Breaking News
Memuat breaking news...

Mahasiswa USU Borong Gelar Terbaik Di Pemilihan Duta Bahasa Sumut 2026

Redaksi
Redaksi
Senin, 20 Juli 2026 - 4.02 PM WIB
Mahasiswa USU Borong Gelar Terbaik  Di Pemilihan Duta Bahasa Sumut 2026
Kedua mahasiswa USUWaspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Panggung Pemilihan Duta Bahasa Sumatera Utara Tahun 2026 menjadi ruang pembuktian bagi mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dalam mengagungkan semangat kebahasaan. Melalui ajang tersebut, mahasiswa USU tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berhasil membawa pulang sejumlah capaian membanggakan. Gelar Terbaik I, Terbaik II, hingga Duta Bahasa Bertalenta berhasil diraih, menegaskan kiprah mahasiswa USU dalam menjaga bahasa Indonesia sekaligus merawat keberagaman bahasa daerah.

Pada ajang itu, Miftahussakdan yang mewakili Tanjungbalai dan Rani Febrina Br. Surbakti yang mewakili Karo sama-sama meraih gelar Terbaik I. Sementara Audrey Sulistioningtyas Putri Aliza, yang mewakili Medan, berhasil meraih Terbaik II. Tak berhenti di sana, Miftahussakdan juga dinobatkan sebagai Duta Bahasa Bertalenta, menambah deretan prestasi mahasiswa USU dalam ajang tingkat provinsi tersebut.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Kealumnian USU, Prof. Dr. Ir. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., IPU, menyebut capaian tersebut sebagai wujud nyata kualitas mahasiswa USU yang mampu hadir sebagai representasi generasi muda berprestasi sekaligus peduli pada isu kebahasaan dan kebudayaan. “Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi USU sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga bahasa, budaya, dan literasi di tengah perkembangan zaman,” sebut Prof. Agus.

Bagi Miftahussakdan, ajang Duta Bahasa bukan sekadar kompetisi untuk memperebutkan gelar. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan peran generasi muda dalam menjaga keduanya tetap hidup di tengah arus zaman. Hal ini tertuang dalam slogan Trigatra Bangun Bahasa, yaitu Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing. Ketertarikannya pada isu kebahasaan membawanya melangkah lebih jauh, hingga akhirnya berdiri sebagai salah satu peraih gelar tertinggi dalam ajang tersebut

”Saya ingin anak muda mengerti bagaimana penempatan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, khususnya di ruang publik. Selain itu, tentu saya tetap berpegang pada Trigatra Bangun Bahasa.

Perjalanan Sakdan, kerap disapa demikian, untuk meraih gelar tersebut tidak berlangsung. Ia harus melalui serangkaian tahapan seleksi seperti administrasi, seleksi tahap awal menguji kemampuan bahasa Indonesia dan bahasa asing, hingga seleksi tahap akhir yaitu wawancara. Tak sampai di situ, para peserta dibina melalui berbagai kelas daring, serta kesempatan untuk menciptakan program krida yang akhirnya dibawa pada karantina. Karantina berlangsung pada 2–5 Juli 2026 bertepatan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bangunan dan Lsitrik (BBPPMVP BBL) Medan.

Duta Bahasa adalah pengabdian. Tentang bagaimana kita sebagai anak muda dapat merealisasikan Sumpah Pemuda dan merealisasikan semangat kemerdekaan melalui pengabdian tersebut. Duta Bahasa tidak sekadar selebrasi pada final raya, tetapi bagaimana kontribusi yang akan lakukan setelahnya.

Sakdan menyoroti fenomena anak muda yang semakin sering mencampurkan bahasa asing ke dalam percakapan sehari-hari, padahal penggunaan bahasa asing seharusnya tetap disesuaikan dengan konteks, terutama di ruang publik. Ia juga mengingatkan pentingnya melestarikan bahasa daerah sebagai kekayaan bangsa agar tidak terancam punah.

"Penguasaan bahasa asing tentu penting, tetapi penggunaannya harus ditempatkan secara tepat. Bahasa Indonesia perlu diutamakan di ruang publik, sementara bahasa daerah harus terus dilestarikan agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman," ujar Sakdan.Bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah 718 bahasa merupakan kekayaan bangsa yang perlu terus dijaga keberlangsungannya. Dalam hal ini, peran generasi muda dinilai sangat penting untuk menghidupkan, menggunakan, dan melestarikan bahasa daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman hingga terancam punah. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement