Breaking News
Memuat breaking news...

Kurban dan Gaya Hidup Konsumtif

Redaksi
Redaksi
Jumat, 29 Mei 2026 - 1.21 PM WIB
Kurban dan Gaya Hidup Konsumtif
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Farid Wajdi

Iduladha datang ketika dunia sedang mabuk konsumsi. Pusat perbelanjaan semakin penuh, iklan membanjiri layar telepon genggam, media sosial berubah menjadi etalase kemewahan, sedangkan manusia terus berlari mengejar sesuatu yang sering bahkan tidak benar-benar dibutuhkan. Kehidupan modern bergerak dalam satu ritme yang melelahkan: membeli, memamerkan, lalu menginginkan lebih banyak lagi.

Di tengah hiruk-pikuk semacam itu, kurban hadir seperti suara bening yang mengingatkan manusia agar berhenti sejenak dari kerakusan hidup.

Modernitas memang berhasil melahirkan kemajuan teknologi, kemudahan transaksi, serta kenyamanan material dalam skala besar. Namun bersamaan dengan itu, modernitas juga melahirkan manusia yang semakin sulit merasa cukup. Hasrat konsumsi tumbuh jauh lebih cepat dibanding kebutuhan hidup. Barang baru terus diproduksi, tren terus berubah, lalu manusia dipaksa mengikuti arus tanpa jeda refleksi.

Akibatnya, banyak orang tidak lagi membeli karena kebutuhan, melainkan demi citra sosial. Telepon genggam diganti bukan karena rusak, tetapi karena model terbaru telah muncul. Pakaian lama dianggap memalukan meski masih layak digunakan. Liburan bukan lagi ruang beristirahat, melainkan bahan unggahan demi memperoleh perhatian publik.

Sosiolog Amerika Thorstein Veblen (1899) menyebut fenomena tersebut sebagai conspicuous consumption, konsumsi yang bertujuan mempertontonkan status sosial. Perspektif itu terasa semakin nyata di era digital ketika kehidupan manusia berubah menjadi panggung pertunjukan citra. Nilai seseorang sering diukur dari apa yang dipakai, dikendarai, atau dipamerkan di media sosial.

Ironisnya, semakin banyak manusia memiliki sesuatu, semakin besar pula rasa kurang yang muncul. Kebahagiaan menjadi rapuh karena bergantung pada pengakuan orang lain. Ketika pujian menurun, kecemasan meningkat. Ketika tren berubah, identitas ikut goyah. Krisis terbesar masyarakat modern sesungguhnya bukan kekurangan materi, melainkan kehilangan kemampuan membatasi keinginan.

Dalam situasi seperti itu, kurban menghadirkan pesan yang sangat kontras. Islam justru mengajarkan pengurangan kepemilikan demi kepentingan sosial. Seekor sapi atau kambing yang dibeli dengan uang hasil kerja keras tidak disimpan untuk diri sendiri, tetapi dibagikan kepada masyarakat lain, terutama kelompok miskin yang jarang menikmati daging. Makna terdalam kurban tidak terletak pada darah yang mengalir, melainkan keberanian manusia memotong egoisme dalam dirinya.

QS. Al-Hajj (22): 37 memberikan penegasan sangat mendalam: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamu yang dapat mencapai-Nya.” Ayat tersebut memperlihatkan inti kurban bukan ritual fisik semata. Terdapat pendidikan spiritual yang sangat kuat: manusia harus belajar mengendalikan keterikatannya terhadap dunia.

Ketenangan Batin Langka

Karena itu, Iduladha sesungguhnya merupakan kritik terbuka terhadap gaya hidup konsumtif. Dunia modern mendorong manusia menumpuk kepemilikan, sedangkan kurban mengajarkan kebahagiaan melalui berbagi. Kapitalisme memuja akumulasi, sedangkan kurban menanamkan solidaritas sosial.

Ekonom Inggris E.F. Schumacher (1973) dalam Small Is Beautiful mengkritik peradaban modern yang menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama tanpa mempertimbangkan dimensi moral dan kemanusiaan. Manusia, menurut Schumacher, perlahan berubah menjadi mesin produksi dan konsumsi. Kehidupan terasa sibuk, tetapi kehilangan kedalaman makna.

Kritik tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Banyak orang bekerja tanpa jeda demi mempertahankan gaya hidup yang terus meningkat. Waktu habis untuk mengejar target ekonomi, tetapi hubungan keluarga menjadi renggang. Rumah semakin mewah, tetapi percakapan semakin jarang. Teknologi semakin canggih, tetapi ketenangan batin justru semakin langka.

Kurban datang membawa arah yang berbeda. Islam tidak menempatkan manusia sebagai budak harta. Kekayaan hanya alat, bukan pusat kehidupan. Karena itu, pengorbanan dalam Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan moral agar manusia tidak tenggelam dalam kerakusan materi.

Pesan tersebut terasa semakin penting ketika ketimpangan sosial semakin tajam. Sebagian masyarakat hidup dalam kemewahan berlebihan, sedangkan sebagian lain berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar. Ada orang menghabiskan jutaan rupiah demi satu malam hiburan, tetapi menunda membantu tetangga yang kesulitan membeli beras.

Kurban menghadirkan kritik sosial yang sangat kuat terhadap realitas tersebut. Islam mengingatkan kekayaan tidak boleh berhenti pada segelintir orang. Harta memiliki tanggung jawab sosial. Karena alasan itu, pembagian daging kurban bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi simbol pemerataan kemanusiaan.

Pemikir Muslim asal Iran, Murtadha Muthahhari (1982), menjelaskan ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi sosial yang bertujuan membentuk manusia berkepribadian adil dan tidak egois. Spirit pengorbanan dalam kurban, menurutnya, merupakan latihan membebaskan manusia dari pemujaan terhadap materi.

Konsumtif juga tidak selalu berbentuk barang mewah. Sikap tersebut sering hadir dalam cara manusia memandang hidup. Banyak orang mengejar popularitas secara berlebihan, haus validasi digital, lalu mengukur harga diri berdasarkan jumlah pengikut dan tanda suka di media sosial. Kehidupan berubah menjadi kompetisi citra tanpa akhir.

Akibatnya, manusia semakin mudah merasa kosong. Kebahagiaan hanya bertahan sesaat sebelum muncul keinginan baru yang lebih besar. Dunia digital membuat manusia sibuk terlihat bahagia, tetapi sering kehilangan kedamaian batin.

Psikolog sosial Erich Fromm (1955) pernah mengingatkan manusia modern mengalami alienasi, keterasingan dari makna hidup akibat dominasi budaya materialistik. Kehidupan dipenuhi aktivitas memiliki, tetapi miskin pengalaman menjadi manusia yang utuh. Dalam keadaan seperti itu, kurban menghadirkan pelajaran penting tentang kesederhanaan dan empati sosial.

Tradisi kurban di Indonesia sesungguhnya menyimpan energi moral yang luar biasa. Warga berkumpul di masjid atau lapangan kampung, menyembelih hewan bersama, membagikan daging dari rumah ke rumah, lalu menikmati kebahagiaan kolektif yang sederhana. Tidak ada sekat sosial yang terlalu tegas pada hari itu. Rumah-rumah kecil ikut merasakan kebahagiaan yang sama.

Suasana semacam itu memperlihatkan agama tidak hanya berbicara tentang surga dan ritual individual. Islam juga berbicara tentang rasa lapar, ketimpangan ekonomi, serta martabat kemanusiaan.

Kesadaran Kemanusiaan

QS. Al-Ma’un (107): 1-3 bahkan memberikan kritik keras terhadap keberagamaan yang kehilangan empati sosial. Pendusta agama digambarkan sebagai orang yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli terhadap masyarakat miskin. Pesan tersebut menunjukkan ritual tanpa solidaritas sosial hanya melahirkan kesalehan yang hampa.

Karena itu, Iduladha dapat dibaca sebagai momentum “detoks spiritual” dari budaya konsumtif. Manusia diajak berhenti sejenak dari hasrat membeli, menikmati, lalu memamerkan kepemilikan. Kurban mengajarkan satu hal sederhana tetapi semakin langka dalam dunia modern: kemampuan memberi tanpa berharap pujian.

Pemikir Indonesia Kuntowijoyo (2001) menegaskan agama harus melahirkan transformasi sosial dan kesadaran kemanusiaan, bukan berhenti sebagai simbol ritual formal. Perspektif tersebut terasa sangat relevan ketika masyarakat modern semakin sibuk membangun citra sukses, tetapi melupakan kepedulian terhadap sesama.

Krisis konsumtif sesungguhnya merupakan krisis spiritual. Manusia kehilangan kemampuan merasa cukup. Padahal rasa cukup merupakan fondasi ketenangan hidup. Tanpa kemampuan mengendalikan keinginan, manusia akan terus hidup dalam kecemasan mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai.

Iduladha menawarkan pelajaran yang sangat penting: manusia tidak menjadi mulia karena banyak memiliki, melainkan karena mampu berbagi. Pengorbanan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk tertinggi kedewasaan moral. Nabi Ibrahim AS tidak diuji melalui sesuatu yang tidak dicintai. Pengorbanan justru hadir melalui sesuatu yang paling berharga dalam hidup. Pesan simboliknya sangat kuat. Manusia harus mampu mengendalikan keterikatan terhadap dunia agar tidak kehilangan nurani kemanusiaan.

Dunia modern mungkin akan terus bergerak semakin konsumtif. Iklan akan terus membujuk manusia membeli lebih banyak. Media sosial akan terus menciptakan standar hidup yang serba glamor. Namun Iduladha tetap menghadirkan pesan yang sederhana sekaligus mengguncang: hidup tidak hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi.

Barangkali dunia hari ini tidak benar-benar kekurangan kekayaan. Dunia modern justru lebih banyak kehilangan empati, kesederhanaan, dan kemampuan berbagi. Kurban hadir untuk mengingatkan manusia agar tidak kehilangan tiga hal tersebut.

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement