Breaking News
Memuat breaking news...

LIMAH CERPEN AGUSNI AH

Redaksi
Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026 - 9.54 AM WIB
LIMAH CERPEN AGUSNI AH
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kali ini kembali menghadirkan kisah pilu yang dibalut nuansa misteri dan aroma mistis lewat sebuah cerpen berjudul “LIMAH”. Berbeda dari kisah-kisah sebelumnya yang banyak menyorot pergulatan batin, kehilangan, dan keretakan hubungan manusia, “LIMAH” tampil sebagai cerita yang merayap pelan dalam kesunyian malam, membawa pembaca masuk ke lorong kenangan, penyesalan, serta tanda-tanda ganjil yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh logika.

Cerpen ini berkisah tentang kepulangan seorang perempuan bernama Limah yang datang secara tiba-tiba setelah sekian lama menghilang dari kehidupan lelaki renta yang pernah begitu dekat dengannya. Kepulangannya bukan untuk menetap, melainkan sekadar pamit—sebuah pamit yang terasa ganjil, dingin, dan menyisakan banyak pertanyaan. Dalam suasana hujan malam, desir angin, serta remang cahaya lampu jalan yang menerobos daun pintu rumah tua, Limah hadir seperti bayangan masa lalu yang sekelebat datang lalu menghilang bersama gelap.

Melalui gaya bertutur yang lirih dan puitis, Agusni AH meramu suasana muram dengan sangat kuat. Pembaca seolah diajak duduk bersama tokoh lelaki tua itu, menunggu sesuatu yang tak pasti di tengah malam yang basah. Dialog-dialog pendek namun penuh makna menjadi kekuatan utama cerita ini, terutama ketika Limah menyampaikan pamitnya tanpa banyak penjelasan, seakan menyimpan rahasia besar yang tak sempat diungkapkan semasa hidupnya.

“LIMAH” bukan sekadar cerita tentang pertemuan kembali, melainkan juga tentang luka yang tak pernah benar-benar sembuh, tentang rasa bersalah yang diam-diam menetap, dan tentang manusia yang terkadang baru menyadari arti kehadiran seseorang setelah kehilangannya untuk selama-lamanya. Nuansa mistis dalam cerpen ini tidak tampil berlebihan, melainkan hadir halus melalui suasana, firasat, dan kejanggalan-kejanggalan kecil yang membuat bulu kuduk pembaca perlahan meremang.

Dengan kekuatan diksi yang sendu dan atmosfer yang pekat, Agusni AH kembali menunjukkan kepiawaiannya menghadirkan kisah yang tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga meninggalkan gema panjang di dalam batin pembaca. “LIMAH” menjadi semacam pengingat bahwa tidak semua kepulangan berarti kembali menetap; ada yang datang hanya untuk mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Berikut silahkan Anda baca LIMAH di bawah ini:

L I M A H

DESAU dedaunan disapu angin malam menyulam sunyi, rintik-rintik hujan turun perlahan menggenangi punggung bumi. Selintas aroma mistis menyeruak pelan-pelan menyosor ke dalam rumah lelaki renta yang duduk termangu di kursi tua. Ia acap duduk di balik daun pintu yang memang sengaja dibuka begitu saja, agar cahaya dari lampu-lampu di jalan bisa sedikit menerangi ruang rumahnya yang tanpa penerang listrik di dalamnya. Kecuali itu, atas alasan sebuah kesetiaan dalam penantian panjang, sejak isterinya hengkang ke negeri jiran--Malaya.

Ia sontak. Tiba-tiba pintu pagar rumahnya yang tanpa halaman itu berderit pelan.

Tak lama kemudian terpacak seorang perempuan di bibir serambi rumahnya, tak begitu jauh dengan posisi duduknya. Lelaki itu terkesiap dan gagap.

“Kau... Kau... Engkaukah, Limah...?”

Ia terperanjat, antara percaya dan tidaknya kepulangan Limah yang tanpa sinyal sebelumnya. Sangat tiba-tiba. Tanpa kabar apa pun, seperti halnya saat Limah berangkat meninggalkan rumah dua puluh tahun lalu. Limah tanpa berita. Terakhir kali lelaki itu mendapatkan berita dari seorang kerabatnya bahwa Limah sudah berkerja di sebuah perusahaan elektronik di sana, dan itu sudah sangat lama.

Kehadiran Limah membuat rasa di dadanya bercampur-aduk: antara haru dan bahagia. Kepulangannya sangat membuatnya merasa terharu. Ia juga sangat merasa bahagia. Sudah bertahun-tahun perempuan itu pergi meninggalkan rumah kecil itu tanpa kabar yang benar-benar pasti. Yang tertinggal hanya suara pertengkaran, sisa amarah, dan penyesalan yang mengendap seperti lumut menempel tebal di dinding ingatan.

Limah masih berdiri diam. Wajahnya pucat pasi diterpa cahaya lampu jalan yang remang-remang. Kerudungnya basah oleh hujan, sementara kedua matanya tampak sayu seperti menyimpan perjalanan penuh lika-liku yang sangat panjang.

Lelaki renta itu bangkit perlahan dari kursinya. Kakinya gemetar. Entah karena usia atau karena dadanya terlalu penuh oleh sejuta gejolak rasa yang mendadak datang menyerbu. Lelaki itu bagai terpasung oleh masa lalu dan keadaannya kini yang serba kepayahan.

“Masuklah, Limah... Hujan makin deras...!” Suaranya lirih dan parau.

Namun perempuan itu tak bergerak sama sekali. Ia hanya memandang lelaki tua itu lama-lama, lama sekali. Pandangan yang sulit diterjemahkan: antara rindu, sedih, dan sesuatu yang asing.

“Aku hanya ingin menjengukmu. Mungkin melihatmu untuk terakhir kalinya,” ucap Limah pelan.

Kalimat itu pendek, tetapi menghunjam begitu dalam ke dada lelaki renta itu. Bertahun-tahun ia menunggu kepulangan itu. Bertahun-tahun pula pikirannya melayang-layang dan membayangkan ribuan kemungkinan: Limah hidup bahagia dengan orang lain, Limah membencinya, atau bahkan Limah sudah mati entah di mana.

Kini perempuan itu datang dan benar-benar nyata berdiri di hadapannya.

“Aku masih tinggal di sini sejak kau pergi,” katanya dengan mata berkaca-kaca seraya ia memastikan, “tak ada yang berubah. Tak ada yang berganti. Bahkan kursi ini masih sama. Hanya saja fisikku yang kian melemah karena usiaku sudah renta.”

Limah tersenyum tipis. Senyum yang justeru tampak lebih menyakitkan daripada tangis.

“Waktu mengubah banyak hal,” jawab Limah lirih. Tentunya membuat lelaki itu kian nelangsa. Tubuhnya hampir-hampir limbung.

Angin malam meniup tirai jendela yang lusuh, menggerak-gerakkan daun pintu. Hujan terdengar makin rapat memukul-mukul seng rumah. Lelaki itu menatap wajah Limah lekat-lekat, seakan takut sosok itu akan kembali lenyap bila ia berkedip terlalu lama.

“Aku menunggumu setiap malam, kadang aku pikir kau akan pulang saat adzan Subuh sekaligus membangunkanku untuk ke masjid, kadang saat senja, kadang di malam seperti ini.”

Limah menunduk. Hingga bagian atas batang hidung dari wajahnya yang masih tampak ayu menjadi tertutup oleh juntai kerudung putih yang dikenakannya. Tubuh Limah mulai basah. Limah kuyup. Jemarinya yang pucat saling menggenggam erat.

“Aku tahu.”

Lelaki renta itu terdiam. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang membuat kuduknya meremang.

“Kau tahu, Limah tahu apa ?”

Perempuan itu mengangguk perlahan.

“Aku sering datang.”

“Datang ?” lelaki itu merbelalak bingung. “Tapi aku tak pernah melihatmu.”

Limah mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tampak basah oleh genangan yang sulit dimengerti.

“Kau selalu tertidur di kursi itu.”

Suasana mendadak terasa lebih dingin. Lelaki tua itu memandang Limah tanpa berkedip. Napasnya terasa berat.

“Di mana sebenarnya kau selama ini, Limah?”

Perempuan itu tidak segera menjawab. Ia justru melangkah satu tapak mendekati pintu. Aroma tanah basah dan bunga mawar bercampur gaharu menyeruak semakin kuat memenuhi ruang rumah yang gelap.

“Aku pulang untuk pamit,” akhirnya Limah bicara dengan nada lirih.

Dadanya seketika sesak. Berat. Bak ditimpa bongkahan batu.

“Pamit...? Jangan bilang begitu. Jangan pergi lagi. Aku sudah terlalu tua untuk kehilanganmu berulang kali, Limah.”

Limah tersungging samar. Senyum yang begitu tenang. Namun, sejurus kemudian dua bolamatanya menganaksungai, mengaliri air bening yang bertemali.

“Ya...Maaf kedatangan ini."

Petir menyambar di kejauhan. Dalam kilatan cahaya sesaat, lelaki renta itu melihat wajah Limah begitu pucat. Terlalu pucat untuk seorang manusia yang berdiri di tengah hujan malam.

"Ya, seperti malam ini di tengah hujan aku disambar kereta sepulang kerja. Tubuhku terlindas sebuah Proton.

Malam itu,

Hujan seperti ini."

Limah pun beranjak pergi. Tubuh lelaki renta itu mendadak lemas. Bibirnya bergetar hebat.

“Tidak... tidak mungkin...” Lelaki itu meronta.

Limah hanya memandangnya dalam diam.

“Aku sudah lama meninggal,” ucapnya lirih nyaris seperti bisikan angin.

Airmata lelaki tua itu runtuh tanpa suara. Lututnya gemetar. Selama ini yang ia tahu Limah di Malaysia.

“Aku minta maaf...” suaranya pecah. “Aku terlalu keras kepadamu sampai akhirnya kau pergi meninggalkanku, meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan rumah kecil kita.”

Limah tersenyum. Kali ini lebih hangat.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

Tangis lelaki renta itu pecah di tengah suara hujan. Ia ingin mendekat, ingin memeluk tubuh yang basah itu, ingin menggenggam tangan perempuannya, namun raga Limah tampak menyusut perlahan kabur bersama remang cahaya malam.

“Jangan pergi, Limah...!”

“Sudah waktunya kau beristirahat. Jangan lagi hidup bersama luka.” Suara itu makan samar.

Angin malam kembali berdesau. Parau. Pintu pagar berderit pelan seperti saat pertama kali terbuka. Dan ketika lelaki renta itu mengangkat wajahnya, serambi rumah telah kosong. Limah tak tampak lagi di mata.

Hanya hujan yang masih turun, semakin lebat.

Dan kursi tua itu kembali menemani kesendiriannya yang kini semakin menyesakkan kehidupan lelaki renta.***.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement