Kursi Roda, Santunan, dan Harapan yang Mengalir di Blang Dalam

“Kadang, yang paling berarti bukanlah besarnya bantuan, melainkan hadirnya kepedulian di saat seseorang merasa tak berdaya. Kursi roda itu bukan sekadar alat, melainkan sayap kecil yang mengangkat kembali harapan Abdullah.”
Di sebuah rumah sederhana di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Nisam, wajah Abdullah, 46, tampak bersemangat meski tubuhnya tak lagi mampu bergerak bebas. Stroke yang dideritanya telah merenggut kemampuan berjalan, membuat aktivitas sehari-hari menjadi penuh keterbatasan. Namun, Selasa (15/9/2026) itu, sebuah kursi roda baru dan santunan dana hadir sebagai cahaya kecil yang menyalakan harapan.
Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten Aceh Utara, Samsul, datang bersama rombongan untuk menyerahkan bantuan. Kursi roda itu bukan sekadar alat, melainkan simbol kepedulian yang nyata.
“Abdullah saat ini menderita stroke sehingga mengalami keterbatasan untuk beraktivitas dan berjalan secara normal. Karena itu, kami memberikan bantuan kursi roda untuk membantu mobilitas beliau,” ujar Samsul dengan nada penuh empati kepada Waspada.id, Senin (21/9/2026) siang.

Suasana penyerahan berlangsung hangat. Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, Wakil Ketua DPRK Aceh Utara H. Jirwani, Ketua Komisi I Tajuddin, S.Sos., serta Anggota Komisioner Baitul Mal Kariman, S.E., turut hadir, menambah rasa kebersamaan. Tak hanya kursi roda, Abdullah juga menerima santunan dana dan sembako — sebuah dukungan sederhana yang diharapkan mampu meringankan beban hidupnya.
“Semoga bantuan ini dapat bermanfaat dan memberikan kemudahan bagi Abdullah dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kami ingin Baitul Mal Kabupaten Aceh Utara selalu hadir di tengah masyarakat, memberikan kepedulian dan manfaat,” lanjut Samsul.
Baitul Mal Aceh Utara menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar menyalurkan bantuan, melainkan wujud kepedulian sosial yang berakar pada semangat kebersamaan. Melalui langkah kecil ini, mereka berharap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan tidak merasa berjalan sendiri.
Di Blang Dalam, kursi roda itu kini menjadi sahabat baru Abdullah. Ia mungkin tak lagi mampu melangkah dengan kakinya, tetapi kepedulian yang hadir membuatnya tetap bisa bergerak, tetap bisa berharap, dan tetap merasa bahwa hidupnya tidak pernah ditinggalkan. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda