Kurban dan Keteladanan Kepemimpinan

Oleh: Farid Wajdi
Hari Raya Iduladha sering dipahami sebatas ritual penyembelihan hewan. Padahal, kurban memuat pesan sosial, moral, dan politik yang jauh lebih luas. Syariat tersebut menghadirkan pelajaran tentang keberanian mengambil risiko, kesiapan menahan kepentingan pribadi, serta kesediaan memikul tanggung jawab demi kemaslahatan bersama. Nilai seperti itu justru semakin relevan ketika masyarakat menghadapi krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin tampil penuh slogan, namun miskin pengorbanan. Jabatan dipakai sebagai alat memperbesar privilese, bukan sarana menghadirkan keadilan.
Al-Qur’an menggambarkan kisah Nabi Ibrahim AS sebagai fondasi spiritual ibadah kurban. QS. Ash-Shaffat (37): 102 memotret ujian berat saat Nabi Ibrahim menerima perintah menyembelih putranya. Peristiwa tersebut bukan sekadar kisah pengorbanan keluarga, melainkan pendidikan moral tentang loyalitas terhadap kebenaran. Nabi Ibrahim tidak memilih jalan mudah. Kepemimpinan lahir melalui keberanian menanggung konsekuensi. Sikap semacam itu semakin langka dalam kehidupan modern, terutama ketika banyak elite lebih sibuk menjaga citra dibanding menjaga amanah.
Kurban juga menyingkap perbedaan antara kekuasaan dan kepemimpinan. Kekuasaan dapat diperoleh melalui modal, pengaruh, atau manipulasi politik. Kepemimpinan menuntut keteladanan moral. James MacGregor Burns (1978) menjelaskan konsep transformational leadership sebagai kemampuan menggerakkan masyarakat melalui integritas, visi, serta pengorbanan demi tujuan kolektif. Gagasan tersebut selaras dengan spirit Iduladha. Seorang pemimpin tidak cukup sekadar memerintah. Kehadiran seorang pemimpin mesti memberi rasa aman, harapan, dan keberanian bagi masyarakat.
Krisis terbesar bangsa modern bukan sekadar kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan keteladanan. Korupsi tumbuh bukan hanya akibat lemahnya hukum, tetapi akibat hilangnya rasa malu serta pudarnya etika pengabdian. Jabatan politik berubah menjadi ruang transaksi. Kebijakan publik sering disusun demi kepentingan kelompok sempit. Anggaran negara diperebutkan seperti harta rampasan. Situasi seperti itu memperlihatkan kegagalan memahami makna kurban. Banyak orang ingin menikmati hasil kepemimpinan, tetapi sedikit yang rela berkorban demi rakyat.
Pembebasan Sosial
Nabi Muhammad SAW memperlihatkan model kepemimpinan berbasis pengorbanan sosial. Hadis riwayat Al-Bukhari menyebutkan Rasulullah memilih hidup sederhana meski memiliki kesempatan menikmati kemewahan. Keteladanan tersebut memperlihatkan jarak antara kepemimpinan profetik dan gaya hidup elite modern. Sebagian pejabat hidup dalam kemegahan, sementara rakyat berjuang menghadapi harga pangan, biaya pendidikan, serta tekanan ekonomi. Kurban seharusnya menjadi kritik moral terhadap kerakusan semacam itu.
Ali Syariati (1979) memandang ibadah dalam Islam tidak pernah terpisah dari misi pembebasan sosial. Kurban bukan ritual individualistik. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat luas, terutama kelompok miskin. Distribusi tersebut mengandung pesan penting: kepemimpinan harus menghadirkan keadilan distributif. Kekayaan tidak boleh berputar hanya di lingkaran elite. QS. Al-Hasyr (59): 7 mengingatkan agar harta tidak beredar di kalangan orang kaya saja. Pesan tersebut sangat tajam ketika ketimpangan ekonomi semakin melebar.
Dalam konteks sosial-politik Indonesia, semangat kurban dapat menjadi ukuran moral bagi pemegang kekuasaan. Seorang pemimpin sejati bersedia mengurangi kenyamanan pribadi demi kepentingan publik. Kebijakan populis tanpa keberpihakan nyata hanya melahirkan pencitraan. Rakyat tidak membutuhkan pidato panjang penuh retorika kosong. Masyarakat membutuhkan keberanian menghadirkan keadilan hukum, perlindungan ekonomi, serta akses pendidikan dan kesehatan.
Kepercayaan Publik dan Integritas Pribadi
Nurcholish Madjid (1992) pernah menegaskan pentingnya moralitas publik dalam kehidupan berbangsa. Kemajuan negara tidak cukup ditopang pembangunan fisik. Gedung tinggi, jalan tol, serta teknologi canggih tidak memiliki arti besar ketika mentalitas penguasa masih dikuasai kerakusan. Kurban mengajarkan disiplin moral: menahan ego, mengendalikan ambisi, dan mendahulukan kepentingan bersama.
Pelajaran penting lain dari kurban terletak pada keberanian menghadapi ujian. Nabi Ibrahim tidak melarikan diri dari tanggung jawab meski menghadapi cobaan paling berat. Kepemimpinan modern justru sering memperlihatkan gejala sebaliknya. Banyak pemegang jabatan menghindari risiko, mencari aman, lalu melempar kesalahan kepada bawahan. Ketika krisis muncul, rakyat menjadi tameng politik. Sikap seperti itu memperlihatkan lemahnya karakter.
Max Weber (1947) menjelaskan kepemimpinan karismatik lahir dari kemampuan menghadirkan kepercayaan publik melalui integritas pribadi. Karisma tidak sekadar lahir dari pidato atau popularitas media sosial. Karisma tumbuh melalui konsistensi moral dan keberanian mengambil keputusan sulit. Kurban mengajarkan fondasi tersebut. Seekor hewan disembelih bukan demi pertunjukan religius, melainkan simbol penghancuran keserakahan manusia.
Iduladha juga memuat kritik terhadap budaya konsumtif. Banyak elite mempertontonkan kekayaan secara berlebihan saat masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Media sosial dipenuhi gaya hidup mewah, kendaraan mahal, serta pesta kekuasaan. Fenomena tersebut melahirkan jarak psikologis antara penguasa dan rakyat. Kurban menghadirkan pesan tandingan: kemuliaan tidak diukur melalui akumulasi materi, melainkan melalui kesediaan berbagi.
QS. Al-Hajj (22): 37 menegaskan darah dan daging hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan manusia. Ayat tersebut menempatkan substansi moral di atas simbol formal. Kritik paling keras dalam Islam selalu diarahkan kepada kemunafikan sosial: tampilan religius tanpa integritas. Banyak orang terlihat saleh dalam ruang ibadah, tetapi gagal menghadirkan kejujuran dalam ruang publik. Fenomena seperti itu menjadi ironi besar kehidupan modern.
Kepemimpinan berbasis kurban menuntut keberanian melawan budaya korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan. Pengorbanan tidak selalu berbentuk materi. Seorang pemimpin terkadang perlu mengorbankan popularitas demi keputusan benar. Kebijakan adil sering tidak populer, tetapi sejarah selalu mencatat keberanian moral lebih lama dibanding popularitas sesaat.
Panggilan Peradaban
Dalam dunia pendidikan, semangat kurban juga perlu ditanamkan sejak dini. Generasi muda hidup di tengah budaya instan, kompetisi citra, serta obsesi popularitas digital. Kesuksesan sering diukur melalui jumlah pengikut media sosial, bukan kualitas integritas. Kurban mengajarkan kerja keras, kesabaran, dan tanggung jawab sosial. Tanpa pendidikan moral semacam itu, bangsa mudah melahirkan generasi pintar tetapi miskin empati.
Iduladha bukan sekadar agenda tahunan umat Islam. Perayaan tersebut merupakan panggilan peradaban. Bangsa membutuhkan pemimpin berjiwa pengorbanan, bukan penguasa pemburu fasilitas. Rakyat membutuhkan teladan, bukan sekadar slogan religius. Kurban mengingatkan satu pelajaran mendasar: kepemimpinan sejati selalu menuntut keberanian memberi lebih banyak dibanding menerima.
Sejarah membuktikan bangsa besar lahir dari karakter pemimpin yang rela berkorban demi masyarakat. Ketika pengorbanan hilang, kekuasaan berubah menjadi arena perebutan keuntungan pribadi. Saat keteladanan runtuh, kepercayaan publik ikut hancur. Iduladha hadir sebagai alarm moral agar manusia kembali memahami hakikat amanah. Jabatan bukan simbol kemuliaan, melainkan ujian berat tentang tanggung jawab, kejujuran, serta keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Kurban merupakan penyembelihan keserakahan, egoisme, dan ambisi kekuasaan. Dari sana lahir kepemimpinan bermartabat, adil, serta berpihak kepada kemanusiaan.
Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda