Kiprah Hebat Timnas Indonesia Di Asian Games 1958

Oleh: Indra Efendi Rangkuti
Beberapa waktu terakhir muncul perdebatan, baik secara langsung maupun melalui media, tentang apakah Timnas Indonesia di masa lalu lebih hebat dan lebih baik dibandingkan Timnas Indonesia masa kini, atau justru sebaliknya.
Banyak argumen yang muncul, sayangnya tidak disertai alasan, fakta, dan dasar pemikiran yang kuat. Bagi saya, prestasi Timnas Indonesia pada setiap periode memiliki track record yang baik dan seharusnya tidak diperdebatkan secara emosional, apalagi jika lebih bersifat subjektif daripada objektif.
Ketika Timnas Belanda menjadi juara Piala Eropa 1988 di Jerman, muncul pertanyaan dari wartawan kepada bintang utama Belanda ketika itu, Marco van Basten, apakah Timnas Belanda 1988 lebih hebat dibandingkan Timnas Belanda yang menjadi runner-up Piala Dunia 1974.
Van Basten menjawab, “Timnas Belanda di bawah komando kapten tim Johan Cruyff akan tetap menjadi yang terbaik dalam sejarah sepakbola Belanda. Kami hanya mendekati kehebatan mereka dan merekalah sesungguhnya yang menjadi inspirasi kami.”
Ketika Brasil menjadi juara Piala Dunia 1994 setelah “puasa gelar” selama 24 tahun, muncul pertanyaan kepada Edevair de Souza Faria, ayah dari bintang utama Brasil di Piala Dunia 1994, Romário. Pertanyaannya adalah apakah Romário sudah selevel dan layak disejajarkan dengan legenda Brasil yang membawa negaranya juara Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970, Pelé. Edevair menjawab, “Pelé adalah legenda dan pahlawan bagi warga Brasil. Tak ada yang bisa melebihi kharismanya di hati pecinta sepakbola Brasil.”
Begitulah sikap positif yang seharusnya ditiru dalam menilai prestasi sebuah tim sepakbola. Terkadang saya geli sendiri mendengar ujaran bahwa prestasi Timnas Indonesia di masa lalu “bukan apa-apa” atau “biasa saja” tanpa melihat fakta yang sebenarnya pada masa itu. Tentu, prestasi Timnas Indonesia layak diapresiasi karena setiap masa memiliki fenomena dan suasana tersendiri dalam perjalanan sejarahnya.
Perunggu di Tokyo
Salah satu kisah hebat Timnas Indonesia di masa lalu yang layak menjadi inspirasi adalah kiprah di Asian Games 1958 yang digelar di Tokyo, Jepang.
Prestasi meraih medali perunggu pada Asian Games 1958 merupakan pencapaian yang layak mendapat apresiasi dan penghargaan khusus dari seluruh pelaku maupun pecinta sepakbola Indonesia.
Sejak pertama kali berpartisipasi di Asian Games 1951, Timnas Indonesia terus mengikuti cabang sepakbola pada Asian Games 1954 dan 1958. Salah satu motivasi tinggi skuad Timnas Indonesia ketika itu adalah membuktikan bahwa Indonesia mampu sejajar dengan kekuatan-kekuatan utama sepakbola Asia, meski baru merdeka pada 17 Agustus 1945.
Pada Asian Games 1951 yang berlangsung di New Delhi, India, Timnas Indonesia yang dilatih pelatih asal Singapura, Choo Seng Quee, terhenti di perempat final setelah takluk 0-3 dari tuan rumah India.
Pada Asian Games 1954 di Manila, Timnas Indonesia yang dilatih pelatih asal Yugoslavia, Antun “Toni” Pogačnik, lolos ke semifinal. Sayangnya, Indonesia gagal meraih medali perunggu setelah dalam laga perebutan medali perunggu takluk dari Burma (Myanmar).
Setelah sukses lolos ke Olimpiade Melbourne 1956 dan nyaris lolos ke Piala Dunia 1958, Antun “Toni” Pogačnik mencoba sejumlah bintang muda untuk memperkuat Timnas Indonesia di Asian Games 1958 yang berlangsung di Tokyo sebagai bagian dari regenerasi.
Beberapa bintang senior yang ketika itu sudah berusia di atas 30 tahun, seperti Ramli Yatim, Ramlan Yatim, Ramang, Djamiat Dhalhaar, Chaeruddin Siregar, Aang Witarsa, dan lainnya, tidak dipanggil.
Tidak dipanggilnya sejumlah bintang senior tersebut sempat mendapat kritikan keras dari pecinta sepakbola Indonesia. Apalagi, sosok-sosok senior tersebut telah bertahun-tahun menjadi pilar utama Timnas Indonesia dan membuat Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama sepakbola Asia pada masa itu. Namun, Antun “Toni” Pogačnik tetap teguh pada pendiriannya dan mendapat dukungan pemerintah serta pengurus PSSI ketika itu.
Walau demikian, beberapa bintang senior yang usianya masih di bawah 30 tahun tetap dipanggil Pogačnik. Mereka antara lain Maulwi Saelan, M. Rasjid, Thio Him Tjiang, Rukma, Kwee Kiat Sek, Phwa San Liong, Tan Liong Houw, dan lainnya. Mereka sekaligus menjadi pembimbing bagi bintang-bintang baru Timnas Indonesia seperti Saari, Bakir Goordy, Marjoso, Wowo Sunaryo, dan lainnya.
Skuad Timnas Indonesia terdiri dari Maulwi Saelan (PSM Ujungpandang, kapten), Paidjo (Persija Jakarta), Marjoso (PSIS Semarang), M. Rasjid (PSMS Medan), Thio Him Tjiang (Persija), Ashari Danu (Persema Malang), Kwee Kiat Sek (Persib Bandung), Rukma Sudjana (Persib Bandung), Iljas Haddade (PSM Ujungpandang), Sailan (Persija), Tan Liong Houw (Persija Jakarta), Phwa San Liong (Persebaya Surabaya), Suryadi (Persema Malang), Omo Suratmo (Persib Bandung), Saari (PSMS Medan), Bakir Goordy (PSMS Medan), Fattah Hidayat (Persib Bandung), Wowo Sunaryo (Persib Bandung), dan Hengky Timisela (Persib Bandung).

Kapten Timnas China,Korea Selatan dan Indonesia pada momen penghormatan peraih Medali Sepakbola Asian Games 1958
Menang atas Burma dan India
Indonesia tergabung di Grup B bersama India dan Burma (Myanmar).
Indonesia mengawali laga pertama melawan salah satu kekuatan sepakbola Asia Tenggara ketika itu, Myanmar, pada 25 Mei 1958.
Pertandingan berlangsung keras dan menarik. Indonesia unggul lebih dahulu melalui gol bintang Persib, Wowo Sunaryo, pada menit ke-16. Wowo kemudian menggandakan keunggulan Indonesia pada menit ke-19.
Unggul dua gol tidak membuat Timnas Indonesia mengendurkan serangan. Pada menit ke-31, Tan Liong Houw menambah keunggulan Indonesia menjadi 3-0.
Tertinggal tiga gol tidak membuat skuad Burma menyerah. Mereka berusaha membongkar lini pertahanan Indonesia. Hasilnya, pada menit ke-43, Myanmar mampu memperkecil ketinggalan setelah Samuel mencetak gol yang memperdaya Maulwi Saelan.
Hingga turun minum, Indonesia unggul 3-1.
Pada babak kedua, pertandingan berlangsung sengit. Kedua tim saling jual beli serangan. Burma pada menit ke-60 berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 2-3 setelah Tun Aung mencetak gol dari titik penalti.
Indonesia akhirnya menambah gol setelah bintang PSMS, Saari, sukses menggetarkan jala Burma pada menit ke-73. Hingga pertandingan berakhir, skor tidak berubah, 4-2 untuk keunggulan Indonesia.
Pada pertandingan kedua yang berlangsung 28 Mei 1958, Timnas Indonesia berhadapan dengan India.
Indonesia mendapat perlawanan sengit dari India yang pada pertandingan sebelumnya juga sukses menaklukkan Burma 3-2.
Indonesia membuka keunggulan pada menit ke-11 melalui aksi bintang Persija, Thio Him Tjiang.
Ketinggalan satu gol membuat India tersengat. Hasilnya, pada menit ke-35 striker India, Mohammad Rahmatullah, menyamakan kedudukan.
Skor imbang bertahan hingga turun minum. Pada awal babak kedua, Indonesia kembali unggul setelah Thio Him Tjiang mencetak gol keduanya pada menit ke-53.
Hingga pertandingan berakhir, skor tidak berubah, 2-1 untuk kemenangan Indonesia atas India.
Indonesia lolos ke perempat final sebagai juara Grup B.
Menaklukkan Filipina
Pada laga perempat final yang berlangsung 30 Mei 1958 di Tokyo Football Stadium, Indonesia berhadapan dengan runner-up Grup C, Filipina.
Pertandingan dua negara Asia Tenggara ini juga berlangsung sengit. Indonesia membuka skor setelah bintang PSMS Medan, Bakir Goordy, mencetak gol pada menit ke-20.
Saat Filipina masih berusaha bangkit, Wowo Sunaryo menggandakan keunggulan Indonesia pada menit ke-21.
Tertinggal dua gol membuat skuad Filipina tersentak. Hasilnya, pada menit ke-24, Filipina memperkecil ketinggalan melalui gol Ardeguer.
Ketika Filipina mencoba mengejar, Wowo Sunaryo kembali mencetak gol ketiga untuk Indonesia pada menit ke-30.
Skor 3-1 untuk Indonesia bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, Indonesia menambah keunggulan menjadi 4-1 setelah bintang PSMS Medan, Saari, mencetak gol pada menit ke-64.
Unggul 4-1 tidak membuat Indonesia puas. Pada menit ke-80, Wowo Sunaryo mencetak gol kelima bagi Indonesia.
Dua menit kemudian, Filipina berhasil mencetak gol tambahan. Skor 5-2 untuk keunggulan Indonesia bertahan hingga pertandingan berakhir sekaligus mengantarkan Indonesia lolos ke semifinal.
Gagal ke Final
Di semifinal yang berlangsung 31 Mei 1958 di National Stadium Tokyo, Indonesia berhadapan dengan China.
China lolos ke semifinal setelah pada perempat final menaklukkan Israel 2-0.
Sejak kick-off, kedua tim saling jual beli serangan. Namun, hingga turun minum tidak ada gol yang tercipta.
Pada babak kedua, pertandingan kembali berlangsung sengit. Kokohnya lini belakang Indonesia yang dikoordinasikan Kwee Kiat Sek dan M. Rasjid membuat serangan-serangan pemain China berhasil dipatahkan.
Namun, pada menit ke-67, bintang China, Chow Siu Hung, berhasil membobol gawang Indonesia.
Ketinggalan 0-1 membuat Indonesia tersentak dan mencoba membalas dengan serangan sporadis dan beruntun. Namun, hingga wasit meniup peluit panjang, skor tidak berubah, 1-0 untuk keunggulan China.
Indonesia pun, seperti pada Asian Games 1954, kembali gagal lolos ke final.
Menebus Kegagalan di Manila
Pada laga perebutan medali perunggu yang berlangsung 1 Juni 1958 di National Stadium Tokyo, Timnas Indonesia kembali berhadapan dengan India.
India sebelumnya takluk 1-3 dari Korea Selatan di semifinal. Indonesia dan India sendiri pernah bertemu pada penyisihan Grup B dan laga tersebut dimenangkan Indonesia 2-1.
Skuad Indonesia di bawah asuhan Antun “Toni” Pogačnik bertekad menebus kegagalan meraih medali perunggu di Asian Games 1954.
Tekad tersebut terlihat ketika para pemain Indonesia memasuki lapangan dengan wajah optimistis dan semangat tinggi.
Walau demikian, India tidak gentar menghadapi Indonesia yang sebelumnya mengalahkan mereka di penyisihan Grup B.
Sejak kick-off, kedua tim mencoba mengambil inisiatif serangan. Indonesia lebih dahulu membuka keunggulan melalui gol bintang PSMS Medan, Saari, pada menit ke-10.
Tertinggal 0-1, India mencoba menekan lini pertahanan Indonesia. Namun, kokohnya lini belakang Indonesia membuat serangan-serangan India berhasil dipatahkan.
Hingga turun minum, skor tetap 1-0 untuk keunggulan Indonesia.
Pada babak kedua, Indonesia mencoba tampil lebih agresif. Walau demikian, justru India yang berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-46 melalui eksekusi penalti bintang India, Tulsidas Balaram.
Skor 1-1 membuat Indonesia kian gencar menggempur lini pertahanan India.
Hasilnya, pada menit ke-59, bintang Persib, Omo Suratmo, berhasil mencetak gol kedua untuk keunggulan Indonesia.
Satu menit kemudian, bintang Persib, Wowo Sunaryo, mencetak gol ketiga untuk Indonesia.
Unggul 3-1 tidak membuat Indonesia mengendurkan serangan. Hasilnya, pada menit ke-88, Indonesia kembali menambah gol setelah bintang Persebaya, Phwa Sian Liong, berhasil menggetarkan gawang India.
Hingga pertandingan berakhir, skor 4-1 untuk kemenangan Indonesia tidak berubah. Indonesia pun memastikan diri meraih medali perunggu.

Medali Perunggu Asian Games III Tokyo 1958.
Kapten Indonesia Maulwi Saelan nampak sedang menerima medali, di belakangnya nampak Kiat Sek, Saari, Sian Liong, Fatah, Him Tjiang, Wowo, Suryadi, Tan Liong Houw dll
Tinta Emas Sejarah Sepakbola Indonesia
Hasil tersebut disambut ofisial, pelatih, dan seluruh pemain Indonesia dengan penuh “haru biru” karena berhasil menebus kegagalan di Manila emp
at tahun sebelumnya.
Keraguan karena Indonesia menurunkan bintang-bintang muda di Asian Games 1958 berhasil dijawab pelatih Antun “Toni” Pogačnik dengan prestasi hebat.
Hingga kini, prestasi meraih medali perunggu tersebut merupakan prestasi terbaik Timnas Indonesia di Asian Games.
Prestasi terbaik Indonesia di Asian Games setelah 1958 adalah lolos ke semifinal pada Asian Games 1986 di Seoul. Prestasi di Asian Games 1986 tersebut hanya menyamai pencapaian Timnas Indonesia di Asian Games 1954 yang digelar di Manila.
Di era milenium, prestasi terbaik tim sepakbola Indonesia di Asian Games adalah lolos ke babak 16 besar pada Asian Games 2014, 2018, dan 2022.
Prestasi meraih medali perunggu di Asian Games 1958 layak dicatat dengan “tinta emas” dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Terasa lebih istimewa lagi karena tiga legenda PSMS Medan, yakni M. Rasjid, Saari, dan Bakir Goordy, menjadi bagian dari prestasi hebat Timnas Indonesia di Asian Games 1958.

Legenda PSMS Medan M.Rasijd yang menjadi pemain inti Timnas Indonesia pada Olimpiade 1956 di Melbourne 1956 dan Asian Games 1958 di Tokyo
M. Rasjid bahkan mencatat prestasi khusus karena juga menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia ketika lolos ke Olimpiade 1956 di Melbourne.
M. Rasjid, Saari, dan Bakir Goordy bersama atlet renang Habib Nasution pada Asian Games 1958 mencatat sejarah sebagai atlet Sumatera Utara pertama yang meraih medali di Asian Games.
Habib Nasution meraih dua medali perunggu melalui nomor gaya bebas 200 meter putra dan estafet gaya ganti 4x200 meter putra. WASPADA.id
Penulis adalah pemerhati olahraga














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda