Breaking News
Memuat breaking news...

Lebih dari 700 Anak Tidak Sekolah Siap Ikuti Pendidikan Jarak Jauh

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 4.27 PM WIB
Lebih dari 700 Anak Tidak Sekolah Siap Ikuti Pendidikan Jarak Jauh
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dan Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperluas akses pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) jenjang pendidikan menengah. Hingga Juli 2026, lebih dari 700 ATS telah terverifikasi siap kembali mengikuti pembelajaran melalui program tersebut.

Program PJJ menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia tetap memperoleh hak atas pendidikan yang bermutu sekaligus mempercepat penanganan ATS di berbagai daerah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa PJJ merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjangkau anak-anak yang selama ini belum memperoleh layanan pendidikan.

"PJJ adalah bentuk jawaban dari doa dan harapan. PJJ adalah jembatan meraih cita-cita. PJJ ini adalah bentuk negara menjemput bola, tidak hanya sekadar hadir, tetapi negara benar-benar menjemput bola," ujar Fajar dalam Coffee Morning bertajuk Lebih Dekat dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah di Jakarta, Kamis (30/7).

Menurut Fajar, penanganan ATS membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat. Melalui penguatan tata kelola PJJ, pemerintah berupaya membuka akses pendidikan bagi lebih banyak anak yang selama ini belum dapat mengenyam pendidikan formal.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan PJJ telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 119 Tahun 2014. Saat ini, pemerintah terus memperkuat tata kelola dan sistem penjaminan mutu agar layanan PJJ semakin berkualitas.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan PJJ dirancang agar mampu menjangkau anak-anak yang terkendala mengikuti pendidikan reguler.

Untuk menjaga kualitas penyelenggaraannya, Kemendikdasmen bekerja sama dengan Universitas Terbuka dan SEAMEO SEAMOLEC dalam pengembangan pembelajaran serta penjaminan mutu. Proses belajar didukung melalui sekolah induk dan sekolah mitra dengan kombinasi pembelajaran sinkron, asinkron, serta pemanfaatan modul cetak dan digital.

"Kami berupaya menjangkau lebih luas lagi sehingga anak-anak yang selama ini belum mendapatkan layanan pendidikan bisa kembali belajar melalui PJJ. Sekolah yang menjadi induk merupakan sekolah dengan akreditasi A," ujar Tatang.

Hingga kini, Kemendikdasmen telah mengidentifikasi lebih dari 1.000 calon peserta PJJ. Setelah melalui proses verifikasi, sekitar 700 anak dipastikan merupakan ATS dan siap mengikuti program tersebut. Ke depan, pemerintah akan terus memperluas jangkauan PJJ melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

Salah satu peserta PJJ, Bagas William, sempat berhenti sekolah selama dua tahun setelah mengalami kecelakaan yang mengharuskannya menjalani operasi dan masa pemulihan. Kondisi tersebut membuatnya tidak dapat mengikuti pembelajaran reguler, namun tidak memadamkan semangatnya untuk kembali belajar.

"Saya mengikuti PJJ karena ingin mendapatkan pendidikan dan mencapai cita-cita menjadi wirausaha dengan berjualan online," kata Bagas.

Ibunda Bagas, Aas, mengaku bersyukur atas hadirnya program tersebut. Selama dua tahun mendampingi putranya menjalani pemulihan, ia terus memikirkan kelanjutan pendidikan anaknya.

"Selama dua tahun itu anak saya tidak sekolah karena fokus penyembuhan dan pemulihan. Saya terus berpikir bagaimana nanti kelanjutan sekolahnya. Saya senang sekali ada PJJ ini karena membantu anak saya bisa melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi," tuturnya.

Menutup kegiatan, Fajar menegaskan bahwa PJJ merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan adaptif agar tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh hak atas pendidikan.

"Kita ingin membangun suatu ekosistem pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Ujung dari proses ini adalah memastikan no child left behind," pungkasnya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement