnya mengira Houllier akan datang untuk menggantikan Ronnie Moran yang pensiun sebagai bagian dari staf kepelatihannya. Namun, dewan klub Liverpool merasa hal itu tidak akan memberi Houllier otoritas yang sesuai dengan pengalaman dan kedudukannya dalam dunia sepak bola.
Ia dipertimbangkan untuk posisi Direktur Sepak Bola, tetapi diputuskan bahwa ia harus lebih dekat dengan para pemain di lapangan latihan daripada yang memungkinkan peran ini.
Dalam pertemuan pertama antara keduanya, dengan anggota dewan kunci juga hadir, dikonfirmasi bahwa Evans dan Houllier akan menjadi manajer bersama.
Untuk sementara waktu, tampaknya strategi itu benar-benar berhasil. Liverpool memulai musim 1998/1999 dengan gemilang, meraih tiga kemenangan dan satu hasil imbang dari empat pertandingan liga pertama mereka, termasuk kemenangan telak 4-1 atas Newcastle di St James' Park.
Namun, keadaan dengan cepat memburuk. Dalam pertandingan berikutnya, Liverpool kalah 2-1 dari West Ham di Upton Park, dan pertandingan itu memicu perselisihan besar pertama antara kedua manajer mengenai pemilihan pemain.
Evans ingin mempertahankan susunan pemain yang sama seperti saat melawan Newcastle karena merasa para pemain akan bersemangat setelah kemenangan yang mengesankan tersebut.
Houllier berpikir West Ham adalah tim yang lebih berbahaya dan ingin mencoret striker Karl-Heinz Riedle dan menggantinya dengan bek tambahan, Steve Harkness.
Houllier berhasil mewujudkan keinginannya, tetapi keputusannya dikecam oleh kekalahan dan fakta bahwa Riedle, yang masuk sebagai pemain pengganti di akhir pertandingan, mencetak satu-satunya gol Liverpool.
Situasi tidak kondusif makin terlihat ketika Houllier secara sepihak memecat pelatih kebugaran Andy Clark tanpa koordinasi yang baik dengan Evans. Padahal, Andy Clark direkrut atas dasar rekomendasi dari Roy Evans.
Perbedaan juga tampak ketika Evans dan Houllier berbeda dalam menentukan batas waktu kehadiran pemain saat berlatih dan pengaturan disiplin pemain sebelum dan sesudah pertandingan.
Lebih parahnya lagi, para pemain juga kerap bingung siapa di antara keduanya yang harus "didengar" dan "diikuti" ketika latihan dan bertanding di lapangan.
Michael Owen pernah berkata, "Susah bagi saya untuk mengambil sikap karena saya menghormati keduanya sebagai pelatih kami," ujarnya.

Roy Evans Dan Gerard Houllier Ketika Mendampingi Skuad Liverpool Bertanding Pada Awal Musim 1997/1998
Dalam otobiografinya, Robbie Fowler berbicara tentang kebingungan mengenai siapa yang harus didekati sebagai bos dan siapa yang membuat keputusan. Yang terakhir adalah sesuatu yang juga dipertanyakan oleh para pendukung ketika melihat permainan Liverpool di lapangan.
“Bagaimana ini bisa berhasil?” kata Robbie Fowler kemudian tentang pengaturan manajerial yang aneh itu. “Siapa yang memiliki keputusan akhir dalam pemilihan tim? Siapa yang bertanggung jawab? Para pemain tidak tahu, dan itu langsung membuatnya tidak bisa dijalankan,” ungkap Fowler dalam otobiografinya.
Hasilnya, laju Liverpool pun tersendat-sendat, baik di Liga Premier maupun di kompetisi Eropa. Bahkan, Liverpool harus tersingkir dari Piala UEFA setelah takluk dari Celta Vigo.
Kondisi ini membuat para suporter "gerah" dan meminta ketegasan dari manajemen Liverpool untuk menentukan siapa "nahkoda utama" Liverpool waktu itu.
Akhirnya, dengan jiwa kesatria dan demi keutuhan tim, Roy Evans memilih untuk mengalah. Apalagi setelah melihat betapa “kacaunya” permainan Liverpool di Piala Liga saat takluk 1-3 dari Tottenham Hotspur di Anfield pada 10 November 1998.
Pada 12 November 1998, Roy Evans secara resmi mundur dari posisi sebagai Manajer dan Pelatih Liverpool.
Ketika Evans memberi tahu David Moores tentang keputusannya, ketua klub sangat terpukul. Moores dan direktur Tom Saunders memohon kepada Evans untuk mempertimbangkan kembali, bahkan menawarkannya posisi lain di klub. Namun, Evans sudah mengambil keputusan bulat untuk mundur.
Kepada media, Roy Evans mengungkapkan isi hatinya ketika mengumumkan pengunduran dirinya: “Ketika Anda mulai berbicara tentang pemilihan tim dan salah satu dari Anda ingin memilih pemain ini dan yang lain ingin memilih pemain lain, maka itu akan menimbulkan masalah. Saya akan memilih satu tim dan Houllier akan memilih yang lain. Seseorang harus memiliki keputusan akhir. Di situlah semuanya gagal.”
“Para pemain tidak bodoh,” tambahnya. “Jika mereka telah dikeluarkan dari tim dan mereka pikir itu adalah keputusan saya, maka mereka akan berpihak pada Houllier. Mereka yang mengira mereka telah dikeluarkan karena Houllier akan berpihak pada saya. Itu sama sekali tidak mudah.”
“Saya keluar atas kemauan saya sendiri. Saya tidak dipecat atau semacamnya. Saya keluar karena saya merasa berduet bersama Houllier itu bukan hal yang benar. Ada banyak hal yang terjadi dan Anda harus menerimanya, tetapi saya memahami konsekuensi ini sebagai seorang pelatih profesional. Begitulah hidup pada akhirnya. Sepak bola adalah industri yang sangat kompetitif. Dengan kepergian saya, maka Gerard Houllier akan lebih bebas dalam membenahi tim,” ujar Evans.
Sebuah keputusan yang sempat disayangkan oleh fans Liverpool, namun demi kebaikan klub, keputusan pahit itu yang harus diambil Evans.
Itu adalah akhir yang menyedihkan bagi Evans, seorang yang mencintai dan telah memberikan segalanya untuk klub sepak bola Liverpool.
Liverpool kemudian mengajukan sosok mantan bintang Liverpool era 1971-1984, Phil Thompson, sebagai asisten Gerard Houllier. Houllier menyetujui usulan tersebut.

Wakil Presiden Liverpool Peter Robinson Dan Presiden Liverpool David Moores ketika memperkenalkan Gerard Houllier sebagai Pelatih dan Phil Thompson sebagai Asisten Pelatih tak lama setelah Roy Evans memutuskan mundur
Houllier membawa Thompson ke dalam staf kepelatihannya untuk membantu menjembatani kesenjangan antara tradisi dan budaya Liverpool dengan metode dan taktik yang akan diterapkannya dalam melatih Liverpool.
Walau kurang mendapat dukungan dari suporter, namun perlahan-lahan Houllier yang dikenal memiliki disiplin tinggi mulai membenahi skuad Liverpool, baik dari sisi teknis maupun nonteknis.
Hasilnya, skuad Liverpool yang terbiasa dengan dunia "glamour" dan "hura-hura" pada era Roy Evans mulai ditertibkan.
Pada akhirnya, Liverpool pun menduduki posisi ke-7 Premier League akhir musim 1998/1999 dan gagal berkompetisi di Eropa pada musim berikutnya.
Namun, pembenahan terus dilakukan oleh Houllier dan mendapat dukungan penuh dari manajemen Liverpool.
Pada awal musim 1999/2000, Houllier melakukan perombakan besar-besaran di Liverpool.
Musim panas itu, Paul Ince, David James, Jason McAteer, Rob Jones, Tony Warner, dan Steve Harkness dijual. Kemudian, Steve McManaman pergi dengan status bebas transfer ke Real Madrid.
Pada saat yang sama, delapan pemain baru direkrut, yaitu Sami Hyypiä, Dietmar Hamann, Stéphane Henchoz, Vladimír Šmicer, Sander Westerveld, Titi Camara, Eric Meijer, dan Djimi Traoré.
Pemain muda klub seperti Jamie Carragher, Michael Owen, dan Steven Gerrard juga menjadi pilar utama tim.
Fasilitas latihan Liverpool di Melwood dirombak total. Hasilnya pun mulai terlihat positif. Pada akhir musim 1999/2000, Liverpool berada di peringkat ke-4 Premier League.
Perubahan ini membuat para petinggi Liverpool yakin keputusan mereka memilih Houllier adalah pilihan yang tepat.
Walau demikian, banyak fans Liverpool yang menyayangkan perginya Steve McManaman ke Real Madrid karena pada akhir musim 1999/2000 McManaman sukses membawa Real Madrid menjadi juara Liga Champions.
Pembenahan kembali berlanjut pada tahun 2000 dengan perekrutan Markus Babbel, Nicky Barmby, Pegguy Arphexad, Grégory Vignal, Emile Heskey, Gary McAllister, Igor Bišćan, dan Christian Ziege, serta melepas David Thompson, Phil Babb, Dominic Matteo, Steve Staunton, Brad Friedel, dan Stig Inge Bjørnebye.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada musim 2000/2001 yang sukses, saat Liverpool memenangkan tiga gelar juara, yaitu Piala Liga, Piala FA, dan Piala UEFA, serta finis ketiga di Premier League, sehingga lolos ke Liga Champions.
"Saat Anda bermain di final Eropa, Anda mencari keabadian. Anak-anak ini telah menghasilkan permainan yang akan dikenang untuk waktu yang lama," ujar Houllier setelah membawa Liverpool menaklukkan Deportivo Alaves di Final UEFA Cup 2001.

Gerard Houllier mengangkat Trofi UEFA Cup usai membawa Liverpool menjadi Juara UEFA Cup 2001
Pada bulan Agustus 2001, Liverpool memenangkan Charity Shield melawan Manchester United dan Piala Super UEFA melawan Bayern Muenchen.
Gelar-gelar ini membawa optimisme bahwa Liverpool akan terus berjaya di Inggris dan Eropa.
Pada bulan Oktober 2001, setelah jatuh sakit di babak pertama pertandingan Premier League Liverpool dengan Leeds United, Houllier dilarikan ke rumah sakit untuk operasi darurat karena ditemukannya kondisi jantung yang bermasalah.
Dengan bantuan manajer sementara Phil Thompson, ia membimbing Liverpool ke posisi kedua di Premier League musim 2001/2002, yang saat itu merupakan rekor terbaik mereka di Premier League.
Houllier kembali menjadi manajer/pelatih aktif klub setelah lima bulan, meskipun kondisi jantungnya melemah.
Meski begitu, pada pertengahan musim 2001/2002 ini pula Gerard Houllier terlibat konflik panas dengan Robbie Fowler.
Fowler tidak terima dengan keputusan Houllier yang kerap mencadangkannya. Bahkan, Fowler menuduh Houllier menggunakan media untuk membuat opini publik yang buruk kepada Fowler.
Akhirnya, keputusan pahit diambil Fowler untuk meninggalkan klub Liverpool yang dicintainya dan pindah ke Leeds United.
Pendukung Liverpool terbelah dalam menyikapi kepergian Fowler ini.
Pada musim 2002/2003, Liverpool finis di posisi kelima di Premier League dan gagal lolos ke Champions League musim berikutnya setelah kalah dari Chelsea di pertandingan terakhir.
Para kritikus menyalahkan kegagalan Houllier dalam merekrut pemain pada musim panas tahun 2002, yaitu El Hadji Diouf, Salif Diao, dan Bruno Cheyrou, serta kegagalannya untuk mempermanenkan status pinjaman Nicolas Anelka demi merekrut Diouf yang tidak bersinar.
Pada bulan Maret 2003, Liverpool mengalahkan Manchester United 2–0 di Final Piala Liga.
Pada bulan Oktober 2003, Houllier menunjuk Steven Gerrard sebagai kapten klub menggantikan Sami Hyypia.
Dan pada akhir musim 2003/2004, Liverpool berada di peringkat ke-4 Premier League.
Kondisi ini membuat hubungan Houllier dengan petinggi Liverpool memburuk karena kembali gagal membawa Liverpool menjuarai Premier League. Ditambah lagi, suporter Liverpool yang berpandangan miring kepadanya.
Akhirnya, pada 24 Mei 2004, Houllier mengakhiri kiprahnya bersama Liverpool setelah mengajukan pengunduran diri kepada manajemen Liverpool.
Posisinya kemudian digantikan oleh pelatih Spanyol, Rafael Benitez. Sang asisten, Phil Thompson, juga ikut mundur dari Liverpool.
Yang mengejutkan adalah kepergian Houllier dan Thompson dari Liverpool juga diwarnai keputusan manajemen melepas bintang utama sekaligus idola publik pendukung Liverpool, Michael Owen, ke Real Madrid pada awal musim 2004/2005.
Owen membantah kabar yang menyebut dirinya pindah karena Houllier pergi dari Liverpool, namun kepergiannya karena ingin merasakan kesuksesan menjadi juara Liga dan Liga Champions bersama Real Madrid.
Sebuah kisah ketika kedatangan Houllier di Liverpool disambut dengan "miring" dan kepergiannya juga dengan nuansa yang “dingin”.
Prestasi Houllier yang sukses membawa Liverpool menjadi juara Piala FA 2001, Piala Liga Inggris 2001 dan 2003, Piala Charity Shield 2001, Piala UEFA 2001, dan Piala Super UEFA 2001 seolah tidak terlalu berkesan bagi para pendukung Liverpool.
Dan dari kisah ini, petuah lama “Tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal” terbukti benar adanya.
Dari kisah ini kita belajar tentang kebesaran hati Roy Evans yang rela mundur dari Liverpool demi kebaikan klub yang dicintainya itu.
Dan setelah kepergian Roy Evans, Gerard Houllier sukses membawa Liverpool meraih beberapa gelar bergengsi di Inggris dan Eropa, walaupun tetap gagal meraih juara Liga Premier Inggris.
Pada 14 November 2020, Gerard Houllier meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Paris akibat sakit jantung yang dialaminya.
Mantan kapten Liverpool, Steven Gerrard, memberikan penghormatan kepada Houllier dengan mengatakan, "Dia lebih dari sekadar seorang manajer" dan bahwa dia membentuknya menjadi "pemain yang lebih baik, pribadi yang lebih baik, pemimpin yang lebih baik". WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga













Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda