Breaking News
Memuat breaking news...

"Lotre" Kematian di Jalur Kereta Api

Redaksi
Redaksi
Rabu, 29 April 2026 - 8.31 AM WIB
"Lotre" Kematian di Jalur Kereta Api
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Empat belas jenazah bukan pecundang lotre—mereka hanya pulang kerja, percaya pada sistem yang seharusnya melindungi.

SENIN malam, 27 April 2026, Stasiun Bekasi Timur menjadi saksi tragedi pertama dalam sejarah perkeretaapian Indonesia: tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line. Empat belas nyawa melayang, 84 lainnya terluka. Ironisnya, masinis mengaku melihat sinyal hijau—yang ternyata "error". Nyawa manusia bukan bug software yang bisa di-patch.

Ini bukan tabrakan biasa, melainkan serangkaian domino yang jatuh. Beberapa menit sebelumnya, taksi listrik mogok di perlintasan ilegal 300 meter dari stasiun. KRL menabraknya, memblokir jalur. KRL korban terpaksa berhenti, lalu dihantam Argo Bromo yang melaju kencang, percaya pada sinyal hijau menipu. Tiga peristiwa, satu tragedi—seperti lotre kematian, tiketnya dibagikan gratis di rel-rel tanah air.

Bekasi Timur bukan fragmen pertama. Lihatlah tragedi Bintaro 1987: 156 tewas akibat miskomunikasi antar petugas. Tabrakan KRL Ratu Jaya 1993: 20 nyawa hilang karena tidak koordinasi. Daftarnya panjang, memorinya kelam. Di luar negeri, tragedi lebih dahsyat—Sri Lanka 2004, India 1981, Prancis 1917—tapi mereka bangkit, mengubah sistem, dan tidak mengulangi. Tapi Indonesia justru terjebak di time loop 1987, hanya korban yang berganti nama.

Fakta menyeramkan adalah 47 persen sistem persinyalan di Jawa masih manual, produk era kolonial. Di Sumatera terdata 99 persen. Di era AI, sinyal kereta masih diatur seperti zaman Hindia Belanda. Sistem CBI buatan anak bangsa baru 2 persen di Pulau Jawa. Automatic Train Protection (ATP) belum terpasang merata. ETCS yang dipakai kereta cepat Whoosh baru digunakan di LRT Palembang. Jaringan utama masih dicengkeram mimpi. Anggaran 2024 sebesar Rp 9,68 triliun memang terdengar besar, tapi untuk 3.703 perlintasan sebidang (927 ilegal), itu seperti meneteskan air ke lautan api.

Data 2020-2025 memilukan: 1.808 kecelakaan di perlintasan tanpa penjagaan, 1.522 korban jiwa. Rata-rata 10 kecelakaan per tahun diinvestigasi KNKT, tapi yang tak tercatat jauh lebih banyak. Seperti lotre yang diundi setiap hari. Hadiah utamanya: kematian.

Masalahnya bukan hanya teknologi, tapi mentalitas. Kita bangga punya Whoosh, tapi jaringan penopangnya masih menggunakan osiloskop era Soekarno. Sinyal hijau menipu di Bekasi Timur adalah metafora sempurna: kita terus diberi tanda "aman" oleh sistem yang sebenarnya sudah tidak aman.

Pakar transportasi Ki Darmaningtyas bilang ini masalah manajerial serius yang perlu diaudit. Tapi audit sudah berapa kali? Rekomendasi sudah berapa lembar? Hasilnya? Nihil. Kita seperti penumpang yang terus naik kereta rusak, berharap kecelakaan tidak terjadi pada kita. Itu seperti Russian roulette—permainan mematikan yang mengandalkan keberuntungan, bukan optimisme.

Empat belas jenazah adalah tiket lotre yang kalah. Tapi siapa yang membelinya? Mereka hanya pulang kerja, percaya pada sistem yang seharusnya melindungi. Mereka tak tahu di ujung rel, taksi mogok, sinyal error, dan kereta jarak jauh melaju dengan kepercayaan buta pada lampu hijau.

Kecelakaan bukan takdir. Di Jepang, kecelakaan di bawah 400 per tahun untuk 8 miliar penumpang, ketepatan waktu 99,9%. Bukan karena lebih beruntung, tapi karena mereka tidak bermain lotre dengan nyawa manusia. Mereka investasi pada sistem, keselamatan, dan protokol yang tak bergantung pada "semoga tidak terjadi".

Indonesia harus berhenti berjudi. Tutup perlintasan ilegal, modernisasi persinyalan, pasang ATP di seluruh jaringan, dan ubah mentalitas dari "yang penting kereta jalan" menjadi "yang penting penumpang selamat".

Rel-rel tua ini terlalu lama dan terlalu banyak menelan darah. Kini, tiket kematian masih terus dijual murah—di jalur yang seharusnya memberikan pelayanan, kenyamanan, dan keamanan. Kereta besi ini bukan arena judi, tapi moda transportasi: menjanjikan kepulangan, bukan kepergian tak terduga. KAI, introspeksilah. Jangan tunggu tiket lotre berikutnya atas nama orang yang Anda cintai. Karena saat nama itu terpanggil, sudah terlambat bagi Anda untuk menyesal.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement