Breaking News
Memuat breaking news...

Ketika Generasi Muda Terjerat Begal hingga Judol, Ini Jawaban Islam

Redaksi
Redaksi
Jumat, 16 Oktober 2026 - 1.30 PM WIB
Ketika Generasi Muda Terjerat Begal hingga Judol, Ini Jawaban Islam
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Nasruddin M.PdI (Cak Udin)

Malam tidak lagi menghadirkan ketenangan. Jalanan berubah menjadi arena kekerasan, tawuran, dan aksi begal yang pelakunya masih belia. Sementara di balik layar ponsel, anak-anak kita mabuk dopamin, terjerat judi online, hingga tega mencuri demi membeli narkoba. Negeri ini sedang sakit, dan yang paling parah adalah penyakitnya menyerang generasi penerus.

Potret Buram Generasi Muda
Lihatlah sekeliling kita. Anak-anak yang seharusnya sibuk belajar dan bermain, kini sibuk berputar mencari korban di jalanan. Mereka menganiaya, merampas, dan tidak segan melukai. Usia mereka masih belia, tetapi keberaniannya melebihi penjahat dewasa. Belum selesai soal begal dan geng motor, datang ancaman yang lebih senyap: judi online. Anak-anak mencuri uang orang tua, mengambil KTP untuk pinjaman online, lalu habis-habisan bertaruh demi menutupi utang. Mereka tidak sadar sedang digiring ke jurang.Dan narkoba pun berevolusi. Kini ada liquid vape yang mengandung zat terlarang. Tampilannya sama persis dengan liquid biasa. Orang tua tidak bisa lagi membedakan hanya dengan melihat.

Mabuk Dopamin
Ada satu penyakit yang jarang disebut: kecanduan dopamin. Scroll media sosial tanpa henti. Video pendek demi video pendek. Like, komentar, notifikasi. Semuanya dirancang untuk membuat otak terus mengemis sensasi. Anak-anak kita tidak lagi bisa duduk tenang. Mereka butuh hiburan instan setiap detik.

Dopamin ini kemudian menjadi pintu masuk segala kecanduan lain. Dari scroll, ke judi online. Dari judi, ke narkoba. Dari narkoba, ke tindak kriminal. Dan yang paling menyedihkan, banyak orang tua tidak menyadarinya karena mereka juga ikut tenggelam dalam layar yang sama.

Di Mana Peran Ayah dan Keluarga?
Inilah pertanyaan yang paling menyakitkan. Di mana ayah? Di mana keluarga?

Banyak anak tumbuh tanpa kehadiran ayah secara utuh. Ayah ada, tetapi hanya sebagai pencari nafkah. Pagi berangkat, malam pulang, tubuh lelah, pikiran penuh beban kerja. Anak ingin bercerita, tetapi ayah sudah tertidur. Anak ingin dipeluk, tetapi ayah sibuk dengan ponselnya sendiri. Yang tersedia hanya uang jajan dan pesan singkat: "Jangan nakal."

Padahal, ayah adalah sekolah pertama bagi anak. Dari ayah, anak belajar tentang keberanian, tanggung jawab, dan batas antara benar dan salah. Ketika ayah absen secara emosional, anak mencari figur lain. Dan figur yang tersedia di jalanan bukanlah figur yang mendidik.

Ibu juga tidak luput. Banyak ibu kelelahan mengurus rumah tangga, bekerja, dan menghadapi tekanan ekonomi. Anak-anak tumbuh dalam kesepian yang tidak terlihat. Mereka tidak kekurangan makanan, tetapi kekurangan perhatian. Mereka tidak kekurangan gadget, tetapi kekurangan percakapan.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama anak belajar tentang cinta dan nilai-nilai agama, kadang berubah menjadi tempat yang dingin. Komunikasi tergantikan oleh layar. Kehangatan tergantikan oleh jadwal yang padat.

Bagaimana Nabi Mendidik Sahabatnya
Inilah pertanyaan yang harus kita jawab dengan jujur: bagaimana Nabi Muhammad ﷺ mendidik para sahabatnya, sehingga lahir generasi terbaik yang pernah dikenal sejarah?

Pertama, Nabi mendidik dengan kepercayaan, bukan kecurigaan. Ketika banyak yang meragukan Usamah bin Zaid karena usianya yang masih muda untuk memimpin pasukan, Nabi tetap mempercayakannya. Nabi tidak melihat usia, melainkan kompetensi dan potensi. Kepercayaan itu melahirkan keberanian dan kematangan.

Kedua, Nabi mendidik dengan kasih sayang, bukan otoritas yang menakutkan. Nabi tidak pernah kasar, tidak mencela, tidak memaki. Beliau tersenyum, menyapa, dan membuat setiap sahabat merasa dihargai. Allah menegaskan: "Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." Pendekatan ini membuat para sahabat mencintai Nabi, bukan hanya menaatinya.

Ketiga, Nabi mendidik dengan perhatian pada individu. Nabi memberikan nasihat yang berbeda kepada sahabat yang berbeda, karena beliau mengenal setiap pribadi. Pendidikan yang efektif selalu personal.

Keempat, Nabi mendidik melalui teladan yang konsisten. Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Nabi, dan beliau menjawab: "Akhlak Nabi adalah Al-Qur'an." Apa yang Nabi ajarkan, itulah yang Nabi lakukan.

Kelima, Nabi membangun lingkungan yang mendukung. Masjid Nabawi bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan: tempat belajar, berlindung, berlatih kepemimpinan, dan memperkuat persaudaraan. Generasi emas lahir dari ekosistem yang konsisten.

Islam menawarkan jalan keluar. Bukan dengan memperbanyak seminar dan slogan, melainkan meniru apa yang Nabi ﷺ lakukan.
Pertama, ayah harus hadir secara utuh. Bukan hanya tubuh yang ada di rumah, tetapi hati dan pikiran yang menyertai. Nabi bermain dengan anak-anaknya, mencium cucunya di depan orang banyak, dan tidak malu menunjukkan kasih sayang. Ayah hari ini harus hadir bukan hanya untuk memberi nafkah, tetapi untuk menjadi contoh.

Kedua, keluarga harus menjadi madrasah pertama. Jangan serahkan sepenuhnya pendidikan agama ke sekolah. Nabi mendidik keluarganya langsung. Jika keluarga gagal, sekolah dan masjid akan kesulitan menambal.

Ketiga, muhasabah sebagai pembinaan konkret. Anak diajak rutin bertanya: apa yang aku lakukan hari ini? Apa yang aku perbaiki? Ini melatih regulasi diri, bukan sekadar kepatuhan pasif.

Keempat, masjid harus menjadi rumah kedua bagi remaja. Bukan tempat yang hanya hidup saat shalat berjamaah, lalu sepi. Masjid harus punya program yang menyentuh kebutuhan remaja: kajian, olahraga, pelatihan, konseling, ruang kreativitas.

Kelima, bangun ekosistem, bukan program lepas. Keluarga, sekolah, dan masjid harus bersinergi. Kalau ketiganya berjalan sendiri-sendiri, anak akan mencari "rumah" di tempat lain dan jalanan akan menyambut mereka.

Penutup
Negeri ini tidak butuh lebih banyak slogan. Negeri ini tidak butuh lebih banyak seminar.
Negeri ini butuh lebih banyak ayah yang kembali hadir. Negeri ini butuh lebih banyak keluarga yang kembali utuh.
Jika ayah kembali memeluk anaknya, jika ibu kembali mendengar ceritanya, jika keluarga kembali menjadi tempat pulang yang hangat, maka jalanan tidak akan lagi menjadi sekolah bagi generasi kita.
Tetapi jika kita terus sibuk dengan diri sendiri, dengan pekerjaan, dengan layar, maka bersiaplah. Generasi yang hilang akan menjadi warisan kita.Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis adalah Aktivis Dakwah dan Pemerhati Sosial

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement